#CeritaLuarBiasa : Lebaran si Temon

Seperti yang telah kami janjikan sebelumnya para pemenang #CeritaLuarBiasa terpilih maka cerita kirimannya akan kami posting melalui blog Kabar PLB ini. Cerita kali ini merupakan kiriman Pak Nyoto Yoyok Utoyo seorang guru di SLB Negeri di daerah Yogyakarta sana, beliau menceritakan kisah pengalamannya berlebaran bersama anak berkebutuhan khusus yang pernah diasuh olehnya semasa bekerja di panti asuhan. Untuk yang ingin tahu yang mana pak Yoyok, dibawah ini fotonya.

Pak Yoyok berfoto dengan hadiah kiriman dari @Kabar_PLB

Selamat membaca, semoga bermanfaat dan menginspirasi:

Lebaran si Temon

Nyoto Yoyok Utoyo/ Guru SLBN Pembina Yogyakarta / SLBN Pembina Yogyakarta, Jln. Imogiri timur 224, Giwangan,Umbulharjo, Yogyakarta-kode pos 55163, tlp: 0274 – 371243

Pekerjaan mengasuh anak memang bukan pekerjaan yang enteng. Dari bangun tidur hingga sampai nanti menjelang tidur kembali, membutuhkan stamina yang tinggi. Jarang sekali seseorang tahan berlama-lama dalam mengasuh anak. Rasa bosan, capek, sampai meningkat menjadi strees sering kali menghinggapi para orang dewasa yang berkecimpung dalam asuh mengasuh anak. Seperti pengalamanku waktu itu, ketika masih bekerja pada sebuah yayasan panti asuhan. Tugasku waktu itu adalah mengasuh ,merawat serta mendidik anak-anak mempunyai kelainan / cacat mental. Mereka- mereka ini berasal dari mana saja dan berbagai latar belakang ceritanya sampai ia masuk panti asuhan. Ada yang sengaja di titipkan oleh orang tuanya, karena mereka malu. Ada yang berasal dari luar kota tidak di ketahui siapa keluarganya. Ada yang beresal dari jalanan, kemudian kena penertiban, dll.

Betapa berat dan sulitnya mendidik , merawat serta mengasuh mereka.  Apalagi jika anak-anak tersebut berasal dari jalanan. Artinya mereka yang tidak mempunyai keluarga atau yang sengaja dibuang oleh keluarganya. Hanya orang-orang yang tulus mengabdi atau orang yang mempunyai dedikasi tinggi saja yang mau melakukannya. Kebetulan yayasan tempatku bekerja waktu itu menampung anak-anak cacat mental yang berasal dari jalanan. Meskipun ada juga anak-anak yang jelas siapa orang tuanya, dimana alamat nya.

Perbedaan antara keduanya sudah tentu akan terlihat sangat kontras. Anak-anak yang berasal dari , atau mempunyai keluarga biasanya sudah mengenal kebiasaan keluarga, seperti adab sopan santun, tata krama, dll. Pendidikan keluarga seperti itu pasti sudah diberikan atau paling tidak dikenalkan. Sedangkan untuk anak-anak cacat mental yang berasal dari jalanan hal-hal seperti itu seringkali tak terlihat. Bisa jadi dulu mereka telah mengenal nilai, adab atau norma, namun ketika mereka hidup dijalanan semua itu mereka tinggalkan. Untuk anak jalanan yang mereka-mereka itu tidak memiliki kecacatan saja hampir dapat dipastikan tidak mengenal lagi hal-hal tersebut. Kondisi anak – anak cacat mental yang hidup menggelandang sungguh sangat-sangat memprihatinkan. Masyarakat dalam hal ini orang – orang yang normal cenderung tidak dapat memilah-milah. Anak jalanan yang cacat mental sering dianggap sebagai orang tidak waras atau orang gila. Sehingga timbul suatu sikap yang cenderung masa bodoh ketika melihat anak – anak tersebut. Masyarakat pasti mengatakan ’biarkan saja, toh dia orang gila’ atau mungkin mengatakan ’itu tugas departemen sosial atau pemerintah’, dll.

Mungkin saya pun akan beranggapan demikian, jika posisi saya sebagai masyarakat. Namun alhamdulillah, ALLAH SWT membuka hati dengan sebuah peristiwa yang benar-benar mengguncang nurani saya. Peristiwa yang membuat saya seperti terlempar ke suatu ruang yang entah kemana. Perasaanku seperti terbang melesat ke mega-mega dan membentur bintang-bintang. Kemudian pecah berkeping-keping menjadi butiran air mata. Ya,aku tak sanggup membendung itu semua. Seluruh sendi-sendi tubuhku seperti kehilangan daya, lemas. Kejadian itu membekas hingga kini, entah mungkin seumur hidupku peristiwa itu takkan pernah hilang dari ingatan.

Ramadhan yang selalu ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin telah tiba. Bulan yang penuh berkah itu hadir di panti asuhan kami. Semua pengasuh dan anak-anak panti asuhan berebut merengkuhnya. Sejauh tangan menggapai serapat tubuh mendekap, kami berusaha meraihnya. Tali iman yang semula mengendor di hari – hari sebelumnya, kami tarik hingga mengencang. Malam-malam ibadah kami lalui bersama anak-anak cacat mental, anak asuh kami. Walaupun sebenarnya hukum syari’at meringankan bebannya untuk mereka, disebabkan akalnya yang kurang sempurna. Namun mereka tak mau kalah dengan saudaranya kaum muslimin yang normal. Entah,bacaan-bacaan apa yang mereka ucapkan ketika dahi-dahi mereka sujud di atas sajadah. Entah,kalimat apa yang mereka lantunkan ketika bersimpuh berdo’a kepada- Nya. Mengadukan nasibnya kah ??  Memohonkan ampunan dosa kedua orang tuanya ??. Aach aku ingin namaku disebut dalam do’anya. Aku ingin di do’akan oleh calon penghuni sorga.

Ketika panas matahari menjilat-jilat bumi, dan jalan bermandikan fatamorgana. Anak-anak dengan teguh menahan lapar dan dahaga. Wajah yang kuyu itu begitu pasrah dan sabar menanti datangnya senja. Tidak terdengar isak dan rengek mereka minta minum atau makan. Hanya satu dua saja yang gelisah tak sabar menanti buka puasa. Kegiatan harian pun berjalan seperti biasa, menyapu ruang dan halaman, mengepel lantai adalah tugas rutin yang harus dijalankan. Si Temon ( Nama ini pemberian yayasan ) pun tak mau ketinggalan dengan teman-temannya. Ia begitu bersemangat menjalankan tugas harian itu. Kebiasaan buruk sebelum masuk panti tak terlihat lagi. Dahulu sebelum ia berada di panti ia tak mengenal budaya kebersihan. Hidup menggelandang ia jalani bersama kakaknya yang normal. Badan yang kotor serta koreng bernanah menghinggapi seluruh tubuhnya. Pakaiannya hitam compang-camping lengket di badan karena darah dan nanah. Orang yang kebetulan berpapasan dengannya serta merta menutup hidung karena tidak tahan baunya. Tempat-tempat sampah mereka singgahi berdua dengan kakaknya. Mencari sisa-sisa makanan yang terbuang.

Berjalan tanpa tujuan kesana kemari dan tidur di emper toko kegiatannya pada waktu itu. Hingga suatu ketika, polisi melakukan penertiban melakukan razia para gelandangan. Ia dan kakaknya ikut diangkut ke dalam truk polisi. Setelah di data identitasnya, para gelandangan tersebut diangkut dan di bawa ke kantor departemen sosial untuk di bina. Karena Temon dan kakaknya masih tergolong anak, maka ia kemudian di masukkan ke panti tempatku bekerja.Yayasan kami memang menampung anak dan remaja. Proses identifikasi ulang kembali dilakukan untuk kepentingan arsip kami. Hal ini dilakukan agar siapa tahu ada pihak keluarga yang bisa dihubungi. Sebab terkadang setelah dilakukan pendataan, ternyata mereka bukan gelandangan murni. Artinya mereka masih mempunyai keluarga. Untuk kasus seperti ini biasanya dari pihak yayasan akan berusaha mencari dan menghubungi pihak keluarganya tersebut.

Setelah dilakukan identifikasi, investigasi ternyata Si Temon dan kakaknya bukan berasal dari Jawa. Ia berasal dari Sulawesi Utara, namun di mana kampungnya, siapa orang tuanya tidak terlacak. Hal ini menurut pengakuan kakaknya yang normal. Sementara si Temon tidak dapat bicara dengan jelas ( tidak bisu ), sehingga tidak dapat di mintai keterangan. Sejak saat itu ia menjadi penghuni panti asuhan kami. Atas budi baik kepala yayasan Si Temon dirawat, diobati hingga sembuh dari koreng-korengnya. Saya dan teman-teman yang lain bergantian mendampinginya. Karena ia berasal dari jalanan maka jelas ia tidak tahu adab dan tata krama. Contoh : ketika makan ia tidak menggunakan tangannya untuk menyuapi, tetapi makanan langsung diambil dan dimakan dengan mulutnya. Dalam hal kebersihan seperti mandi misalnya ia sama sekali belum bisa melakukannya. Walaupun hanya sekedar mengguyurkan air ke tubuhnya sendiri. Akhirnya saya sebagai pengasuh harus turun tangan memandikannya. Pada waktu buang air pun, pengasuhlah yang membersihkannya.

Berkat ketelatenan dan kesabaran para pengasuhnya akhirnya si Temon menjelma menjadi manusia kembali. Artinya ia mulai mengerti dan dapat melakukan tugas harian di panti. Dia juga sudah mampu merawat dirinya sendiri. Namun,  jangan dibayangkan proses itu dapat di capai dalam hitungan hari. Temon menjadi Temon yang sekarang membutuhkan proses bertahun-tahun. Faktor komunikasi serta lemahnya mental yang menjadikan ia perlu adaptasi sekian lama. Sementara sang kakak karena tidak cacat mental / normal langsung bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Tetapi sang kakak juga memerlukan proses berbulan-bulan. Hidup dijalanan yang mereka lakukan selama ini ternyata membuat mereka tercerabut dari budaya manusia normal. Sungguh, ketika melihat perilaku Temon dahulu seperti layaknya hewan saja. Ia dan kakaknya hanya hidup dengan naluri saja tanpa terlihat sedikitpun akal yang menuntunnya.

Hari-hari puasa kami lewati bersama, anak- anak panti masih bertahan, hanya sebagian saja yang tidak puasa. Mereka yang tidak puasa umumnya kalau ditanya akan menjawab ’lupa’. Memang ingatan – ingatan mereka umumnya pendek ,memori diotaknya tak mampu mengingat sesuatu dalam jangka waktu yang lama. Kecerdasan mereka kalau diukur paling hanya sekitar 25-50( Ukuran IQ ). Untuk ukuran tersebut mereka disebut Imbecil, sedangkan jika IQ nya 50-75 masuk dalam katagori Debil / moron. Semangat mereka dalam menjalankan puasa, sungguh membuat hati terharu. Jika malam tiba sehabis buka puasa, mereka segera berebut masuk ke mushola untuk mengambil kitab al-qur’an, untuk mengaji. Tak lama kemudian segera terdengar suara-suara yang aneh. Jangan di bayangkan suara-suara tersebut seperti suara qari / qari’ah yang sedang membaca surat. Suara – suara mereka terdengar keras namun tidak jelas lafadz nya. Ada yang berteriak ALLAHU AKBAR, ada juga yang hanya bisa berteriak AMIN saja. Itu pun sangat terdengar asing, karena ucapan-ucapan yang keluar adalah ucapan yang cedal. Hal ini terjadi karena otak mereka terganggu sehingga syaraf lidah dan mulut tidak berfungsi secara sempurna. Air ludahnya setiap saat menetes, karena mulutnya tidak bisa mengatup dengan sempurna.

Sepuluh hari terakhir ramadhan biasanya satu dua anak di jemput oleh kerabat atau keluarganya. Biasanya sebelum pulang ke rumah anak- anak saling bercerita tentang bagaimana suasana menjelang lebaran nanti. Temon pun tak ketinggalan dan tak mau kalah dalam bercerita. Kalimat yang keluar dari mulutnya tidak jelas ejaannya. Kalau temannya tidak tahu yang ia ucapkan, maka ia membuat isyarat-isyarat dengan tangannya. Seru sekali melihat mereka saling bercerita, biasanya isi cerita mereka seputar baju baru, makanan dan jajanan yang tersedia di hari lebaran nanti. Ada juga yang bercerita tentang kebiasaan piknik ke tempat – tempat wisata bersama keluarga dan kerabat. Juga cerita tentang bagi-bagi uang saat acara halal – bihalal, baik didalam keluarga maupun dengan masyarakat sekitar.

Ya,ternyata mereka mengingat semua suasana – suasana di hari lebaran. Aku sesekali ikut menimpali celotehan-celotehan mereka. Kalau sudah demikian,mereka tambah semangat dalam bercerita. Si Temon biasanya yang paling aktif dalam bercerita. Aku heran, apakah dulu di Sulawesi utara ia juga mengalami suasana-suasana tersebut. Atau itu hasil khayalan dia saja, tetapi aku segera membantah dugaanku sendiri. Karena aku tahu bahwa salah satu kelemahan mereka adalah dalam hal imaginasi dan abstraksi. Jadi,mungkin masih ada sisa-sisa ingatan ketika dahulu ia tinggal di kampung halamannya.

Seminggu lagi lebaran segera tiba, suasana di panti asuhan bertambah semarak. Kalau hari – hari begini banyak orang yang berkunjung kemari. Mulai dari orang tua anak-anak, saudara kerabat mereka sampai para dermawan yang membawa bingkisan lebaran silih berganti berkunjung. Anak-anak bertambah suka cita karena bingkisan-bingkisan lebaran yang dikirim atau diantar ke panti asuhan sangat banyak. Mereka ikut sibuk mengangkut, menata diruang-ruang sambil berceloteh dan bergurau dengan sesama teman. Kulihat wajah Temon begitu bahagia, matanya bersinar-sinar setiap melihat siapa yang datang. Ia selalu menyambut dengan hangat siapapun yang datang, baik yang ia kenal maupun yang tidak ia kenal. Jabat tangan dan cium tangan selalu tak ia lupakan. Terkadang terlihat ia mencoba mengajak berkomunikasi kepada setiap tamu yang datang. Dan para tamu pun biasanya menjawab ’ya…ya…” atau ’he’e ….he’e saja sebab kalimat – kalimat Temon tidak mereka pahami maksudnya.

Lebaran bertambah dekat, kurang tiga hari lagi. Akupun bertambah sibuk melayani para tamu yang berkunjung ke panti. Anak-anak banyak yang mulai bersiap-siap menunggu para penjemputnya .Barang-barang pribadi seperti baju dan celana mereka lipat dengan rapi kemudian di masukkan kedalam tas mereka masing masing. Sebagian pengasuh ikut membantu mereka berkemas – kemas. Temon pun tak mau ketinggalan, ia turut membantu mengemas barang – barang milik teman-temannya. Namun, aku menangkap sesuatu yang aneh di wajah nya. Sinar matanya agak terlihat gelisah dan gugup, sehingga tanpa sengaja sering menyenggol atau menjatuhkan barang-barang di sekitarnya. Ada apa dengan Temon ?- ku lihat sesekali ia memandang kearah gerbang. Dan ia selalu menatap para orang-orang yang menjemput teman-temannya. Sesekali kulihat ia tiba-tiba lari, menuju arah gerbang sambil menengok kiri kanan  seperti mencari sesuatu. Ia terlihat salah tingkah ,aku mulai berfikir jangan-jangan ….?!!, ah kutepis bayanganku sendiri.

Keesokan harinya aku sempatkan menemuinya sebelum mengerjakan tugas-tugas harian. Sengaja aku datang lebih pagi agar nanti bisa agak longgar ketuka bicara dengannya .Hari ini aku berharap mendapat jawaban darinya atau paling tidak tahu apa yang membuatnya gelisah dan salah tingkah. Ku lewati kamar anak – anak yang sebagian sudah banyak yang kosong di tinggal mudik. Kamar Temon berada di ujung bangunan panti, dekat dengan dapur. Sebagian anak-anak yang belum di jemput orang tuanya sibuk mengemas barang-barangnya. Aku berhenti menyapa mereka sambil berpesan agar nanti jangan merepotkan orang tua. Satu dua menjawab sapaanku, beberapa diantaranya sibuk berkemas-kemas tanpa memperdulikan kehadiranku. Kemudian aku berjalan menuju kamar Temon. Tetapi ternyata dia tidak ada dikamarnya. Kulihat kamarnya rapi dan lengang sebab beberapa teman sekamar Temon sudah di jemput oleh keluarganya kemarin. Aku mulai gelisah jangan-jangan ia pergi tanpa pamit. Ah tidak mungkin pikirku, sebab akan pergi kemana ia, disini dia tidak punya siapa-siapa. Dan selama ini ia tidak pernah meninggalkan panti kecuali jika sekolah atau diajak teman-teman pengasuh. Sampai disini aku berharap semoga ia masih berada di sekitar sini. Aku takut ia kembali menggelandang seperti dulu lagi.

Tiba-tiba ia muncul dari arah samping gedung panti, tempat bermain anak – anak panti. Ku sapa ia dan kutanyakan sedang apa tadi, tapi ia tak menjawab terus saja berjalan menuju ruang tidurnya. Kuikuti ia dari belakang hingga masuk kedalam ruang tidurnya, kemudian aku duduk di tempat tidur si Adi teman sekamarnya. Ia diam saja tak merespon kedatanganku. Ku perhatikan ia berkemas-kemas memasukkan barangnya ke dalam tas, sumbangan dari seorang dermawan beberapa bulan yang lalu. Belum sempat aku bertanya kepadanya, aku disusul teman pengasuh.”Pak,tamu-tamu yang menjemput anak-anak sudah datang” kata pak Harjo. Aku bergegas meninggalkan Temon, segera menuju ke ruang tamu. Sesampai disana aku segera disambut para orang tua anak-anak. Kami pun berbincang-bincang sekedarnya, tak lama kemudian beberapa diantaranya mohon pamit sambil menuntun putra-putranya, keluar menuju halaman depan. Tahu-tahu si Temon muncul begitu saja ikut menyalami mereka yang hendak keluar. Aku biarkan ia, sambil kulihat wajahnya ah ia sudah terlihat ceria. Aku pun kembali ngobrol dengan beberapa orang lainnya yang masih nunggu anak-anaknya berkemas. Sambil kupersilahkan masuk ke kamar putranya.

Sambil menunggu anak –anak yang sedang berkemas, aku masih terus berbincang dengan para tamu. Kulihat si Temon pun sibuk berkemas-kemas, sambil sesekali melihat ke arah kami. Sekilas aku menangkap pancaran wajahnya yang kembali gelisah. Aku tidak tahu kenapa. Setelah semua berpamitan saya dan teman-teman pengasuh kembali kedalam untuk membereskan tempat sambil nanti menyusun jadwal piket jika nanti di tinggal mudik. Dan …aku seperti tersengat listrik, ah….. masih ada si Temon.Keringat dingin keluar dari tubuhku. Mengapa baru terpikirkan sekarang ?!!. Mengapa aku tak menangkap sinyal-sinyal gelisah si Temon ?. Baru sekarang aku tersadar kenapa si Temon gelisah mondar-mandir terlihat seperti mencari sesuatu.

Segera aku menyusul ke kamarnya, sesampai didepan pintu aku berhenti. Ku pandangi ia dari belakang. Tangannya sibuk memasukkan baju dan celananya kedalam tas. Perasaanku tak menentu dan mataku terasa panas berkabut. Aku baru menyadari, kenapa ia gelisah selama ini dan berkelakuan aneh. Ia melihat teman-temannya, yang di jemput oleh orang tuanya yang kemudian mengajaknya berlebaran bersama-sama. Tubuhku tiba-tiba menjadi bertambah lemas. Tanpa sadar aku terduduk di lantai, air mata pun terasa panas mengalir. Pilu sekali yang kurasakan saat itu …ah engkau ingin berlebaran rupanya,tapi engkau tak mampu mengatakannya. Sementara sampai detik ini tak ada satu pun orang  yang datang menjemputmu. Kasihan sekali engkau nak, aku pun tak kuat menahan tangis. Ia kemudian berpaling menatapku, aku tak kuat menatap matanya. Aku mendengar ia mengucap kata-kata, tetapi aku terlanjur hanyut oleh gejolak perasaan yang tak menentu.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar La ilaa Ha illallahu Allahu Akbar… Allahu Akbar wa lillah ilhamd. Suara takbir bergema di masjid dekat rumahku. Esok pagi lebaran tiba, aku duduk di teras rumah sambil menatap anak-anak yang bersuka ria bermain kembang api di halaman. Ku lihat Temon bermain dengan riang nya bersama anak-anak kampung. Kembali mataku terasa panas dan berkabut, aku tak kuat membayangkan kejadian kemarin di panti. Perasaan ku seperti melesat entah kemana. Menembus mega-mega melambung membentur bintang-bintang, kemudian pecah berkeping-keping menjadi butiran air mata. Sekarang ia di sini, di rumahku menyambut lebaran esok pagi. Saat-saat yang dinantikan oleh seluruh kaum muslimin. Saat-saat di mana ALLAH SWT membasuh semua dosa dan menggembirakan hati umat NYA.

Temon,hanya ingin berlebaran, ia berharap ada seseorang yang mengajaknya. Tapi siapa dan kemana nanti lebarannya, ia tak mampu mengatakannya. Setiap kali ada tamu yang berkunjung ke panti ia salah tingkah tetapi ia tetap menyambut dengan hangat. Ia jabat tangan mereka dan kemudian menciumnya dengan penuh taksim. Hanya itu yang mampu ia lakukan. Namun mereka yang datang memang tidak menjemput dia. Ia pun tetap bergembira, sambil terus berkemas – kemas. Seakan-akan ada seseorang yang nanti akan menjemputnya. Tangisku kembali berderai, membayangkan betapa bahagianya dia saat itu. Saat ada seseorang datang meraih tangannya, kemudian merengkuh pundaknya dengan lembut serta membimbingnya  dengan penuh kasih sayang. Dan, membawanya pergi untuk menyambut lebaran. Hatiku bergetar dan teriris pilu membayangkan itu semua, sungguh kasihan engkau nak. Mari nak … mari … mari berlebaran bersamaku, di r u m a h ku.

T A M A T

Categories: Cerita-cerita Luar Biasa | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “#CeritaLuarBiasa : Lebaran si Temon

  1. Meida Ardiani

    Sangat mengharukan….. Terima kasih Ya Allah… masih ada orang yang benar-benar mendidik dengan hati…. Semoga Amal kebaikan Bapak mendapat balasan dari Allah SWT..Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Zullies Ikawati's Weblog

We've shared together

Tinta Emas Guru

goreskan semua pengalamanmu agar semakin bermanfaat. guruabk.wordpress.com

Gadis Ransel

Travel is my soul

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Anotasi

Sekadar catatan saja...

%d bloggers like this: