Pendidikan Integrasi

Menuju Peringatan Hari Sindroma Down Dunia 2014 Di Bandung

Sudah beberapa bulan belakangan ini admin jarang nulis di blog, dikarenakan kesibukan kerja. Kali ini harus sedikit dipaksakan untuk menulis kembali mengingat akan ada perhelatan acara yang akan sangat ramai diikuti oleh anak-anak berkebutuhan khusus, guru-guru, dan para pemerhati pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Seperti judul yang sudah dipaparkan di atas, acaranya adalah : Hari Sindroma Down Dunia 2014 (World Down Syndrome Day 2014).

Sebetulnya hari sindroma down dunia ini harus nya diperingati setiap tanggal 21 di bulan ke 3 setiap tahunnya, paling tidak dihelat selalu di bulan Maret. Mau mencoba melihat keramaian acara ini saat tahun 2013 ? silakan cek disini. Tahun ini tidak dapat dihelat pas di bulan Maret karena tidak mendapatkan ijin keramaian oleh kepolisian, mengingat saat kemarin mendekati persiapan pemilu. Ahhh gara-gara lomba caleg nyari kursi acara untuk anak berkebutuhan khusus down syndrome ini harus tertunda.

Tahun ini akan acara ini akan dihelat pada :

Di save ya, terus kalian harus datang

Di save ya, terus kalian harus datang

Sudah jelaskan ya ? Bila ada yang ditanyakan silakan lewat kolom komentar, halaman Facebook, atau mention twitter.

 

Datang ya, tinggal seminggu lagi loh menuju acara.

 

#SalamLuarBiasa

Jangan lupa follow juga kami disini, dan disini,

Advertisements
Categories: Cerita-cerita Luar Biasa, Identifikasi & Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus, Inklusif, Pendidikan Inklusi, Pendidikan Integrasi, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Segregasi, Tips-tips menangani anak berkebutuhan khusus, Tunagrahita | Leave a comment

Menjelang Perayaan Hari Down Syndrome Sedunia 2013

Sudah lama tidak posting tulisan baru di blog karena kesibukan kerja. Semoga tulisan kali ini bisa banyak memberikan manfaat, terutama mengenai perayaan “world down syndrome day 2013“. Selamat membaca.

Sepulang dari kota Surabaya untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan saya kembali menuju Bandung, seperti biasa untuk menjalani kegiatan kerja sehari-hari menangani anak berkebutuhan khusus. Seorang kolega lama yang dulu merupakan teman sekolah menghubungi saya, dia bercerita ada teman sekantornya yang dikaruniai anak down syndrome. Teman sekantor dari teman saya ini adalah seorang ibu muda yang aktif dalam forum / komunitas orang tua dengan anak down syndrome.

Singkat cerita saya kemudian dikenalkan langsung oleh teman lama saya dengan ibu ini. Kemudian kami berkenalan dan bercerita kesana kemari mengenai anak-anak yang saya tangani dan segala pengalaman kerja, beliau pun menceritakan seputar pengalamannya menangani anaknya yang mengalami down syndrome. Akhirnya sampai pada maksud utama, beliau menceritakan keinginannya untuk mengadakan perayaan hari down syndrome sedunia 2013 kali ini di kota Bandung, ini untuk pertama kalinya loh mau diadakan di Bandung.

Beliau ini bernama Ibu Rina, seorang ibu dari anak down syndrome yang aktif di komunitas “Persatuan Orang Tua Anak Down Syndrome” atau lebih dikenal dengan “Potads“. Bu Rina sangat aktif di “Potads” kota Bandung, dari mulai mengadakan kopdar (kopi darat) atau kegiatan parent support group untuk orang tua yang baru dikarunia anak down syndrome. Ibu Rina ini aktif sekali di PIK (Pusat Informasi Kegiatan) Potads kota Bandung, PIK ini sederhananya wadah cabang Potads di Bandung.

Nah hari perayaan Down Syndrome Sedunia 2013 setiap tahunnya selalu diperingati tanggal 21 Maret. Untuk tahun ini jatuh pada hari Kamis. Dengan pertimbangan kamis itu adalah hari kerja, maka acara yang direncanakan untuk merayakan hari down syndrome sedunia ini akan dilaksanakan pada hari Minggu, 24 Maret 2013. Di kota Bandung insyaallah akan diadakan di sepanjang Car Free Day Dago (Jl. Ir. H. Djuanda). Untuk titik kumpul dan start dilaksanakan Kantor Agro Wisata, Jl. Ir. H. Djuanda.

Acara dan kegiatan kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan adalah :

  • Kegiatan Jalan Santai Orang Tua dan anak-anak down syndrome
  • Talk show oleh para pakar pemerhati down syndrome
  • Pemeriksaan gigi gratis
  • Penampilan kreasi seni oleh anak-anak down syndrome
  • Serta kegiatan-kegiatan seru lainnya.

Acara ini diadakan dengan tujuan sebagai sosialisasi anak down syndrome dikenal luas oleh masyarakat banyak, harapannya adalah menjadi lebih peduli terhadap keberadaan anak down syndrome. Lebih jauh lagi bertujuan agar suatu saat anak-anak dengan down syndrome mendapatkan kesempatan dan hak sebagai warga negara Indonesia yang sama seperti masyarakat lainnya, dari mulai aksesibilitas publik, perlindungan hukum khusus bagi penyandang down syndrome, bahkan hingga kesempatan kerja.

Peserta acara ini adalah  anak-anak down syndrome dari berbagai penjuru kota Bandung, dari sekolah-sekolah luar biasa, sekolah inklusif serta klinik tumbuh kembang anak yang menangani anak down syndrome. Peserta lain tentu adalah orang tua masing-masing anak down syndrome itu sendiri, para mahasiswa yang kelak menangani anak down syndrome, serta para stakeholder yang peduli terhadap keberadaan anak-anak dengan down syndrome ini.

Untuk acara ini kami masih membutuhkan relawan dan relawati yang rela mau membantu kelangsungan acara ini, terutama para mahasiswa yang masih senang dengan berbagai kegiatan sosial. Yak karena ini memang kegiatan sosial, bukan bermaksud cari untung. Siapa saja yang berminat silakan hubungi teman saya yang menjadi koordinator relawan untuk acara ini : Deni Artha, dengan sosial media di @deni_artha & deniartha atau hubungi langsung no kontaknya : 085624628683.

Setelah kalian mendaftar kalian akan dihubungi untuk mengikuti rapat kegiatan pelaksanaan acara, seminggu atau 2 minggu sebelum acara. Ayo segera daftarkan diri kalian untuk menjadi bagian dari acara memperingati hari Down Syndrome sedunia.

Selain membutuhkan relawan dan relawati kami dalam melaksanakan acara ini juga membutuhkan donasi untuk menutupi segala biaya untuk melaksanakan acara ini, karena sekali lagi acara ini memang diadakan secara sosial dan dari modal niat semangat yang kuat tanpa sokongan dana yang mumpuni. Oleh karena itu bila teman-teman dari Kabar PLB ingin membantu acara ini secara materil berbentuk uang.

Donasi bisa ditransfer ke bendahara PIK Potads Bandung a.n Erlyta Septa Rossa ke bank BCA dengan no rekening : 7770141570 . Kemudian setelah itu bisa mengkonfirmasi kirimannya langsung ke ibu Rina di 085722117960 dan Mira 0817888940. Besar harapan kami teman-teman Kabar PLB bisa ikut membantu mensukseskan acara ini.  Jumlah donasi akan selalu diupdate dan dicatat pemakaian dan peruntukkannya.

Target donasi adalah untuk membeli 200 paket lunch dan 200 goody bag untuk anak-anak down syndrome, syukur-syukur bisa lebih ya. Amin.

Demikian sedikit cerita dan tulisan mengenai jelang perayaan kegiatan “World Down Syndrome Day 2013”, semoga bermanfaat dan bisa ikut membantu.

Izinkan saya tutup dengan tagline acara kegiatan nanti.

PAHAMI, TERIMA, DUKUNG MEREKA MENUJU MANDIRI

Categories: Cerita-cerita Luar Biasa, Pendidikan Inklusi, Pendidikan Integrasi, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Segregasi | Leave a comment

Sejarah Pendidikan bagi Tunanetra di Inggris bag-3

Diterjemahkan dari:

Education, Provision and Contemporary Issues

Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. Part I. London: David Fulton Publishers.

Oleh

Didi Tarsidi

McCall, S. (1999). “Historical Perspectives” dalam Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999, pp.2-13). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.

Sekolah bagi Anak-anak dengan Ketunaan Tambahan

Kesenjangan utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi tunanetra adalah kurangnya tempat yang cocok bagi anak-anak tunanetra yang menyandang kesulitan belajar (learning disabilities).  Pada tahun 1930-an, penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak ini terbatas pada Court Grange School di Abbotskerswell di South Devon, sebuah sekolah kecil berasrama yang didirikan pada tahun 1931 oleh National Institute for the Blind untuk 34 anak yang digambarkan sebagai “terbelakang” yang mempunyai kesempatan yang cukup baik untuk “reklamasi” (CTB/NIB, 1936).

Akan tetapi, pada tahun 1930-an dan bertahun-tahun sesudah itu, anak-anak yang menyandang keterbelakangan mental yang sangat parah dipandang sebagai tidak mampu didik.  The Ellen Terry Homes for Blind Mentally Defective Children (rumah penampungan anak tunanetra dengan ketunaan mental) mengakomodasi 30 anak “yang kondisinya sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat diberi pendidikan” (CTB/NIB, 1936).  Anak-anak tunanetra yang mengidap epilepsi berat juga dikesampingkan dari sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra dan sejumlah anak tunanetra yang menyandang ketunaan lain yang berat tetap berada di luar sistem pendidikan hingga sesudah diberlakukannya Education (Handicapped Children) Act (Department of Education and Science, 1970).

Sebagai respon terhadap semakin meningkatnya kepedulian terhadap anak-anak ini, sebuah sekolah didirikan oleh National Institute for the Blind pada tahun 1947 di Condover Hall, sebuah rumah peninggalan abad ke-16 di daerah pedesaan Shropshire.  Kepala sekolah pertamanya, Stanley Oscar Myers, menjadi seorang tokoh yang sangat penting dalam pengembangan pendidikan bagi anak-anak tunanetra dengan ketunaan tambahan.  Sekolah tersebut pada awalnya hanya melayani 60 anak usia 7-16, tetapi pada tahun 1959, sebagai respon terhadap semakin meningkatnya tuntutan kebutuhan, RNIB membuka Rushton Hall School di Northamptonshire untuk anak-anak usia 7-11 tahun yang buta menurut pendidikan dan mempunyai ketunaan tambahan, dan Condover menjadi sekolah lanjutan bagi anak-anak kelompok ini yang berusia 12-17 tahun.  Pada tahun yang sama, “Pathways”, sebuah unit untuk anak-anak yang tunanetra-rungu (deaf-blind), didirikan di Condover (Myers, 1975).

Continue reading

Categories: Pendidikan Integrasi, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Segregasi, Tunanetra | Leave a comment

Sejarah Pendidikan Integrasi

Pada akhir abad ke-19 bentuk layanan pendidikan bagi ABK bergeser dari system segregasi di sekolah-sekolah khusus kepada munculnya kelas-kelas khusus di sekolah biasa. Ini merupakan suatu upaya menghindarkan isolasi ABK dari teman-temannya yang normal. Bentuk kelas ini semakin memasyarakat tidak hanya di Eropa, tetapi juga di Amerika Serikat dan di negara-negara lainnya.

Pada tahun 1960-an bentuk layanan pendidikan khusus yang terpisah dari pendidikan anak normal (segregasi) mulai dipertanyakan keefektifannya. Beberapa peneliti melihat kemanfaatan penyelenggaraan kelas khusus dengan membandingkannya dengan anak-anak tunagrahita ringan  dan gangguan emosi ringan yang tetap berada di kelas biasa tanpa layanan khusus. Kedua kelompok tersebut ternyata tidak berbeda,  berarti penyediaan layanan di kelas-kelas khusus tidak membawa manfaat sama sekali. Sunardi (1995) mengemukakan bahwa tulisan yang sangat berpengaruh sampai sekarang adalah tulisan Dunn (1968). Dengan mengutip hasil berbagai penelitian, Dunn menekankan bahwa penyelenggaraan kelas khusus bagi anak tunagrahita ringan tidak dapat dipertanggungjawabkan dan harus dihapuskan. Meskipun penelitian yang dikutip banyak mendapat kritik, tulisan tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan system layanan PLB selanjutnya, terutama dorongan agar ABK dapat belajar di kelas biasa bersama teman sebayanya yang normal. Salah satu hasil dari pengembangan ini adalah satu model yang memungkinkan seorang anak untuk tetap berada di kelas biasa sebagian waktu belajarnya dan menerima layanan khusus sesuai dengan kebutuhannya. Konsep inilah yang kemudian dikenal dengan mainstreaming.

Continue reading

Categories: Pendidikan Integrasi | Leave a comment

Konsep Pendidikan Integrasi

Istilah integrasi berasal dari bahasa Inggris integrate (kkt.: mengintegrasikan; menyatupadukan; menggabungkan; mempersatukan). Berdasarkan pengertian istilah  tersebut, maka pendidikan integrasi di Indonesia dikenal dengan pendidikan terpadu. Sekalipun ada tiga bentuk keterpaduan yang dapat ditemukan di Indonesia, yaitu keterpaduan antara berbagai jenis keluarbiasaan, keterpaduan antara anak luar biasa dengan anak normal, dan keterpaduan tersamar (sejumlah anak luar biasa yang berada di sekolah-sekolah umum, tetapi tidak memperoleh layanan pendidikan yang layak) (Sunardi, 1995:110), namun berdasarkan  Surat Keputusan Mendikbud No.002/U/1986 tentang pendidikan integrasi bagi anak cacat, Bab I pasal 1 poin (a) mengemukakan: “pendidikan integrasi adalah model penyelenggaraan program pendidikan bagi anak cacat yang diselenggarakan bersama anak normal di lembaga pendidikan umum dengan menggunakan kurikulum yang berlaku di lembaga pendidikan yang bersangkutan”.

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa program pendidikan integrasi merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi ABK dimana mereka belajar bersama-sama dengan anak normal dalam satu kelas, dengan guru, kurikulum dan pengelolaan yang sama dengan anak-anak pada umumnya di sekolah biasa. Mereka mengikuti pendidikan di sekolah biasa bersama-sama dengan teman-temannya yang normal. Namun demikian, meskipun mereka diintegrasikan ke sekolah biasa, mereka tetap memerlukan layanan pendidikan khusus sesuai dengan jenis dan tingkat kelainannya.

Continue reading

Categories: Pendidikan Integrasi | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

Wedding Ideas 2016

wedding, wedding rings, wedding cake, engagement, wedding dresses, bridal dress

Wedding Bridal Rings

dari segregasi, integrasi, lalu inklusi, kemudian apalagi ???

Wedding Rings and Bride Dresses

dari segregasi, integrasi, lalu inklusi, kemudian apalagi ???

Zullies Ikawati's Weblog

We've shared together