Sejarah Pendidikan bagi Tunanetra di Inggris bag-1

Diterjemahkan dari:

Education, Provision and Contemporary Issues

Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. Part I. London: David Fulton Publishers.

Oleh

Didi Tarsidi

 

I.

Sejarah Pendidikan bagi Tunanetra di Inggris

 

McCall, S. (1999). “Historical Perspectives” dalam Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999, pp.2-13). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.  

 

Pendahuluan

Bab ini akan menyajikan sejarah singkat tentang perkembangan layanan pendidikan bagi anak dan remaja tunanetra di Inggris.  Penulis akan berusaha mengidentifikasi peristiwa-peristiwa kunci, tokoh-tokoh dan pengaruh-pengaruh yang telah membentuk sistem penyelenggaraan dan praktek pendidikan yang digambarkan di dalam buku ini.

Masa-masa Awal

Sekolah pertama bagi anak tunanetra di Eropa didirikan di Paris pada tahun 1784 oleh Valentin Hauy, tetapi jelas bahwa di berbagai bagian Eropa sejumlah kecil anak tunanetra sudah menerima pendidikan formal sebelum tahun tersebut, kadang-kadang di sekolah setempat bersama-sama dengan anak-anak yang awas.  Beberapa dari anak-anak tersebut, dalam masa kehidupannya selanjutnya, bahkan berhasil mencapai prestasi nasional maupun internasional dalam berbagai bidang kebudayaan dan akademik.  Salah seorang dari individu luar biasa ini adalah akademisi Inggris Nicholas Saunderson yang lahir pada tahun 1682 dan kehilangan penglihatannya pada masa bayinya karena cacar.  Dia dididik di sebuah sekolah di Penistone di Yorkshire dan menonjol dalam sastera klasik dan kemudian dalam matematika.  Dia selanjutnya masuk Cambridge University, di mana dia diangkat sebagai profesor dalam bidang matematika, dan meniti karir yang menonjol hingga meninggalnya pada tahun 1739 (Ritchie, 1930).

Contoh lainnya adalah pendeta terkemuka dan kepala sekolah di Skotlandia yang bernama Thomas Blacklock, yang meskipun buta sejak bayi, dididik di sebuah sekolah dasar biasa.  Dia banyak menulis puisi dan merupakan salah seorang sahabat pujangga Robert Burns.

Lowenfeld (1974) mengemukakan bahwa munculnya para “self-emansipator” pada awal abad ke-18 ini merupakan salah satu faktor yang mendorong minat orang terhadap pendidikan bagi orang-orang yang tunanetra.  Akan tetapi, contoh-contoh yang baik ini sesungguhnya merupakan topeng bagi keberadaan yang menyedihkan dari kemiskinan dan kebodohan yang merupakan nasib dari kebanyakan orang tunanetra di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19.

 

Sekolah Khusus dan Sekolah Umum Lokal

Selama masa-masa rusuh yang mengitari Revolusi Perancis, sekolah yang didirikan oleh Hauy itu untuk sementara luput dari perhatian orang, dan Hauy melanjutkan pekerjaannya di Berlin dan St. Petersburg di mana dia membantu mendirikan sekolah-sekolah khusus baru bagi tunanetra.  Selama dua dekade berikutnya sekolah-sekolah semacam ini berdiri di kota-kota besar lain di seluruh Eropa.

Sekolah khusus bagi tunanetra pertama di Inggris dibuka di Liverpool pada tahun 1891 dan diikuti oleh sekolah-sekolah di Edinburgh, Bristol, London dan kota-kota besar lainnya.  Pendirian sekolah-sekolah di Inggris tersebut dipelopori oleh badan-badan sukarela filantropis atau organisasi-organisasi keagamaan, dan sering dilengkapi dengan bengkel-bengkel kerja dan rumah-rumah khusus untuk tunanetra dewasa yang disebut “asylum” (rumah suaka).  Pada awalnya sekolah-sekolah ini terutama bertujuan mengajarkan keterampilan-keterampilan kerja, misalnya piagam pendirian sekolah Liverpool menyebutkan bahwa para tunanetra akan diberi pelajaran dalam bidang musik atau seni mekanik agar mereka dapat mandiri dan berguna bagi masyarakat (Best, 1992).

Meskipun sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra di Inggris sudah terorganisasi dengan baik sejak tahun 1860-an, tetapi sekolah-sekolah tersebut baru melayani sebagian saja anak-anak tunanetra yang membutuhkan pendidikan.  Menurut Hurt (1988), kampanye untuk mendapatkan pendidikan dasar bagi semua anak yang tunanetra dimulai pada tahun 1869.  Elizabeth Gilbert, puteri tunanetra dari Uskup Chichester, menggalang sebuah petisi yang menuntut agar anak-anak tunanetra tercakup di dalam perundang-undangan nasional tentang pendidikan dasar universal.

Pendidikan dasar universal diperkenalkan di Inggris pada tahun 1870.  Meskipun undang-undang tidak mewajibkan sekolah-sekolah umum lokal untuk mencakupkan di dalam penyelenggaraannya anak-anak yang tunanetra, tetapi anak-anak tunanetra dengan jumlah yang cukup besar diterima di banyak sekolah umum lokal.  Alexander Barnhill, dalam kata pengantarnya pada bukunya A New Era in the Education of Blind Children, or Teaching the Blind in Ordinary School (1875), mengatakan bahwa terdapat 50 anak tunanetra yang diajar dengan cara ini di Skotlandia dan hanya 102 diajar di lembaga-lembaga khusus bagi tunanetra.

Kelompok-kelompok penjaringan yang didirikan di banyak kota pada tahun 1830-an dan 1840-an untuk menjaring orang tunanetra dewasa untuk diberi pengajaran membaca, menemukan juga anak-anak tunanetra yang belum bersekolah.  Kota tempat tinggal Barnhill, Glasgow, tidak terkecuali.  Dia mengatakan bahwa di kotanya sendiri, di mana terdapat sebuah rumah suaka yang sangat baik, anak-anak seperti ini, dalam jumlah yang cukup besar, ditemukan tumbuh tanpa pendidikan – orang tuanya tidak mampu atau tidak berkeinginan memasukkannya ke lembaga-lembaga bagi tunanetra.

Barnhill berpendapat bahwa pendidikan bagi anak-anak tunanetra di sekolah biasa merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh pendidikan bagi semua anak tunanetra, dengan argumentasi sebagai berikut:  Banyaknya kesulitan atau tingginya biaya biasanya merupakan penghambat dimasukkannya anak-anak tunanetra ke lembaga-lembaga bagi tunanetra, sehingga banyak anak yang terabaikan sama sekali.  Dalam keadaan seperti ini, alasan untuk mendidik anak-anak tunanetra di sekolah biasa harus diakui sebagai alasan terkuat.  Sudah tampak cukup banyak indikasi bahwa Negara tidak akan mentoleransi penyelenggaraan pendidikan yang hanya bagi 50% dari populasi anak tunanetra, yang tertampung di lembaga-lembaga, dan membiarkan selebihnya tumbuh tak terperhatikan.          Ketika Barnhill mengadvokasikan untuk diselenggarakannya pendidikan cuma-cuma bagi anak-anak tunanetra di sekolah-sekolah umum lokal, dia tidak bermaksud mengatakan bahwa sekolah-sekolah khusus harus ditutup, melainkan dia mengemukakan bahwa pendidikan bagi semua anak tunanetra hanya dapat dicapai dengan memanfaatkan sekolah umum lokal.

The Royal Commission on the Blind and Deaf and Dumb (Komisi Kerajaan untuk Urusan Tunanetra dan Tunarungu), yang menyampaikan laporannya pada tahun 1889, mencatat bahwa di samping apa yang telah dilaksanakan di Glasgow, sekolah-sekolah umum di London, Bradford, Cardiff dan Sunderland juga telah melaksanakan pengajaran bagi anak-anak tunanetra.  Laporan tersebut mengemukakan bahwa dalam kebanyakan kasus, anak-anak ini mengikuti jadwal biasa bersama-sama dengan teman-temannya yang awas dan bergaul dengan mereka, baik pada waktu sekolah maupun pada waktu bermain.  Di London, anak-anak tunanetra biasanya mengikuti sekolah biasa, tetapi di samping itu, pada hari-hari tertentu mereka menerima pengajaran khusus di pusat-pusat pendidikan khusus bagi tunanetra yang jumlahnya ada 18 buah.  Pada tahun 1888 jumlah keseluruhan anak tunanetra adalah 132.

Para anggota Komisi tersebut pada umumnya lebih menyukai pendidikan anak-anak tunanetra bersama-sama dengan anak-anak awas.  Mereka menulis bahwa pergaulan yang bebas dengan orang-orang awas memberikan semangat dan kemandirian kepada orang-orang tunanetra, dan memberikan stimulus yang sehat, yang memungkinkan mereka bersaing secara lebih berhasil dengan orang-orang awas dalam kehidupan mereka kelak dibandingkan dengan mereka yang dididik sepenuhnya di lembaga-lembaga khusus bagi tunanetra.

Atas usulan Komisi tersebut, the Elementary Education Act (Undang-undang Pendidikan Dasar) bagi Anak Tunanetra dan Tunarungu diberlakukan pada tahun 1893.  Undang-undang tersebut mewajibkan dewan pengurus sekolah lokal untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak tunanetra dari usia lima sampai enam belas tahun, yang merupakan satu prestasi besar pada masa di mana usia minimal untuk keluar sekolah bagi anak pada umumnya adalah sepuluh tahun.

Berlawanan dengan apa yang mungkin diharapkan, menjelang akhir abad ke-19 itu praktek mendidik anak-anak tunanetra di sekolah umum tampak menurun, dan sekolah-sekolah khusus dibiarkan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak tunanetra itu sendirian.  Sejumlah faktor bertanggung jawab atas perubahan ini.  Satu di antaranya adalah mungkin bahwa Undang-undang pendidikan tahun 1893 itu berisi satu klausul yang mengatur satu prosedur baru bahwa sebuah sekolah harus mempunyai sertifikasi untuk dapat dipandang cocok untuk mengajar anakk-anak tunanetra, dan jelas sekolah khusus akan lebih memungkinkan untuk memenuhi persyaratan untuk memperoleh sertifikasi tersebut daripada sekolah umum yang dikelola oleh dewan pengurus lokal.  Lebih jauh, berdasarkan Undang-undang pendidikan Inggris tahun 1902, lembaga pendidikan lokal yang lebih kecil dilebur ke dalam lembaga yang lebih besar, dan kebanyakan otoritas pendidikan leburan tersebut tampaknya lebih suka memenuhi kewajibannya terhadap anak-anak tunanetra ini dengan membiayai mereka untuk masuk ke sekolah khusus bagi tunanetra suasta.

Maka sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra mengkonsolidasikan posisinya dan gerakan untuk mendidik anak tunanetra di sekolah-sekolah umum lokal kehilangan momentumnya selama 70 tahun.  Akan tetapi, gerakan ini tidak mati sama sekali, karena satu survey oleh College of Teachers of the Blind dan National Institute for the Blind (1936) melaporkan bahwa praktek yang saat itu dijumpai di Glasgow, sebagaimana digambarkan oleh salah seorang saksi dari Skotlandia, adalah bahwa di satu dari tiga sekolah untuk anak awas terdapat anak tunanetra.

Pada awal abad ke-20, jumlah anak di sekolah khusus bagi tunanetra meningkat, meskipun sekolah-sekolah tersebut aga selektif dalam pendekatannya.

Wilson (1907), dalam kata pengantarnya pada edisi keempat dari Information with Regard to Institutions, Societies and Classes for the Blind in England and Wales, menyatakan bahwa:

Hal-hal berikut ini dapat dipandang sebagai aturan umum yang mempengaruhi semua anak yang ingin masuk ke sekolah khusus bagi tunanetra.  Mereka harus buta sama sekali, atau secara praktis adalah buta, tidak berkekurangan dalam daya intelek atau fisiknya, berkesehatan baik, tidak kaku, tidak menderita penyakit kulit ataupun gangguan lain yang dapat mengganggu kenyamanan sesama pelajar, dan harus sudah divaksin atau pernah terkena cacar.

Secara singkat, dapat ditambahkan bahwa sangat sulit untuk memberi rekomendasi tentang apa yang sebaiknya dilakukan terhadap anak tunanetra yang sakit-sakitan, lemah, dan “berkelainan”, yang tidak berhak masuk ke sekolah khusus bagi tunanetra.

Sekitar tahun 1907 sekolah berasrama telah menjadi norma bagi anak-anak tunanetra, dan daftar yang memuat lebih dari 33 sekolah berasrama yang melayani 826 anak laki-laki dan 639 anak perempuan dikatalogkan oleh Wilson.

Pada tahun tersebut juga berdiri College of Teachers of the Blind (CTB) (lembaga pendidikan guru bagi tunanetra), yang melakukan pengujian terhadap guru-guru di sekolah khusus bagi tunanetra dan memberikan diploma kepada mereka yang memenuhi persyaratannya.  Memperoleh diploma CTB dalam masa tiga tahun mengajar di sebuah sekolah khusus bagi tunanetra menjadi wajib bagi guru-guru berdasarkan peraturan pemerintah.

Categories: Cerita-cerita Luar Biasa | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Zullies Ikawati's Weblog

We've shared together

Tinta Emas Guru

goreskan semua pengalamanmu agar semakin bermanfaat. guruabk.wordpress.com

Gadis Ransel

Travel is my soul

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Anotasi

Sekadar catatan saja...

%d bloggers like this: