Pendidikan Luar Biasa

Menuju Peringatan Hari Sindroma Down Dunia 2014 Di Bandung

Sudah beberapa bulan belakangan ini admin jarang nulis di blog, dikarenakan kesibukan kerja. Kali ini harus sedikit dipaksakan untuk menulis kembali mengingat akan ada perhelatan acara yang akan sangat ramai diikuti oleh anak-anak berkebutuhan khusus, guru-guru, dan para pemerhati pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Seperti judul yang sudah dipaparkan di atas, acaranya adalah : Hari Sindroma Down Dunia 2014 (World Down Syndrome Day 2014).

Sebetulnya hari sindroma down dunia ini harus nya diperingati setiap tanggal 21 di bulan ke 3 setiap tahunnya, paling tidak dihelat selalu di bulan Maret. Mau mencoba melihat keramaian acara ini saat tahun 2013 ? silakan cek disini. Tahun ini tidak dapat dihelat pas di bulan Maret karena tidak mendapatkan ijin keramaian oleh kepolisian, mengingat saat kemarin mendekati persiapan pemilu. Ahhh gara-gara lomba caleg nyari kursi acara untuk anak berkebutuhan khusus down syndrome ini harus tertunda.

Tahun ini akan acara ini akan dihelat pada :

Di save ya, terus kalian harus datang

Di save ya, terus kalian harus datang

Sudah jelaskan ya ? Bila ada yang ditanyakan silakan lewat kolom komentar, halaman Facebook, atau mention twitter.

 

Datang ya, tinggal seminggu lagi loh menuju acara.

 

#SalamLuarBiasa

Jangan lupa follow juga kami disini, dan disini,

Categories: Cerita-cerita Luar Biasa, Identifikasi & Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus, Inklusif, Pendidikan Inklusi, Pendidikan Integrasi, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Segregasi, Tips-tips menangani anak berkebutuhan khusus, Tunagrahita | Leave a comment

Menjelang Perayaan Hari Down Syndrome Sedunia 2013

Sudah lama tidak posting tulisan baru di blog karena kesibukan kerja. Semoga tulisan kali ini bisa banyak memberikan manfaat, terutama mengenai perayaan “world down syndrome day 2013“. Selamat membaca.

Sepulang dari kota Surabaya untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan saya kembali menuju Bandung, seperti biasa untuk menjalani kegiatan kerja sehari-hari menangani anak berkebutuhan khusus. Seorang kolega lama yang dulu merupakan teman sekolah menghubungi saya, dia bercerita ada teman sekantornya yang dikaruniai anak down syndrome. Teman sekantor dari teman saya ini adalah seorang ibu muda yang aktif dalam forum / komunitas orang tua dengan anak down syndrome.

Singkat cerita saya kemudian dikenalkan langsung oleh teman lama saya dengan ibu ini. Kemudian kami berkenalan dan bercerita kesana kemari mengenai anak-anak yang saya tangani dan segala pengalaman kerja, beliau pun menceritakan seputar pengalamannya menangani anaknya yang mengalami down syndrome. Akhirnya sampai pada maksud utama, beliau menceritakan keinginannya untuk mengadakan perayaan hari down syndrome sedunia 2013 kali ini di kota Bandung, ini untuk pertama kalinya loh mau diadakan di Bandung.

Beliau ini bernama Ibu Rina, seorang ibu dari anak down syndrome yang aktif di komunitas “Persatuan Orang Tua Anak Down Syndrome” atau lebih dikenal dengan “Potads“. Bu Rina sangat aktif di “Potads” kota Bandung, dari mulai mengadakan kopdar (kopi darat) atau kegiatan parent support group untuk orang tua yang baru dikarunia anak down syndrome. Ibu Rina ini aktif sekali di PIK (Pusat Informasi Kegiatan) Potads kota Bandung, PIK ini sederhananya wadah cabang Potads di Bandung.

Nah hari perayaan Down Syndrome Sedunia 2013 setiap tahunnya selalu diperingati tanggal 21 Maret. Untuk tahun ini jatuh pada hari Kamis. Dengan pertimbangan kamis itu adalah hari kerja, maka acara yang direncanakan untuk merayakan hari down syndrome sedunia ini akan dilaksanakan pada hari Minggu, 24 Maret 2013. Di kota Bandung insyaallah akan diadakan di sepanjang Car Free Day Dago (Jl. Ir. H. Djuanda). Untuk titik kumpul dan start dilaksanakan Kantor Agro Wisata, Jl. Ir. H. Djuanda.

Acara dan kegiatan kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan adalah :

  • Kegiatan Jalan Santai Orang Tua dan anak-anak down syndrome
  • Talk show oleh para pakar pemerhati down syndrome
  • Pemeriksaan gigi gratis
  • Penampilan kreasi seni oleh anak-anak down syndrome
  • Serta kegiatan-kegiatan seru lainnya.

Acara ini diadakan dengan tujuan sebagai sosialisasi anak down syndrome dikenal luas oleh masyarakat banyak, harapannya adalah menjadi lebih peduli terhadap keberadaan anak down syndrome. Lebih jauh lagi bertujuan agar suatu saat anak-anak dengan down syndrome mendapatkan kesempatan dan hak sebagai warga negara Indonesia yang sama seperti masyarakat lainnya, dari mulai aksesibilitas publik, perlindungan hukum khusus bagi penyandang down syndrome, bahkan hingga kesempatan kerja.

Peserta acara ini adalah  anak-anak down syndrome dari berbagai penjuru kota Bandung, dari sekolah-sekolah luar biasa, sekolah inklusif serta klinik tumbuh kembang anak yang menangani anak down syndrome. Peserta lain tentu adalah orang tua masing-masing anak down syndrome itu sendiri, para mahasiswa yang kelak menangani anak down syndrome, serta para stakeholder yang peduli terhadap keberadaan anak-anak dengan down syndrome ini.

Untuk acara ini kami masih membutuhkan relawan dan relawati yang rela mau membantu kelangsungan acara ini, terutama para mahasiswa yang masih senang dengan berbagai kegiatan sosial. Yak karena ini memang kegiatan sosial, bukan bermaksud cari untung. Siapa saja yang berminat silakan hubungi teman saya yang menjadi koordinator relawan untuk acara ini : Deni Artha, dengan sosial media di @deni_artha & deniartha atau hubungi langsung no kontaknya : 085624628683.

Setelah kalian mendaftar kalian akan dihubungi untuk mengikuti rapat kegiatan pelaksanaan acara, seminggu atau 2 minggu sebelum acara. Ayo segera daftarkan diri kalian untuk menjadi bagian dari acara memperingati hari Down Syndrome sedunia.

Selain membutuhkan relawan dan relawati kami dalam melaksanakan acara ini juga membutuhkan donasi untuk menutupi segala biaya untuk melaksanakan acara ini, karena sekali lagi acara ini memang diadakan secara sosial dan dari modal niat semangat yang kuat tanpa sokongan dana yang mumpuni. Oleh karena itu bila teman-teman dari Kabar PLB ingin membantu acara ini secara materil berbentuk uang.

Donasi bisa ditransfer ke bendahara PIK Potads Bandung a.n Erlyta Septa Rossa ke bank BCA dengan no rekening : 7770141570 . Kemudian setelah itu bisa mengkonfirmasi kirimannya langsung ke ibu Rina di 085722117960 dan Mira 0817888940. Besar harapan kami teman-teman Kabar PLB bisa ikut membantu mensukseskan acara ini.  Jumlah donasi akan selalu diupdate dan dicatat pemakaian dan peruntukkannya.

Target donasi adalah untuk membeli 200 paket lunch dan 200 goody bag untuk anak-anak down syndrome, syukur-syukur bisa lebih ya. Amin.

Demikian sedikit cerita dan tulisan mengenai jelang perayaan kegiatan “World Down Syndrome Day 2013″, semoga bermanfaat dan bisa ikut membantu.

Izinkan saya tutup dengan tagline acara kegiatan nanti.

PAHAMI, TERIMA, DUKUNG MEREKA MENUJU MANDIRI

Categories: Cerita-cerita Luar Biasa, Pendidikan Inklusi, Pendidikan Integrasi, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Segregasi | Leave a comment

Kebutuhan Khusus Anak Tunagrahita

Pada dasarnya anak tunagrahita memiliki kebutuhan yang sama dengan anak pada umumnya. Dalam perkembangan manusia ada delapan kebutuhan yang merupakan tahap-tahap perkembangan kepribadian, yang mana kebutuhan ini juga menjadi kebutuhan juga bagi anak tunagrahita. Namun karena keterlambatan dalam perkembangan kecerdasannya, anak tunagrahita akan mengalami hambatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, bahkan diantara mereka ada yang hanya mencapai sebagian atau kurang, tergantung pada berat ringannya hambatan yang dimiliki anak serta perhatian yang diberikan oleh lingkungannya. Witmer & Kotinsky (Frampton & Gail, 1955: 117-119) menjabarkan kedelapan kebutuhan tersebut, yaitu:

1. Perasaan terjamin kebutuhannya akan terpenuhi (The Sense of Trust)

Komponen kepribadian sehat yang mula-mula berkembang adalah the sense of trust. Perasaan terjamin dari lingkungan yang mula-mula dialami oleh bayi adalah kenikmatan dalam makan. Tidur dengan nyenyak, dan buang air besar dengan santai. Witmer & Kotinsky (Frampton & Gail, 1955:117) menambahkan bahwa:

Pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan makan merupakan sumber utama dari berkembangnya rasa percaya. Pada usia sekitar empat bulan rasa lapar pada bayi akan tumbuh cepat dan menunjukkan danya tanda-tanda yang menyenangkan menjelang waktu makan, sebagai tanda kesiapan (kepastian) bahwa ia akan mendapatkan makanan. Pengalaman ini akan terulang lagi saat lapar, melihat makanan, dan perasaan puas serta perasaan terjamin bahwa dunia ini sebagai tempat bargantung.

Continue reading

Categories: Pendidikan Luar Biasa, Tips-tips menangani anak berkebutuhan khusus, Tunagrahita | Leave a comment

Sistem Penyelenggaraan Pendidikan bagi Tunanetra bag. 1

Diterjemahkan dari:

Education, Provision and Contemporary Issues

Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. Part I. London: David Fulton Publishers.

Oleh

Didi Tarsidi

Sistem Penyelenggaraan Pendidikan bagi Tunanetra 

 

Kirkwood, R. dan McCall, S. (1999). “Educational Provision” dalam Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999, pp.13-21). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.

Pendahuluan

Bab ini menyajikan gambaran singkat tentang jenis-jenis penyelenggaraan pendidikan yang tersedia bagi anak dan remaja tunanetra di Kerajaan Inggris pada saat ini, dan upaya-upaya untuk mengenali kecenderungan-kecenderungan di masa mendatang.  Bab ini dimaksudkan bagi para pembaca yang belum mengenal benar bidang ini dan merupakan latar belakang bagi bab-bab lain dalam buku ini.

 

Populasi Tunanetra

        Jumlah yang persis anak tunanetra di Britania sulit diukur.  Tidak adanya definisi ketunanetraan yang disepakati secara umum (lihat Bab 6) mengakibatkan hasil setiap survey dapat dipertanyakan, dan masalah tersebut diperumit lagi oleh tidak adanya satu sistem identifikasi yang seragam.  Di England, Departemen Pendidikan dan Tenaga Kerja tidak lagi mengumpulkan informasi tentang anak-anak secara individual, dan informasi tentang anak-anak di Skotlandia dipegang oleh departemen-departemen yang menangani pelayanan sosial yang menyusun datanya dari dokumen pendaftaran yang dipegang oleh organisasi-organisasi ketunanetraan lokal.  Hanya di Wales statistik diselenggarakan secara sentral oleh pemerintah (Clunies‑Ross & Franklin, 1996a).  Estimasi jumlah selama dekade terakhir ini bervariasi dari 10.000 anak tunanetra dalam kisaran usia 3‑19 tahun (RNIB, 1992) hingga 22.000 anak yang “mengalami kesulitan melihat” pada kisaran usia 0‑15 tahun (Bone & Meltzer, 1989).  Estimasi jumlah yang paling baru adalah yang didasarkan pada data yang dikumpulkan oleh the Royal National Institute for the Blind (RNIB) pada tahun 1995 dari dinas-dinas pendidikan bagi tunanetra di Otoritas pendidikan Lokal (Local Education Authority / LEA).  Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat antara 19.000 hingga 20.000 anak hingga usia 16 tahun di England, Skotlandia dan Wales yang menyandang ketunanetraan.  Angka ini diperoleh dengan mengekstrapolasikan data yang diberikan oleh 106 LEA dan didasarkan atas sampel 76% dari total populasi kelompok usia tersebut (Clunies‑Ross & Franklin, 1996a).  Lebih dari 6000 (34,5%) dari anak-anak ini diidentifikasi sebagai menyandang kecacatan parah dan ganda di samping ketunanetraan.  Ini sebanding dengan temuan survey tahun 1992 yang mengestimasikan bahwa 56% dari anak-anak tunanetra menyandang satu kecacatan lain atau keadaan sakit yang permanen (lihat Bab 32).

Di samping anak-anak usia sekolah yang diidentifikasi dalam studi yang diselenggarakan oleh RNIB itu, LEA melaporkan bahwa terdapat hampir 1400 siswa usia 16 hingga 19 tahun yang menyandang ketunanetraan, yang lebih dari 40% di antaranya dilaporkan menyandang kecacatan ganda di samping ketunanetraan.  Akan tetapi, karena kini LEA hanya mendanai sebagian saja dari siswa-siswa pada tingkat pendidikan lanjutan, angka tersebut lebih rendah dari yang sesungguhnya.

Angka terakhir menunjukkan bahwa ketunanetraan menimpa 211 dari setiap 1000 anak hingga usia 16 tahun, dan oleh karenanya dipandang sebagai satu kecacatan “insiden rendah” (low incidence disabilities).  Ketunanetraan sebagai suatu insiden rendah pada anak-anak mempunyai implikasi yang signifikan bagi pendidikannya.  Misalnya ini berarti bahwa:

-       Ketunanetraan tidak menjadi bahan perdebatan yang hangat dalam perencanaan pendidikan tingkat nasional;

-       Anak-anak dengan jumlah yang kecil di suatu wilayah menimbulkan permasalahan bagi perencanaan di tingkat lokal dan akibatnya di wilayah-wilayah tertentu penyebaran guru-guru ahli dan sumber-sumber kependidikan khusus itu tidak merata.

Continue reading

Categories: Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Segregasi, Tunanetra | Leave a comment

Sejarah Pendidikan bagi Tunanetra di Inggris bag-3

Diterjemahkan dari:

Education, Provision and Contemporary Issues

Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. Part I. London: David Fulton Publishers.

Oleh

Didi Tarsidi

McCall, S. (1999). “Historical Perspectives” dalam Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999, pp.2-13). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.

Sekolah bagi Anak-anak dengan Ketunaan Tambahan

Kesenjangan utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi tunanetra adalah kurangnya tempat yang cocok bagi anak-anak tunanetra yang menyandang kesulitan belajar (learning disabilities).  Pada tahun 1930-an, penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak ini terbatas pada Court Grange School di Abbotskerswell di South Devon, sebuah sekolah kecil berasrama yang didirikan pada tahun 1931 oleh National Institute for the Blind untuk 34 anak yang digambarkan sebagai “terbelakang” yang mempunyai kesempatan yang cukup baik untuk “reklamasi” (CTB/NIB, 1936).

Akan tetapi, pada tahun 1930-an dan bertahun-tahun sesudah itu, anak-anak yang menyandang keterbelakangan mental yang sangat parah dipandang sebagai tidak mampu didik.  The Ellen Terry Homes for Blind Mentally Defective Children (rumah penampungan anak tunanetra dengan ketunaan mental) mengakomodasi 30 anak “yang kondisinya sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat diberi pendidikan” (CTB/NIB, 1936).  Anak-anak tunanetra yang mengidap epilepsi berat juga dikesampingkan dari sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra dan sejumlah anak tunanetra yang menyandang ketunaan lain yang berat tetap berada di luar sistem pendidikan hingga sesudah diberlakukannya Education (Handicapped Children) Act (Department of Education and Science, 1970).

Sebagai respon terhadap semakin meningkatnya kepedulian terhadap anak-anak ini, sebuah sekolah didirikan oleh National Institute for the Blind pada tahun 1947 di Condover Hall, sebuah rumah peninggalan abad ke-16 di daerah pedesaan Shropshire.  Kepala sekolah pertamanya, Stanley Oscar Myers, menjadi seorang tokoh yang sangat penting dalam pengembangan pendidikan bagi anak-anak tunanetra dengan ketunaan tambahan.  Sekolah tersebut pada awalnya hanya melayani 60 anak usia 7-16, tetapi pada tahun 1959, sebagai respon terhadap semakin meningkatnya tuntutan kebutuhan, RNIB membuka Rushton Hall School di Northamptonshire untuk anak-anak usia 7-11 tahun yang buta menurut pendidikan dan mempunyai ketunaan tambahan, dan Condover menjadi sekolah lanjutan bagi anak-anak kelompok ini yang berusia 12-17 tahun.  Pada tahun yang sama, “Pathways”, sebuah unit untuk anak-anak yang tunanetra-rungu (deaf-blind), didirikan di Condover (Myers, 1975).

Continue reading

Categories: Pendidikan Integrasi, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Segregasi, Tunanetra | Leave a comment

Siapa yang Diperlukan Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi ?

Membicarakan siapa yang diperlukan dalam sebuah penyelenggaraan pendidikan pastinya adalah membicarakan sumber daya manusia. Hal ini sangat memegang peranan penting sekali atas berjalannya suatu sistem atau organisasi, tanpa sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas baik tentunya segala suatu tidak berjalan dengan baik pula. Dalam posting kami kali ini akan coba membahas mengenai sumber daya manusia yang diperlukan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi. Semoga bermanfaat.

Yang dimaksud dengan sumber daya manusia (SDM) dalam penyelenggraan pendidikan inklusi adalah seluruh pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam pengelolaan dan pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan dalam sebuah satuan pendidikan (sekolah). Dalam hal ini tenaga pendidik (guru) adalah salah satu komponen yang utama bersama kepala sekolah dan pihak-pihak pengambil keputusan (stakeholder). Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (Dir. Pembinaan SLB, 2007).

Continue reading

Categories: Inklusif, Pendidikan Luar Biasa | Leave a comment

Peran SLB Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi

Pendidikan inklusif yang diselenggarakan di sekolah regular sangat memerlukan dukungan teknis, terutama bagi anak dengan kecacatan khusus, seperti tuna netra, tuna grahita, tuna rungu, dan autism. Oleh karena itu pemerintah menyiapkan institusi yang membantu sekolah-sekolah regular penyelenggara pendidikan inklusif, berupa pusat sumber (Resourse Center). Lembaga ini dapat dibentuk secara khusus, atau memfungsikan SLB Negeri atau Swasta yang sudah ada dan memenuhi syarat untuk dipersiapkan menjadi pusat sumber, sehingga mampu melaksanakan fungsi dan peran sebagai Pusat Sumber.

Menurut Iim Wasliman (2009) Pusat Sumber (Resource Center) adalah lembaga khusus yang dibentuk dalam rangka pengembangan pendidikan inklusif  dan dapat dimanfaatkan oleh semua anak, khususnya Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Orang tua, Keluarga, Masyarakat, Sekolah, Pemerintah dan pihak lain yang berkepentingan untuk memproleh informasi yang seluas-luasnya, mendapatkan pelatihan berbagai keterampilan, memperoleh berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan  pendidikan inklusif.

Continue reading

Categories: Inklusif, Pendidikan Luar Biasa | Leave a comment

Sejarah Pendidikan Segregasi

Pada kesempatan kali ini kami akan coba menceritakan sejarah adanya pendidikan segregasi di Indonesia bagi anak-anak berkebutuhan khusus (dulu lebih dikenal penyandang cacat), yang lebih dikenal secara praktis oleh orang awam dengan sekolah luar biasa (SLB). Semoga bermanfaat.

Abad XVIII ditandai dengan perluasan bentuk pelayanan sosial bagi para penyandang cacat saat itu dari upaya perawatan menjadi layanan pendidikan. Meskipun telah ada beberapa upaya mendidik penyandang cacat sejak abad XVI, namun pendidikan formal bagi ABK baru muncul pertama kali pada abad XVIII (Irvine, 1988 dalam Sunardi, 1995). Selanjutnya dikemukakan bahwa pada tahun 1555, seorang pendeta berkebangsaan Spanyol bernama Pedro Ponce De Leon mencoba mengajar membaca, menulis, berbicara, berhitung, dan menguasai sejumlah mata pelajaran akademik kepada sekelompok anak tuli. Rintisan ini kemudian diikuti dengan penerbitan beberapa buku tentang pendiidkan untuk anak tuli oleh Joan Pablo Bonet (Spanyol) pada tahun 1620, berisis tentang berbagai metode yang dikembangkn dari rintisan De Leon; John Buwler (Inggris) pada tahun 1644; dan George Dalgarno (Inggris) pada tahun 1680 berjudul Didasofholus: The Deaf and Dumb Man’s Tutor. Yang disebutkan terakhir ini dianggap sebagai buku rintisan yang paling berpengaruh, berisi garis besar metode pembelajaran yang sampai saat ini secara luas digunakan oleh para pendidik, dengan penekanan bahwa penyandang tunarungu mempunyai kapasitas belajar yang sama dengan mereka yang dapat mendengar.

Continue reading

Categories: Pendidikan Luar Biasa | Leave a comment

Pendidikan Integrasi

Pemahaman konsep tentang pendidikan anak penyandang cacat terus berkembang sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada tahun delapan puluhan terjadi  gerakan yang kuat terhadap penyatuan pendidikan anak penyandang cacat bersama-sama dengan anak pada umumnya di sekolah biasa yang disebut dengan integrasi. Integrasi adalah penyediaan pendidikan yang berkualitas bagi siswa-siswa dengan kebutuhan kebutuhan khusus di sekolah biasa.

Dalam system pendidikan integrasi anak-anak penyandang cacat mempunyai kesempatan untuk mengikuti pendidikan di sekolah biasa bersama anak-anak pada umumnya. Akan tetapi kesempatan bagi anak penyandang cacat untuk mengikuti pendidikan di sekolah biasa dibatasi oleh adanya patokan yaitu bahwa  anak penyandang cacat dapat diterima di sekolah reguler sepanjang  anak ini dapat menyesuaikan diri dengan system yang berlaku bagi anak pada umumnya. Artinya anak penyandang cacat harus mampu menyesuaikan diri dengan system yang ada di sekolah itu.

Istilah integrasi digunakan sebagai kata benda dalam menggambarkan usaha-usaha untuk menghindari pemisahan dan isolasi pendidikan anak-anak penyandang cacat. Di dalam deskripsi dari usaha-usaha integrasi tercermin makna  organisasi yang terstruktur dan mempunyai karakteristik yang khas. Di dalam sebuah studi tentang integrasi (Lucas, 1981), menjelaskan bahwa organisasi pendidikan integrasi sebagai berikut:

 

a.   Sekolah reguler dan kelas reguler tanpa dukungan

Dalam organisasi ini anak penyandang cacat secara penuh berada di kelas dan sekolah regular. Layanan pendidikan yang diperoleh oleh anak  penyandang cacat sama seperti yang diperoleh oleh anak pada umumnya. Artinya anak penyandang cacat harus mengikuti standar yang berlaku bagi anak bukan penyandang cacat dalam hal kurikulum, evalusai, dan dalam penggunaan fasilitas.

 

b.   Kelas reguler ada dukungan untuk guru dan siswa

Dalam organisasi seperti ini anak penyandang cacat yang belajar di sekolah regular memperoleh dukungan dalam hal-hal tertentu yang tidak mungkin diperoleh secara bersama dengan yang bukan penyandang cacat. Misalnya seorang anak tunanetra memperoleh dukungan ketika mengerjakan soal ujian, ada orang lain yang membacakan soal-soal utuk dijawab. Demikian juga guru mendapat dukungan dari guru khusus ketika harus memeriksa hasil ujian yang ditulis dalam tulisan braille.

 

 c.   Kelas reguler full out support

Organisasisi integrasi full out support adalah anak penyandang cacat yang belajar di sekolah reguler pada waktu-waktu tertentu dapat ditarik keluar dari kelas untuk belajar bidang pelajaran tertentu yang dilakukan di tempat khusus (ruang sumber). Setelah itu kembali lagi ke kelas regular.

 

 

1). Kelas regular sebagai basis, kelas khusus paruh waktu

Dalam organisasi ini seorang anak penyandang cacat sebagai anggota dari kelas regular di seolah regular, akan tetapi ketika anak ini memerlukan layanan yang bersifat khusus pergi ke kelas khusus yang ada di sekolah itu. Artinya separuh waktu belajar berada di kelas regular dan separuh lagi berada di kelas khusus, tetapi basisnya tetap kelas regular.

 

2). Kelas khusus sebagai basis, kelas regular paruh waktu

Organisasi integrasi ini kebalikan dari organisasi dari (d.1), dimana anak penyandang cacat merupakan anggota  dari  kelas khusus yang ada di sekolah regular, tetapi sebagian dari waktu belajarnya dapat dilakukan di kelas reguler bersama dengan anak lainnya.

 

e.  Kelas khusus penuh

Anak penyandang cacat secara penuh belajar di kelas khusus yang berada di sekolah regular. Mereka hanya secara fisik berada di sekolah regular, tetapi mereka tidak terlibat dalam aktifitas belajar yang dilakukan bersama dengan anak lainnya, meskipun mereka berada pada lokasi (sekolah) yang sama.

 

f.  Sekolah khusus paruh waktu, sekolah regular paruh waktu

Organisasi integrasi seperti ini dilakukan melalui kerja sama antara sekolah khusus dengan sekolah reguler. Seorang anak penyandang cacat bersekolah di sekolah khusus, tetapi pada waktu-waktu tertentu anak ini bisa berada si sekolah reguler untuk belajar bidang tertentu bersama-sama dengan anak lainnya.

 

g.   Sekolah khusus penuh

Sekolah ini adalah sekolah yang secara khusus diperuntukan bagia anak penyandang cacat tertentu. Misalnya sekolah khusus bagi anak yang mengalami tunanetra, sekolah khusus bagi anak yang mengalami tunarungu, sekolah khusus bagi anak yang mengalami tunagrahita, dan sekolah khusus bagi anak yang mengalami tunadaksa. Sekolah seperti ini disebut dengan isilah segregasi.

Sangat jelas bahwa pendidikan integrasi melibatkan banyak perubahan baik di dalam maupun di luar sekolah. Sebagai contoh  perubahan sikap guru terhadap anak penyandang cacat yang ada di masyarakat, diperlukan perubahan system pendanaan, modifikasi bangunan sekolah, fasilitas transfortasi, organisasi dan  kegiatan masyarakat yang harus bermuara kepada kesejahteraan bersama.

 

Sumber:

Alimin, Zaenal (2004) Reorientasi Pemahaman Konsep Pendidikan Khusus Ke  Pendidikan Kebutuhan Khusus dan Implikasinya terhadap Layanan Pendidikan. Jurnal Asesmen dan Intervensi Anak Berkebutuhan Khusus. Vol.3 No 1 (52-63)

Johsen, Berit and Skjorten D. Miriam, (2001) Education, Special Needs Education an Intoduction. Unifub Porlag: Oslo

Lewis, Vicky (2003), Development and Disability. Blckwell Publishing Company: Padstow, Cornwall.

 

Semoga bermanfaat.

Salam Luar Biasa.

Categories: Pendidikan Luar Biasa | Leave a comment

Penyebab Ketunanetraan / Kebutaan

Ada berbagai faktor yang menyebabkan kelainan penglihatan (ketunanetraan) seperti kelainan struktur mata atau penyakit yang menyerang cornea, lensa, retina, saraf mata dan lain sebagainya. Di samping itu kelainan penglihatan juga dapat diperoleh karena faktor keturunan misalnya perkawinan antar saudara dekat dapat meningkatkan kemungkinan diturunkannya kondisi kelainan penglihatan. Secara garis besar kelainan penglihatan dapat disebabkan karena beberapa hal yaitu:

 

1. Kelainan Refraksi

Bagi seseorang  yang mengalami kelainan refraksi (pembiasan cahaya) tanpa disertai gangguan lain, biasanya dapat diperbaiki penglihatannya hingga menjadi normal dengan menggunakan kaca mata atau lensa kontak (contact lens).  Bagi penyandang kelainan refraksi yang telah dikoreksi dengan kaca mata biasanya tidak ada masalah dengan penglihatannya kecuali jika kaca mata atau lensa kontak yang diresepkan baginya tidak dipakai. Beberapa kelainan refraksi meliputi:

 

 Myopia dan Hyperopia

Dalam penglihatan normal, berkas cahaya paralel yang datang dari jauh akan terfokus pada retina.  Jika bola mata terlalu panjang dari depan ke belakang, maka berkas cahaya itu terfokus di depan retina dan hal ini mengakibatkan penglihatan menjadi kabur atau buram.

Seseorang yang mengalami myopia sering dikatakan memiliki penglihatan dekat (nearsightedness) karena ketajaman penglihatannya bagus pada jarak dekat tetapi mengalami masalah pada jarak jauh.  Pada penderita myopia image obyek yang dilihat tidak jelas, masalah ini terjadi selain karena bola mata lebih besar dari pada yang normal juga dapat terjadi pada bola mata yang normal tetapi elastisitas lensanya kurang baik dan kekuatan refraksi lensa dan cornea menguat.

Dalam kebanyakan kasus myopia, pemanjangan bola mata itu hanya sedikit dan tidak terus memanjang, dan koreksi dapat dilakukan dengan pemakaian kaca mata.  Akan tetapi, dalam sejumlah kecil kasus myopia, bola mata memanjang terus.  Kondisi ini dikenal dengan istilah progressive myopia atau high myopia, dan ketajaman penglihatan yang normal tidak akan dapat dicapai dengan pemakaian kaca mata ataupun lensa kontak

Sebaliknya jika bola mata lebih kecil dari yang normal atau lensa dalam keadaan tidak dapat berakomodasi dengan baik sehingga bentuknya cenderung cekung, akibatnya image obyek yang sedang dilihat difokuskan di belakang retina dan pada kondisi seperti ini penderita merasakan penglihatannya menjadi kabur. Kelainan seperti ini disebut hyperopia atau penglihatan jauh (farsightedness). Penderita hyperopia mengalami penurunan ketajaman penglihatan dan mengalami gangguan penglihatan pada jarak dekat  tetapi normal pada jarak jauh.

Dalam kasus hyperopia yang parah penglihatan menjadi tidak efektif.  Hyperopia sederhana dapat dikoreksi hingga ke penglihatan normal dengan mengunakan lensa cembung (lensa plus) sehingga berkas cahaya terfokus pada retina.  Permasalahan biasanya timbul hanya apabila kondisi ini disertai kondisi penglihatan lain seperti katarak.  Dalam kasus seperti ini, meskipun kaca mata akan diresepkan, tetapi ketajaman penglihatan tetap akan berkurang dan kondisi ini dapat disertai dengan keadaan juling.

 

Presbyopia

Dengan meningkatnya usia,  seseorang pada umumnya  mengalami penurunan fungsi akomodasi sehubungan dengan lemahnya elastisitas lensa dan cairan lensa yang mengeras. Oleh karena gangguan penglihatan ini umumnya berkaitan dengan meningkatnya usia maka, keadaan ini disebut presbyopia. Presbyopia biasanya terjadi pada usia 40-an dan penderita mengalami penurunan ketajaman penglihatan dan mengalami gangguan untuk membaca. Seseorang yang mengalami presbyopia dapat dibantu dengan sepasang kaca mata yang memiliki dua lensa. Lensa semacam ini disebut lensa bifocals,  satu lensa untuk membantu menyebarkan (diverge) cahaya dan yang lain untuk memfokuskan (converge) cahaya.

 

Astigmatism

Penyebab utama astigmatism adalah bervariasinya daya refraksi cornea atau lensa akibat kelainan dalam bentuknya permukaannya.  Hal ini mengakibatkan distorsi pada image yang terbentuk pada macula.  Bila kasusnya sederhana, kondisi ini dapat dikoreksi dengan memakai kaca mata dengan lensa silindris, tetapi permasalahan menjadi lebih berat bila kondisi ini disertai myopia dan hypermetropia.  Bila disertai dengan jenis gangguan penglihatan lain, koreksinya akan menjadi sulit dan dapat mengakibatkan berkurangnya ketajaman penglihatan bahkan kebutaan.

 

Katarak

Katarak adalah kelainan mata yang terjadi pada lensa di mana cairan dalam lensa menjadi keruh. Karena cairan dalam lensa keruh, lensa mata kelihatan putih dan cahaya tidak dapat menmbusnya. Orang yang mengidap katarak melihat seperti melalui kaca jendela yang kotor karena   keruhnya lensa menghalangi masuknya cahaya  ke retina.  Katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan yang utama baik pada anak-anak maupun orang tua.

 

2. Kelainan Lantang Pandangan

Penerimaan cahaya oleh otak sangat tergantung pada kualitas impuls yang ditimbulkan oleh retina. Terjadinya suatu hambatan atau kerusakan pada pusat penglihatan di otak atau bagian saraf tertentu akan menimbulkan gangguan penglihatan.

 

3. Kelainan Lain

Buta Warna

Seseorang yang tidak dapat membedakan warna disebabkan karena mengalami kerusakan atau kelainan  pada sel receptor di retina yang berbentuk kerucut yang disebut cone. Seseorang yang buta warna biasanya  ketajaman penglihatannya (visus) normal. Buta warna lebih banyak terjadi pada laki-laki dari pada perempuan.

Strabismus (juling)

Istilah strabismus  digunakan untuk menunjukkan suatu kondisi dimana image obyek yang dilihat tidak diterima secara baik oleh mata kanan dan mata kiri. Dengan kata lain kedua mata tidak bekerja secara bersama-sama karena tidak ada koordinasi yang baik antara otot-otot mata. Akibatnya dalam retina terdapat dua image terhadap satu obyek yang sedang dilihat. Kondisi ini disebut diplopia. Untuk menolong penderita strabismus dapat dilakukan operasi pada otot mata.

 

Nystagmus

Nystagmus adalah suatu kondisi dimana mata bergerak secara cepat dan tidak teratur. Nystagmus dapat terjadi pada seseorang karena kelelahan atau stress dan juga dapat terjadi karena adanya kerusakan pada otak atau gangguan medis lain yang kronis. Penderita nystagmus  tidak dapat melihat suatu obyek dengan baik karena matanya sselalu bergerak dan tidak dapat memfokuskan obyek yang sedang dilihat.

 

Glaucoma

Glaucoma mengakibatkan meningginya tekanan di dalam bola mata yang dapat mempengaruhi suplai darah ke kepala syaraf optik.  Terdapat beberapa jenis glaucoma: dapat merupakan penyakit tersendiri, atau dapat juga terkait dengan kondisi-kondisi lain, misalnya aniridia.  Satu jenis glaucoma yang terjadi pada anak-anak adalah buphthalmos (“mata sapi”), yang ditandai dengan membesarnya satu mata atau kedua belah mata.  Ini merupakan kondisi yang berbahaya, yang jika tidak diberi perawatan dapat merusak lensa, retina atau syaraf optik.  Jenis-jenis glaucoma lainnya ditandai dengan berkurangnya bidang pandang dan kesulitan melihat di tempat yang gelap atau redup.

 

Sumber:

Hallahan, D. P.  dan Kauffman, J.  M. ( 1991). Exceptional Children, Introduction to Special Education. Virginia: Prentice-Hall International, Inc

 

Semoga bermanfaat.

Salam Luar Biasa.

Categories: Pendidikan Luar Biasa, Tunanetra | Leave a comment

Proudly powered by WordPress Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Klinik Gangguan Bicara dan Oral motor

Informasi, Edukasi dan Konsultasi Online Gangguan Bicara dan Gangguan Oral Motor

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

@ernestprakasa

riveting roars of random rants

Dennysakrie63's Blog

Rumah Musik Denny Sakrie

Celotehan Calon Pengantin

ketika calon pengantin perempuan sedang bawel-bawelnya...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,109 other followers