Apalah Arti Sebuah Nama

Penyakit ini sebenernya udah lama, cuma teringatkan kembali sama dialog orang yang barusan duduk di sebelah meja tempat gue dinner. Dialog mereka kalau di rangkum tuh kaya gini:

          “gue langsung cabut aja deh, ga enak sama nyokap dah nungguin”

“lo yakin mau pulang, secara ni masih jam 8. Siang banget lo pulang, ngapain juga kali di rumah, kaya anak autis aja lo”

Bagi orang yang setidaknya kuliah di Jurusan PLB, denger kata bergaris merah itu rasanya gatel pengen ngomong “tau apa lo soal anak autistik, gak usah ngikutin trend omongan sok gaul menyesatkan gitu deh kalo gak ngerti artinya”. Tapi yaaaaa kalo gue ngomong gitu, yang ada juga malah disangka orang gila baru di kota bandung tercinta ini. Beginilah sikap orang yang imannya paling rendah kawan, jangan ditiru ya heuheu.

Ok, back to topic!!!!

Penyebutan kata autis buat bahan candaan itu sebenarnya seringkali tidak disadari, bisa saja karena faktor ikut trend gaya bicara orang lain padahal dia sama sekali gak tau artinya atau bisa saja tau artinya tapi sama sekali tidak punya rasa empati pada pengucapan tata bahasa yang benar. Padahal dalam KBBI kata ‘autis’ tidak memiliki arti sama sekali, kata yang tercantum adalah ‘autistik’ yang artinya sama dengan ‘terganggu jika berhubungan dengan orang lain’. (sumber : http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php ).  coba bayangkan, mengatakan kata yang tepat saja tidak bisa, merasa sok gaul?? Fuuuuuh bikin geleng-geleng…… (autis dalam candaan di atas diatas memang dimaksudkan untuk anak yang mengalami hambatan autistik)

oke, mungkin banyak orang berpikir hal semacam itu sepele, tapi cobalah untuk menghormati sekelompok orang yang mengalami hambatan autistik atau apapun itu yang sebenarnya tidak layak kita ucapakan hanya untuk dijadikan bahan olokan atau cuma candaan, meskipun mungkin saja orang-orang yang menjadi obyek tersebut sama sekali tidak mengerti atau tidak peduli pada ucapan-ucapan haram itu.

Kalau ditanya kenapa gue sebel banget sama orang yang suka bercanda memakai ‘bahasa yang tidak seharusnya diucapkan untuk bahan candaan’ yang contohnya seperti diatas, itu karena autistik adalah sebuah nama bagi gue. Dan kalau ditanya apakah nama penting bagi gue, gue akan menjawab penting banget. Nama adalah identitas yang membedakan antara gue dengan orang lain. Nama bukan hanya sekedar anto, bima atau siti. Nama bagi gue adalah kumpulan emosi yang menyatakan siapa diri lo yang sebenarnya. Itu menurut gue, jadi kalau gak setuju, sah-sah aja si.

So, yuk guys kita gak perlu ngeluarin ‘kata autis’ cuma karena pengen disebut orang paling gaul dan dijadikan bahan candaan. karena lo atau siapapun gak akan pernah tahu mereka yang sebernanya kalau gak tau siapa ‘nama’ mereka.

Categories: Cerita-cerita Luar Biasa | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Zullies Ikawati's Weblog

We've shared together

Tinta Emas Guru

goreskan semua pengalamanmu agar semakin bermanfaat. guruabk.wordpress.com

Gadis Ransel

Travel is my soul

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Anotasi

Sekadar catatan saja...

%d bloggers like this: