Sejarah Pendidikan bagi Tunanetra di Inggris bag-3

Diterjemahkan dari:

Education, Provision and Contemporary Issues

Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. Part I. London: David Fulton Publishers.

Oleh

Didi Tarsidi

McCall, S. (1999). “Historical Perspectives” dalam Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999, pp.2-13). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.

Sekolah bagi Anak-anak dengan Ketunaan Tambahan

Kesenjangan utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi tunanetra adalah kurangnya tempat yang cocok bagi anak-anak tunanetra yang menyandang kesulitan belajar (learning disabilities).  Pada tahun 1930-an, penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak ini terbatas pada Court Grange School di Abbotskerswell di South Devon, sebuah sekolah kecil berasrama yang didirikan pada tahun 1931 oleh National Institute for the Blind untuk 34 anak yang digambarkan sebagai “terbelakang” yang mempunyai kesempatan yang cukup baik untuk “reklamasi” (CTB/NIB, 1936).

Akan tetapi, pada tahun 1930-an dan bertahun-tahun sesudah itu, anak-anak yang menyandang keterbelakangan mental yang sangat parah dipandang sebagai tidak mampu didik.  The Ellen Terry Homes for Blind Mentally Defective Children (rumah penampungan anak tunanetra dengan ketunaan mental) mengakomodasi 30 anak “yang kondisinya sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat diberi pendidikan” (CTB/NIB, 1936).  Anak-anak tunanetra yang mengidap epilepsi berat juga dikesampingkan dari sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra dan sejumlah anak tunanetra yang menyandang ketunaan lain yang berat tetap berada di luar sistem pendidikan hingga sesudah diberlakukannya Education (Handicapped Children) Act (Department of Education and Science, 1970).

Sebagai respon terhadap semakin meningkatnya kepedulian terhadap anak-anak ini, sebuah sekolah didirikan oleh National Institute for the Blind pada tahun 1947 di Condover Hall, sebuah rumah peninggalan abad ke-16 di daerah pedesaan Shropshire.  Kepala sekolah pertamanya, Stanley Oscar Myers, menjadi seorang tokoh yang sangat penting dalam pengembangan pendidikan bagi anak-anak tunanetra dengan ketunaan tambahan.  Sekolah tersebut pada awalnya hanya melayani 60 anak usia 7-16, tetapi pada tahun 1959, sebagai respon terhadap semakin meningkatnya tuntutan kebutuhan, RNIB membuka Rushton Hall School di Northamptonshire untuk anak-anak usia 7-11 tahun yang buta menurut pendidikan dan mempunyai ketunaan tambahan, dan Condover menjadi sekolah lanjutan bagi anak-anak kelompok ini yang berusia 12-17 tahun.  Pada tahun yang sama, “Pathways”, sebuah unit untuk anak-anak yang tunanetra-rungu (deaf-blind), didirikan di Condover (Myers, 1975).

Pendidikan Guru

College of Teachers of the Blind (lembaga pendidikan guru bagi tunanetra) (CTB) merupakan tenaga pendorong bagi pengembangan metodologi pengajaran, dan hingga tahun 1950-an merupakan satu-satunya lembaga yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan guru bagi tunanetra secara profesional di Inggris.  Sebagian besar guru yang mengajar di sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra sudah berpengalaman mengajar di sekolah umum dan dipersyaratkan untuk memperoleh kualifikasi dari CTB sementara mengajar penuh waktu di posnya yang baru.

Program pendidikan pertama bagi guru-guru untuk anak-anak tunanetra yang diselenggarakan di sebuah lembaga pendidikan tinggi didirikan di University of Birmingham pada pertengahan tahun 1950-an.  Angkatan pertamanya terdiri dari enam orang mahasiswa yang mengikuti perkuliahan penuh waktu selama satu tahun untuk diploma.  Program tersebut, yang mula-mula berada di bawah kepemimpinan Myfanwy Williams, dan selanjutnya di bawah Elizabeth Chapman OBE, berkembang terus, dan pada tahun 1980-an program ini telah menyamai peranan CTB di tingkat nasional dalam pendidikan guru, menawarkan program pendidikan penuh waktu maupun perkuliahan jarak jauh hingga tingkat gelar bagi guru-guru dari seluruh Inggris dan seluruh dunia.

Pada tahun 1970, Research Centre for the Education of the Visually Handicapped (RCEVH) (pusat penelitian pendidikan tunanetra ) didirikan di University of Birmingham di bawah kepemimpinan Dr. Michael Tobin.  Di antara karya-karya pertamanya adalah penelitian ke arah penyederhanaan kode Braille dan studi longitudinal terhadap anak-anak yang tunanetra.

 

Pertumbuhan Sistem Integrasi

Sekitar tahun 1970, pendidikan bagi anak-anak yang tunanetra menjadi fokus kaji ulang lagi secara nasional.  Pengurangan yang tajam dalam jumlah anak yang buta menurut pendidikan, yang terjadi setelah kelompok anak pengidap RLF melewati masa sekolahnya, memunculkan tuntutan akan reorganisasi sistem penyelenggaraan pendidikan bagi anak tunanetra.  Kecemasan juga mulai muncul ke permukaan tentang sempitnya pilihan pendidikan yang tersedia bagi para orang tua untuk anak-anaknya yang menyandang ketunanetraan.

Perdebatan tentang pengintegrasian anak-anak tunanetra ke dalam sekolah umum memanas kembali ketika bukti mulai muncul dari eksperimen skala kecil yang melibatkan pengintegrasian anak-anak dari sekolah-sekolah berasrama untuk tunanetra ke sekolah menengah umum lokal.  Pada tahun 1961, sekolah khusus bagi tunanetra St. Vincent, sebuah sekolah berasrama Katolik untuk anak-anak tunanetra segala umur di Liverpool, mulai mengirimkan beberapa siswanya yang paling berprestasi ke sekolah dasar Katolik terdekat untuk belajar bersama-sama dengan anak-anak awas.  Anak-anak tunanetra tersebut didukung oleh seorang guru berpengalaman dari St. Vincent yang memberi advis kepada guru-guru kelas di SD itu tentang kebutuhan-kebutuhan khusus anak-anak tersebut dan membantu anak-anak itu dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya setiap malam bila mereka pulang ke St. Vincent.  Eksperimen serupa di Tapton Mount School di Sheffield dimulai pada tahun 1969 ketika empat orang anak yang pendidikan tingkat SD-nya ditempuh di sekolah itu melanjutkan pendidikan tingkat lanjutannya di sebuah sekolah lanjutan komprehensif setempat.

Hasilnya menunjukkan bahwa dengan tingkat dukungan yang tepat, anak-anak tertentu yang buta menurut pendidikan dapat berhasil secara akademik di sekolah umum.  Akan tetapi, pada saat itu keahlian dalam mendidik anak-anak yang tunanetra hampir secara eksklusif hanya ditemukan di sekolah-sekolah khusus, dan otoritas pendidikan lokal (Local Education Authority / LEA) tidak mempunyai banyak alternatif yang dapat ditawarkannya.      Pada tahun 1968, Margaret Thatcher, yang pada saat itu adalah Menteri Negara untuk Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, membentuk sebuah komisi untuk mempelajari berbagai kemungkinan pendidikan bagi tunanetra, yang diketuai oleh Profesor M. D. Vernon.  Pada saat itu penyelenggaraan pendidikan bagi tunanetra terdiri dari 18 sekolah khusus bagi anak-anak yang buta, 19 sekolah khusus untuk anak-anak kurang awas, dua sekolah yang mendidik kedua klasifikasi ketunanetraan tersebut, dan delapan sekolah umum yang menyediakan kelas-kelas khusus bagi anak-anak kurang awas.

Laporan tentang hasil penyelidikan tersebut diterbitkan pada tahun 1972 (DES, 1972), dan sejumlah rekomendasi dibuat mengenai pengembangan sistem pelayanan di masa depan.  Diusulkan agar sebuah rencana nasional dibuat untuk pendistribusian, pengorganisasian dan manajemen sekolah-sekolah khusus dan bentuk-bentuk layanan pendidikan lainnya untuk tunanetra.  Rekomendasi-rekomendasi lainnya mencakup pembentukan tim asesmen multidisipliner regional untuk anak-anak pra-sekolah, dan satu pengakuan bahwa anak-anak ini seyogyanya tidak dijauhkan dari rumah keluarganya.  Sebagai gantinya, komisi tersebut mengusulkan agar anak-anak pra-sekolah seyogyanya didukung oleh seorang guru kunjung (peripatetic teacher) yang ditugaskan oleh otoritas pendidikan lokal, yang akan mengunjungi anak-anak itu di rumahnya, memberi advis kepada orang tuanya dan memberi dukungan bagi pengintegrasian ke taman kanak-kanak setempat.

Rekomendasi tersebut segera dilaksanakan berkat keberhasilan sebuah layanan eksperimental yang telah dibentuk di wilayah Midlands.  Meskipun pada tahun 1950-an para kepala dan staf senior dari ketujuh taman kanak-kanak Sunshine House sudah mengadakan kunjungan rumah ke keluarga-keluarga bila diminta, namun layanan ini hanya diberikan kepada beberapa anak saja yang terkait dengan taman kanak-kanak tersebut.  Sebagai respon terhadap kecemasan yang diungkapkan pada tahun 1960-an oleh para kepala sekolah khusus bagi tunanetra tentang keterlambatan perkembangan di kalangan anak-anak yang masuk sekolah-sekolah khusus itu, kepala sekolah Lickey Grange School diberi izin oleh atasannya, Birmingham Royal Institution for the Blind, untuk menyelenggarakan program perintis untuk memberikan layanan kunjungan cuma-cuma bagi anak-anak pra-sekolah yang tinggal di dalam radius 50 mil di Birmingham.  Guru kunjung spesialis pertama yang khusus untuk anak-anak pra-sekolah beserta keluarganya ini adalah seorang mantan kepala sebuah taman kanak-kanak Sunshine House, Heather Jones, yang menduduki posisi barunya itu pada bulan Januari 1970.

Meskipun respon terhadap permintaan akan layanan ini dari LEA dirasakan lamban, tetapi banyak anak dirujuk melalui kontak pribadi, dan permintaan akan dukungan ini tidak hanya datang dari para orang tua, taman kanak-kanak dan kelompok bermain (playgroup), tetapi juga dari guru-guru di sekolah-sekolah umum lokal yang mempunyai murid yang tunanetra.  Dokter spesialis anak dan psikolog perkembangan di pusat-pusat asesmen yang baru berkembang dan unit-unit pengembangan anak di rumah-rumah sakit juga turut memberikan layanan, dan segera permintaan akan dukungan atau advis mulai diterima dari seluruh Inggris.  Pada tahun 1971, The Royal National Institute for the Blind (RNIB) sepakat untuk mengambil alih layanan advisoris ini dan mengangkat dua orang guru bagi tunanetra yang lebih berpengalaman untuk tugas tersebut.  Jumlah tim tersebut tumbuh terus untuk memenuhi permintaan nasional yang senantiasa meningkat.

Meskipun Laporan Vernon itu telah memperoleh respon yang luar biasa terhadap rekomendasinya tentang sistem integrasi, tetapi komisi yang diketuai oleh Prof. Vernon itu menyarankan agar dilaksanakan eksperimen lebih lanjut mengenai pendidikan anak-anak tunanetra di sekolah umum, baik dalam kelas reguler maupun kelas khusus.  Di samping itu, sementara RNIB memperluas layanan advisorisnya, beberapa otoritas lokal mulai mengangkat guru-guru advisorisnya sendiri.  Manchester dan Cleveland adalah di antara otoritas lokal pertama yang menyelenggarakan program layanan untuk mendukung anak-anak yang tunanetra di sekolah umum.  Sebagian besar dari “peri-peri” perintis itu diambil oleh LEA dari guru-guru yang berkualifikasi dari sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra.  Guru-guru ini sedikit demi sedikit mempertinggi tingkat dukungan lokal kepada para orang tua beserta anak-anaknya.  Fokus layanan ini pada awalnya adalah untuk memberi dukungan kkepada anak-anak pra-sekolah dan memberikan dukungan pengajaran bagi anak-anak kurang awas di sekolah umum.  Layanan ini meluas dengan cepat, dan di beberapa wilayah tim guru kunjung mulai menawarkan pengajaran dan dukungan advisoris yang mencakup semua kelompok usia dan semua tingkat kemampuan anak-anak yang tunanetra.

Warnock Report (DES, 1978) menyajikan hasil sebuah penyelidikan pemerintah tentang pendidikan bagi anak-anak penyandang kebutuhan khusus dan memperkuat kecenderungan ke arah pendidikan anak-anak penyandang kebutuhan khusus di sekolah umum.  Education Act 1981 (DES, 1981) menyebutkan bahwa anak-anak penyandang kebutuhan khusus seyogyanya memperoleh pendidikannya di sekolah umum setempat asalkan memperhatikan efisiensi penggunaan sumber-sumber yang ada.

Hal ini lebih mempercepat lagi peningkatan jumlah unit layanan advisoris LEA bagi anak-anak tunanetra pada tahun 1980-an.  Anak-anak kurang awas kini pada umumnya dididik di sekolah-sekolah umum, dan hal ini mulai berdampak pada penerimaan siswa baru bagi sekolah-sekolah khusus bagi anak kurang awas.  Selama akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an, sekolah-sekolah khusus bagi anak-anak kurang awas mengalami pengurangan peranan secara drastis dan banyak di antaranya harus tutup.  Beberapa yang bertahan mulai juga menawarkan layanan kepada anak-anak yang buta secara pendidikan, dan akibatnya perbedaan antara sekolah khusus bagi anak-anak yang buta dan sekolah khusus bagi anak kurang awas tidak ada lagi, karena sekolah-sekolah khusus yang bertahan itu kini melayani semua klasifikasi ketunanetraan dengan rentangan kemampuan yang lebih luas.

Sistem layanan guru kunjung tumbuh terus dan menjelang awal tahun 1990-an hampir semua otoritas pendidikan lokal di Britania sudah membentuk dinas layanannya sendiri.  Karena layanan tersebut beroperasi di sekolah umum, maka suatu gambaran yang lebih lengkap mulai muncul tentang populasi anak tunanetra.  Angka populasi tersebut terevisi terus.  Pada tahun 1990-an, berbagai laporan menunjukkan bahwa angka yang tepat adalah sekitar 19.500 anak, yang dua pertiganya diperkirakan menyandang ketunaan tambahan (lihat Bab 2 dan 32).

Meskipun sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra hanya melayani sebagian kecil dari 19.500 anak ini, tetapi penurunan dalam populasi beberapa sekolah ini tampaknya sudah mencapai titiknya.  Terdapat konsensus di kalangan para pendidik tentang perlunya terdapat berbagai jenis layanan di setiap wilayah, sehingga dapat menawarkan kepada para orang tua satu pilihan yang lebih mereka sukai di antara bermacam-macam jenis sistem penyelenggaraan pendidikan yang tersedia bagi anak-anaknya yang menyandang ketunanetraan.

Categories: Pendidikan Integrasi, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Segregasi, Tunanetra | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Zullies Ikawati's Weblog

We've shared together

Tinta Emas Guru

goreskan semua pengalamanmu agar semakin bermanfaat. guruabk.wordpress.com

Gadis Ransel

Travel is my soul

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Anotasi

Sekadar catatan saja...

%d bloggers like this: