Sistem Penyelenggaraan Pendidikan bagi Tunanetra bag. 1

Diterjemahkan dari:

Education, Provision and Contemporary Issues

Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. Part I. London: David Fulton Publishers.

Oleh

Didi Tarsidi

Sistem Penyelenggaraan Pendidikan bagi Tunanetra 

 

Kirkwood, R. dan McCall, S. (1999). “Educational Provision” dalam Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999, pp.13-21). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.

Pendahuluan

Bab ini menyajikan gambaran singkat tentang jenis-jenis penyelenggaraan pendidikan yang tersedia bagi anak dan remaja tunanetra di Kerajaan Inggris pada saat ini, dan upaya-upaya untuk mengenali kecenderungan-kecenderungan di masa mendatang.  Bab ini dimaksudkan bagi para pembaca yang belum mengenal benar bidang ini dan merupakan latar belakang bagi bab-bab lain dalam buku ini.

 

Populasi Tunanetra

        Jumlah yang persis anak tunanetra di Britania sulit diukur.  Tidak adanya definisi ketunanetraan yang disepakati secara umum (lihat Bab 6) mengakibatkan hasil setiap survey dapat dipertanyakan, dan masalah tersebut diperumit lagi oleh tidak adanya satu sistem identifikasi yang seragam.  Di England, Departemen Pendidikan dan Tenaga Kerja tidak lagi mengumpulkan informasi tentang anak-anak secara individual, dan informasi tentang anak-anak di Skotlandia dipegang oleh departemen-departemen yang menangani pelayanan sosial yang menyusun datanya dari dokumen pendaftaran yang dipegang oleh organisasi-organisasi ketunanetraan lokal.  Hanya di Wales statistik diselenggarakan secara sentral oleh pemerintah (Clunies‑Ross & Franklin, 1996a).  Estimasi jumlah selama dekade terakhir ini bervariasi dari 10.000 anak tunanetra dalam kisaran usia 3‑19 tahun (RNIB, 1992) hingga 22.000 anak yang “mengalami kesulitan melihat” pada kisaran usia 0‑15 tahun (Bone & Meltzer, 1989).  Estimasi jumlah yang paling baru adalah yang didasarkan pada data yang dikumpulkan oleh the Royal National Institute for the Blind (RNIB) pada tahun 1995 dari dinas-dinas pendidikan bagi tunanetra di Otoritas pendidikan Lokal (Local Education Authority / LEA).  Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat antara 19.000 hingga 20.000 anak hingga usia 16 tahun di England, Skotlandia dan Wales yang menyandang ketunanetraan.  Angka ini diperoleh dengan mengekstrapolasikan data yang diberikan oleh 106 LEA dan didasarkan atas sampel 76% dari total populasi kelompok usia tersebut (Clunies‑Ross & Franklin, 1996a).  Lebih dari 6000 (34,5%) dari anak-anak ini diidentifikasi sebagai menyandang kecacatan parah dan ganda di samping ketunanetraan.  Ini sebanding dengan temuan survey tahun 1992 yang mengestimasikan bahwa 56% dari anak-anak tunanetra menyandang satu kecacatan lain atau keadaan sakit yang permanen (lihat Bab 32).

Di samping anak-anak usia sekolah yang diidentifikasi dalam studi yang diselenggarakan oleh RNIB itu, LEA melaporkan bahwa terdapat hampir 1400 siswa usia 16 hingga 19 tahun yang menyandang ketunanetraan, yang lebih dari 40% di antaranya dilaporkan menyandang kecacatan ganda di samping ketunanetraan.  Akan tetapi, karena kini LEA hanya mendanai sebagian saja dari siswa-siswa pada tingkat pendidikan lanjutan, angka tersebut lebih rendah dari yang sesungguhnya.

Angka terakhir menunjukkan bahwa ketunanetraan menimpa 211 dari setiap 1000 anak hingga usia 16 tahun, dan oleh karenanya dipandang sebagai satu kecacatan “insiden rendah” (low incidence disabilities).  Ketunanetraan sebagai suatu insiden rendah pada anak-anak mempunyai implikasi yang signifikan bagi pendidikannya.  Misalnya ini berarti bahwa:

–       Ketunanetraan tidak menjadi bahan perdebatan yang hangat dalam perencanaan pendidikan tingkat nasional;

–       Anak-anak dengan jumlah yang kecil di suatu wilayah menimbulkan permasalahan bagi perencanaan di tingkat lokal dan akibatnya di wilayah-wilayah tertentu penyebaran guru-guru ahli dan sumber-sumber kependidikan khusus itu tidak merata.

Jenis-jenis Penyelenggaraan Pendidikan Saat Ini

        Penyelenggaraan pendidikan bagi anak dan remaja tunanetra saat ini terdiri dari berbagai jenis yang mencakup:

–       kelompok dukungan keluarga informal (informal family support groups);

–       playgroup atau taman kanak-kanak terpadu;

–       taman kanak-kanak khusus;

–       sekolah terpadu yang didukung oleh guru kunjung/layanan advisoris dari otoritas pendidikan lokal (LEA);

–       unit-unit khusus atau pangkalan-pangkalan sumber (resource bases) yang melekat pada sekolah umum;

–       sekolah khusus bagi anak-anak tunanetra;

–       bentuk-bentuk sekolah khusus lainnya, misalnya sekolah bagi anak-anak yang menyandang kesulitan belajar yang parah, sekolah bagi anak-anak tunadaksa;

–       lembaga pendidikan keterampilan lanjutan umum;

–       lembaga pendidikan keterampilan lanjutan khusus.

Penentuan pilihan jenis pendidikan oleh anak-anak tunanetra beserta keluarganya sejauh tertentu tergantung jenis yang terdapat di daerah tempat tinggalnya.  Terdapat banyak variasi dalam jumlah dan kualitas dukungan yang tersedia di seluruh Kerajaan Inggris, dan meskipun kebutuhan anak seyogyanya menjadi titik tolak dalam pengambilan keputusan tentang penempatan dan bentuk penyelenggaraan pendidikannya, tetapi keputusan itu juga dipengaruhi oleh pertimbangan tentang kondisi keuangan setempat dan pertimbangan-pertimbangan mengenai efisiensi penggunaan sumber-sumber yang ada.

 

Dukungan bagi Anak-anak Balita

        Kebanyakan LEA mampu menawarkan dukungan dan advis dari guru-guru spesialis bagi anak tunanetra yang berkualifikasi kepada para orang tua yang mempunyai anak tunanetra yang masih kecil.  Keterlibatan guru-guru tersebut bisa dalam berbagai bentuk, termasuk perencanaan dan pelaksanaan pengajaran pengembangan (developmental teaching), serta berperan sebagai penghubung dengan lembaga-lembaga pelayanan lain (lihat Bab 40 dan 41).  Guru-guru kunjung ini pada umumnya dapat mengunjungi keluarga-keluarga begitu diagnosis tentang ketunanetraan sudah dilakukan, dan biasanya mereka menerima rujukan dari dinas-dinas pelayanan medis, pendidikan dan sosial, dan kadang-kadang langsung dari orang tua sendiri.

Kebanyakan bentuk penyelenggaraan pendidikan pra-sekolah cenderung berlingkup lokal dan sering kali diselenggarakan paruh waktu di taman kanak-kanak LEA setempat atau di sebuah playgroup.  Dalam kedua bentuk penyelenggaraan tersebut, guru kunjung akan berkoordinasi dengan staf sekolah yang bersangkutan mengenai penempatan dan pemantauan kemajuan anak, menawarkan pelatihan dan advis kepada staf bila diperlukan.

Sejumlah sekolah khusus bagi anak tunanetra menawarkan program taman kanak-kanak dan menyelenggarakan layanan luar sekolah yang membantu keluarga-keluarga di wilayahnya yang mempunyai anak kecil yang tunanetra.  Bantuan tersebut dapat mencakup penyediaan informasi, asesmen, advis dan pelatihan, serta kesempatan untuk bertemu dengan para orang tua lain.

Bila anak memiliki berbagai kebutuhan yang kompleks, maka dukungan yang diberikan pun dapat sangat khusus.  Ini dapat berupa penyediaan sumber-sumber untuk anak-anak penyandang kebutuhan khusus di sebuah taman kanak-kanak di daerah tempat tinggal anak itu sendiri, pendirian sebuah pusat asesmen regional khusus atau mungkin sebuah sekolah khusus dengan fasilitas asrama.  Misalnya, terdapat dua sekolah Sunshine House yang diselenggarakan oleh RNIB yang melayani anak-anak dari usia 2 hingga 11 tahun, yang pulang hari maupun berasrama.

Pengaruh usulan untuk memperbanyak jumlah tempat di taman kanak-kanak terhadap pendidikan pra‑sekolah anak-anak tunanetra masih harus diteliti, tetapi jika intervensi dini tersebut ingin efektif, maka sistem pendanaan baru perlu memperhitungkan tingginya biaya penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak tertentu.

 

Sekolah Umum Local

        Pola pendidikan terpadu di England, Skotlandia dan Wales serupa, dan 59% dari anak-anak tunanetra usia sekolah dasar dan 46% dari anak-anak usia sekolah menengah belajar di sekolah umum (Clunies‑Ross & Franklin, 1996).  Dari sekitar 839 anak yang menggunakan Braille, semakin banyak yang belajar di sekolah umum, dan terdapat bukti yang menunjukkan bahwa kini jumlahnya mungkin sama dengan yang bersekolah di sekolah khusus bagi anak tunanetra.

Keberhasilan sistem sekolah terpadu ini tidak hanya tergantung pada tingkat dan keefektifan dukungan yang tersedia, tetapi juga pada kepribadian dan kemauan siswa-siswa tunanetra dan keluarganya serta sikap staf sekolah yang bersangkutan.  Bilamana penempatan di sekolah umum setempat merupakan pilihan yang disukai, maka tingkat dukungan bagi masing-masing anak tunanetra akan ditentukan oleh sebuah sistem asesmen formal sebagaimana diatur dalam Peraturan Pelaksanaan Departemen Pendidikan Kerajaan Inggris (DfE, 1994) yang terkait dengan pendidikan bagi anak-anak penyandang kebutuhan khusus yang dikembangkan dari Undang-undang Pendidikan (Education Act) 1993 (DfE, 1993).  Anak-anak dengan ketunanetraan yang parah biasanya mempunyai tingkat kebutuhan pendidikan khusus yang lebih tinggi, yang akan menentukan dukungan yang secara legal menjadi haknya.

Tobin (1990) menyatakan keprihatinannya tentang sulitnya memberikan mata pelajaran kurikulum tambahan seperti pelajaran mobilitas dan braille kepada siswa-siswa tunanetra di sekolah umum, yaitu siswa-siswa yang untuk belajarnya terutama menggunakan indera perabaan.  Akan tetapi, sudah diakui secara umum bahwa kebanyakan anak kurang awas (low vision) yang tidak menyandang kecacatan tambahan akan menerima pendidikannya di sekolah umum dengan dukungan guru spesialis kunjung.

Layanan guru advisoris (advisory teacher) atau guru kunjung bagi anak-anak tunanetra berbeda dalam struktur dan dalam peranannya (lihat Bab 40) dan perbedaan tersebut dapat mempengaruhi jumlah atau kualitas dukungan yang diterima oleh anak-anak itu.  Guru advisoris dari LEA sering mempunyai beban tugas yang jauh lebih berat daripada guru-guru advisoris di negara-negara lain, misalnya rasio guru-siswa 1:10 adalah normal di Amerika Serikat, Swedia dan Australia, sedangkan rasio antara 1:40 dan 1:60 sudah biasa bagi guru-guru advisoris bagi anak-anak tunanetra di Kerajaan Inggris (RNIB, 1990).  Sejumlah otoritas pendidikan lokal telah mereorganisasi dan mengefisienkan program layanan pendukungnya dalam beberapa tahun terakhir ini, sering dengan menggabungkan layanan bagi anak-anak tunanetra dengan layanan bagi anak-anak tunarungu, dan kadang-kadang dengan layanan bagi anak-anak tunadaksa atau berkesulitan belajar.  Tekanan ekonomi pada pemerintah lokal dan diciptakannya baru-baru ini unit-unit kecil otoritas baru telah mengakibatkan dikuranginya atau dibagi-baginya layanan-layanan di beberapa wilayah.

Categories: Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Segregasi, Tunanetra | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Zullies Ikawati's Weblog

We've shared together

Tinta Emas Guru

goreskan semua pengalamanmu agar semakin bermanfaat. guruabk.wordpress.com

Gadis Ransel

Travel is my soul

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Anotasi

Sekadar catatan saja...

%d bloggers like this: