Sistem Penyelenggaraan Pendidikan bagi Tunanetra bag. 2

Diterjemahkan dari:

Education, Provision and Contemporary Issues

Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. Part I. London: David Fulton Publishers.

Oleh

Didi Tarsidi

Sistem Penyelenggaraan Pendidikan bagi Tunanetra 

Sekolah-sekolah Yang Dilengkapi Pusat Sumber

        Anak-anak tertentu yang membutuhkan tingkat dukungan yang lebih besar daripada yang dapat disediakan di sekolah lokal dapat pergi ke sekolah umum di tempat lain dalam jarak tempuh pulang hari, yang mempunyai pusat sumber khusus bagi anak-anak tunanetra.  Ketersediaan pusat-pusat sumber semacam ini di sekolah-sekolah umum bervariasi di seluruh Kerajaan Inggris, dan jenis penyelenggaraan pendidikan seperti ini melayani lebih banyak siswa di Wales daripada di England atau Skotlandia, dan lebih umum di sekolah menengah daripada di sekolah dasar (lihat Tabel 2.1).

 

Tabel 2.1

Persentase Anak tunanetra di Sekolah Umum Yang Mempunyai Pusat Sumber Khusus

(Clunies‑Ross & Franklin, 1996b)

                                                           

Wilayah                                                                 Umur

                                                       5‑10+                            11‑16

England                                    4%                                    7%

Wales                                            8%                                     19%

Scotland                                      6%                                     7%

Meskipun dapat berakibat bertambahnya biaya untuk transportasi bagi anak-anak, banyak LEA telah mengadopsi sistem ini, sebagian karena sistem ini memungkinkan dikonsentrasikannya sumber-sumber pembelajaran yang langka dan mahal itu di satu tempat sehingga menjadi lebih efisien.  Anak-anak biasanya menerima sebagian besar pelajarannya di kelas sekolah umum, tetapi akan menggunakan pusat sumber ini untuk mengambil, menyimpan, atau memproduksi materi dan untuk menerima pengajaran khusus tambahan.  Kadang-kadang, bila dipandang tepat, anak-anak itu mendapat dukungan dari guru spesialis atau asisten pendukung di kelas reguler (lihat Bab 41).  Pusat sumber itu menyediakan materi dan memasok peralatan yang diperlukan anak dalam setiap pelajaran.  Banyak anak yang buta secara pendidikan dan yang bersekolah di sekolah umum menerima bantuan seperti ini.  Beberapa sekolah khusus bagi anak-anak tunadaksa atau berkesulitan belajar berat yang diselenggarakan oleh LEA mempunyai pusat-pusat sumber bagi anak tunanetra dengan kecacatan tambahan.

Satu persyaratan penting bagi keberhasilan pusat sumber di sekolah umum ataupun di sekolah khusus adalah penerimaan dan dukungan penuh dari sekolah tuan rumah dan pengintegrasian pusat sumber tersebut ke dalam sekolah yang bersangkutan.

Sekolah Khusus Bagi Anak-anak tunanetra

Proporsi siswa-siswa yang bersekolah di sekolah khusus yang dirancang khusus bagi anak-anak tunanetra bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya, tetapi hanya merupakan bagian yang kecil saja dari keseluruhan populasi anak-anak tunanetra (lihat Tabel 2.2).

 

Tabel 2.2

Persentase Anak tunanetra di  Sekolah Khusus Bagi Tunanetra (Clunies‑Ross & Franklin, 1996)

 

Wilayah                                                       Usia

5‑10+                                   11‑16

England                                    7%                                        12%

Wales                                        2%                                        4%

Scotland                                   13%                                      25%

 

Pada saat ini terdapat 23 sekolah khusus bagi anak-anak tunanetra: 18 di England, lima di Skotlandia dan tidak ada di Wales.  Jadi, ada daerah yang mempunyai banyak pilihan sekolah khusus, tetapi ada pula daerah yang tidak mempunyai sekolah khusus.  Dengan tidak adanya perencanaan nasional (lihat Bab 1), sekolah-sekolah pada umumnya telah berkembang sendiri-sendiri dan tidak terkoordinasi secara formal ke dalam satu jaringan nasional ataupun regional.  Namun demikian, sekolah-sekolah itu dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok besar.

Pertama, terdapat sekolah-sekolah suasta yang mandiri, yang menerima siswa tunanetra dari seluruh negara atau dari daerahnya saja, dan biasanya menawarkan fasilitas asrama ataupun pulang hari.  Ada sekolah berasrama yang tutup pada akhir pekan, ada yang tutup pada hari-hari libur sekolah umum, dan ada juga yang menawarkan masa sekolah selama 52 minggu per tahun.  Sekolah-sekolah ini biasanya diselenggarakan oleh badan-badan amal seperti the Royal National Institute for the Blind, the Catholic Blind Institute, dan the Royal London Society for the Blind.  Sekolah-sekolah tersebut berbagai macam bentuknya, ada yang terbuka bagi anak-anak tunanetra dari semua kelompok usia dan tingkat kemampuan, dan ada pula yang khusus memberikan pendidikan bagi anak-anak tunanetra dengan kecacatan tambahan (lihat Bab 42).  Sebagian besar sumber dana sekolah-sekolah ini berasal dari uang sekolah yang dibayarkan oleh LEA dari daerah asal anak-anak itu.

Kedua, terdapat sekolah-sekolah khusus yang diselenggarakan oleh LEA.  Pada umumnya sekolah-sekolah ini merupakan sekolah pulang hari (day school), yang siswa-siswanya berasal dari daerah setempat (biasanya dari radius waktu perjalanan satu jam).  Pada saat ini hanya ada satu sekolah LEA yang mempunyai fasilitas asrama dan menerima siswa dari tingkat regional.

Meskipun terdapat upaya untuk sepenuhnya menghapus sistem sekolah khusus (Dessent, 1987), tetapi permintaan akan penempatan pendidikan di sekolah khusus ini tetap ada, baik dari berbagai LEA maupun dari para orang tua.  Sejumlah sekolah khusus bagi anak-anak tunanetra telah ditutup selama beberapa tahun terakhir ini, tetapi sekolah-sekolah yang masih bertahan terus memenuhi permintaan tersebut dan banyak di antaranya bahkan mengembangkan diri dengan menambah jenis layanan atau mengembangkan layanan-layanan alternatif.  Evolusi ini dapat berupa peningkatan kisaran usia atau kemampuan calon siswa, atau mempersempitnya ke arah spesialisasi yang lebih khusus.  Semua sekolah khusus kini melayani anak-anak yang buta secara pendidikan maupun yang kurang awas.

Populasi sekolah-sekolah khusus bagi anak dan remaja tunanetra pada umumnya telah bergeser secara signifikan selama 20 tahun terakhir ini dan telah terdapat peningkatan yang cukup besar dalam proporsi anak di sekolah-sekolah ini yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan khusus yang kompleks dan mengalami kesulitan tambahan dalam segi belajar, fisik, dan perilaku.  Banyak di antara sekolah-sekolah ini, akibat perubahan dalam populasi tersebut, telah merasa perlu melaksanakan retraining atau penempatan kembali staf pengajarnya, dan/atau pengangkatan staf baru dengan keahlian yang tepat.

Guru-guru di sekolah-sekolah khusus bagi anak-anak tunanetra diwajibkan untuk memperoleh kualifikasi sebagai guru bagi tunanetra dalam waktu tiga tahun pengangkatannya.  Kini masih sedang didiskusikan di tingkat pemerintah tentang masa depan dari persyaratan wajib tersebut, tetapi terdapat suara yang kuat dari mereka yang bekerja di lapangan agar persyaratan tersebut dipertahankan (lihat Bab 44).

 

Bentuk-bentuk Sekolah Khusus lainnya

Hingga 29% dari anak tunanetra usia sekolah ditempatkan di sekolah-sekolah khusus yang tidak dirancang sebagai sekolah bagi tunanetra.  Pada umumnya sekolah-sekolah khusus tersebut adalah untuk anak-anak penyandang kesulitan belajar (learning difficulties) tingkat sedang atau berat, atau sekolah bagi anak-anak tunadaksa.  Tabel 2.3 memberikan gambaran tentang jumlah siswa tunanetra di sekolah-sekolah ini secara nasiona

Tabel 2.3 Penempatan Pendidikan Anak-anak Tunanetra Di Sekolah-sekolah Khusus Nontunanetra (Clunies-Ross & Franklin, 1996)

Wilayah                                                 Usia

5‑10+                                       11‑16

England                                  29%                                          33%

Wales                                      31 %                                         31%

Scotland                                 18%                                          16%

 

Guru-guru di sekolah-sekolah ini tidak dituntut memiliki kualifikasi wajib, dan banyak sekolah tidak mempunyai guru spesialis tunanetra di kalangan stafnya (lihat Bab 32).  Diperkirakan sekitar 20% dari siswa di sekolah-sekolah bagi anak penyandang kesulitan belajar menyandang ketunanetraan yang signifikan, dan bahwa 90% dari siswa yang tunanetra dan yang menyandang kecacatan ganda berada di sekolah-sekolah yang tidak dirancang khusus bagi mereka (Griffiths & Best, 1996).

 

Penyelenggaraan Pendidikan Lanjutan

Setamatnya sekolah, semakin banyak siswa tunanetra mengikuti kursus di lembaga pendidikan lanjutan di daerahnya (lihat Bab 12).  Laporan Tomlinson (Further Education Funding Council [FEFC], 1996), satu penyelidikan pemerintah tentang penyelenggaraan pendidikan bagi siswa-siswa berkebutuhan khusus di lembaga pendidikan lanjutan (Further Education / FE), mendukung prinsip inklusi yang lebih besar, dan proporsi siswa yang tunanetra di lembaga-lembaga pendidikan lanjutan lokal kemungkinan akan meningkat bila rekomendasi laporan tersebut diimplementasikan.  Di England saat ini terdapat enam lembaga pendidikan lanjutan khusus bagi tunanetra yang berusia di atas 16 tahun, dan masing-masing menawarkan sejumlah program pelatihan dan rehabilitasi vokasional.  Dalam tahun-tahun terakhir ini lembaga-lembaga pendidikan tersebut telah mengalami perubahan yang dramatis dan, di samping melayani remaja tunanetra, kini kebanyakan juga melayani tunanetra dewasa.  Pendanaan bagi siswa-siswa di sektor pendidikan lanjutan ini berasal dari sejumlah instansi, tetapi pada umumnya berasal dari Dewan Pendanaan Pendidikan Lanjutan (Further Education Funding Council).

 

Standar Pendidikan Bagi Anak tunanetra

Standar pendidikan di sekolah-sekolah bagi anak-anak  yang tunanetra mendapat inspeksi dari Kantor Pengawasan Standar Pendidikan (the Office for Standards in Education [Ofsted]), dan dinilai berdasarkan kualitas pendidikan yang diberikannya, yang diukur dari pencapaian dan kemajuan siswa-siswa itu dalam bidang-bidang pengajaran yang ditetapkan dalam Kurikulum Nasional, serta perkembangan sosial, budaya, moral dan spiritual yang diberikannya kepada siswa-siswa itu, serta efisiensi sekolah yang bersangkutan.

Peraturan yang berlaku saat ini mengharuskan semua sekolah diinspeksi setiap empat tahun, yang menjadi enam tahun sesudah putaran inspeksi pertama.  Laporan tentang hasil inspeksi itu diumumkan kepada masyarakat dan tersedia di Internet.  Rangkuman laporan tersebut, termasuk temuan-temuan utamanya dan permasalahan kunci untuk ditindaklanjuti, dikirimkan ke semua orang tua yang anaknya belajar di sekolah yang bersangkutan, dan dewan pengurus sekolah itu bertanggung jawab untuk merumuskan rencana aksi untuk mengatasi permasalahan kunci yang disebutkan di dalam laporan itu.  Sekolah-sekolah yang dinilai gagal menyelenggarakan pendidikan yang memadai bagi siswa-siswanya dapat ditutup.

Dinas layanan guru kunjung dan guru advisoris dari LEA tidak tercakup di dalam sistem ini, meskipun terdapat dukungan dari berbagai LEA sendiri bagi tercakupnya dinas-dinas layanan ini di dalam sistem inspeksi itu (lihat Bab 44).

 

Sistem Penyelenggaraan Pendidikan Masa Depan

Menurut Boucher (1996), faktor-faktor yang akan mempengaruhi kebijakan dan sistem penyelenggaraan pendidikan di masa depan bagi kebutuhan pendidikan khusus mencakup: hak yang dilindungi undang-undang atas kurikulum yang luas dan seimbang, dibentuknya unit-unit otoritas kecil, persaingan antarsekolah, meningkatnya ukuran kelas-kelas di sekolah-sekolah umum, ditingkatkannya kemandirian finansial bagi sekolah-sekolah negeri, dan dikuranginya peranan LEA.  “Kesemuanya itu berdampak atau akan berdampak terhadap perencanaan strategis, ketentuan dan pendanaan bagi kebutuhan pendidikan khusus” (Boucher, 1996).

Layanan bagi anak-anak penyandang kecacatan insiden rendah sangat rentan selama masa perubahan sistem pendidikan yang radikal seperti ini.  Sejumlah profesional di bidang ketunanetraan merasa bahwa dalam iklim yang tak menentu ini perlu dilakukan kaji ulang secara seksama terhadap pengorganisasian dan pendanaan bagi layanan pendidikan bagi anak dan remaja tunanetra itu untuk menjamin agar kuantitas dan kualitas penyelenggaraannya dipelihara.

Sebagaimana telah dikemukakan pada bab terdahulu, upaya-upaya untuk membentuk kerangka organisasi yang koheren untuk pendidikan dalam bidang ini di masa lalu pada umumnya belum berhasil.  Dengan tidak adanya suatu strategi nasional, sistem penyelenggaraan yang ada akan terus dirasionalisasikan sebagai kekuatan-kekuatan penentu dan akan saling bersaing.  Sementara persaingan mungkin merupakan mekanisme yang baik untuk menjamin peningkatan mutu pelayanan dalam bidang-bidang pendidikan lainnya, namun dalam bidang kecacatan insiden rendah hal itu diragukan. Duplikasi dalam penyelenggaraan dan pengadaan sumber-sumber untuk jenis kecacatan insiden rendah yang melebihi keperluan, sekedar demi menjamin adanya berbagai pilihan, dapat dipandang sebagai penghamburan, terutama dalam konteks di mana terdapat ketidakseimbangan nasional dalam ketersediaan dan kualitas layanan.

Tampaknya perlu ada suatu perencanaan nasional untuk pengkoordinasian berbagai bentuk layanan untuk menjamin konsistensi kuantitas dan kualitas pada tingkat nasional, regional dan lokal.  Best (1996) mengusulkan dibentuknya suatu kelompok atau jaringan kerja antarpenyelenggara layanan yang saling terkait, yang didanai secara regional.  Suatu reorganisasi penyelenggaraan layanan berdasarkan pemikiran ini akan melibatkan negosiasi yang kompleks, dan awal dari proses ini sudah dapat terlihat dalam upaya Pemerintah ke arah regionalisasi.

Categories: Pendidikan Segregasi, Tunanetra | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Zullies Ikawati's Weblog

We've shared together

Tinta Emas Guru

goreskan semua pengalamanmu agar semakin bermanfaat. guruabk.wordpress.com

Gadis Ransel

Travel is my soul

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Anotasi

Sekadar catatan saja...

%d bloggers like this: