Identifikasi & Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus

Menuju Peringatan Hari Sindroma Down Dunia 2014 Di Bandung

Sudah beberapa bulan belakangan ini admin jarang nulis di blog, dikarenakan kesibukan kerja. Kali ini harus sedikit dipaksakan untuk menulis kembali mengingat akan ada perhelatan acara yang akan sangat ramai diikuti oleh anak-anak berkebutuhan khusus, guru-guru, dan para pemerhati pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Seperti judul yang sudah dipaparkan di atas, acaranya adalah : Hari Sindroma Down Dunia 2014 (World Down Syndrome Day 2014).

Sebetulnya hari sindroma down dunia ini harus nya diperingati setiap tanggal 21 di bulan ke 3 setiap tahunnya, paling tidak dihelat selalu di bulan Maret. Mau mencoba melihat keramaian acara ini saat tahun 2013 ? silakan cek disini. Tahun ini tidak dapat dihelat pas di bulan Maret karena tidak mendapatkan ijin keramaian oleh kepolisian, mengingat saat kemarin mendekati persiapan pemilu. Ahhh gara-gara lomba caleg nyari kursi acara untuk anak berkebutuhan khusus down syndrome ini harus tertunda.

Tahun ini akan acara ini akan dihelat pada :

Di save ya, terus kalian harus datang

Di save ya, terus kalian harus datang

Sudah jelaskan ya ? Bila ada yang ditanyakan silakan lewat kolom komentar, halaman Facebook, atau mention twitter.

 

Datang ya, tinggal seminggu lagi loh menuju acara.

 

#SalamLuarBiasa

Jangan lupa follow juga kami disini, dan disini,

Categories: Cerita-cerita Luar Biasa, Identifikasi & Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus, Inklusif, Pendidikan Inklusi, Pendidikan Integrasi, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Segregasi, Tips-tips menangani anak berkebutuhan khusus, Tunagrahita | Leave a comment

Proses Persepsi Auditif dan Visual

Seorang individu akan selalu berhadapan dengan stimulus lingkungan, setiap stimulus dapat diakses melalui salah satu atau lebih modalitas pengindraan dan persepsi. Mekanisme terbentuknya pengertian (proses kognitif) melalui proses interaaksi antara stimulus dengan sensoris dan persepsi. Sebuah stimlus akan diterima oleh salah satu modulasi pengindraan (dalam hal ini khususnya penglihatan dan pendengaran). Stimulus yang dilihat akan masuk pada proses yang kedua yaitu proses menafsirkan obyek yang dilihat. Proses berikutnya masuk keingatan jangka pendek, pada proses ini peranan perhatian (attention) menjadi sangat penting, karena apabila tidak ada usaha untuk memfokuskan perhatian informasi tidak akan masuk kedalam memori jangka pendek. (diabaikan). Proses selanjutnya informasi yang telah berada pada memori jangka pendek akan masuk ke memori jangka panjang. Memori atau daya ingat mengandung pengertian merekontruksi pengalaman yang pernah dialami baik melalui persepsi penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, maupun penciuman yang tersimpan dalam struktur kognitif untuk dimunculkan kembali pada saat diperlukan (merespon stimulus yang relevan). Proses seperti itu disebut juga dengan recalling. Sebagai contoh seseorang anak melihat dan mendengar kucing mengeong, tiga hari kemudia ia melihat kembali binatang tersebut, tiba-tiba anak menunjuk sambil mengatakan itu kucing!, atau ketika anak sedang duduk kemudian ia mendengar ada suara meoong, tiba-taba ia menyebut ada kucing. Ini menunjukkan bahwa anak telah mampu mengidentifikasi tentang binatang yang disebut kucing. Gambaran tentang kucing sudah masuk ke dalam struktur kognitif anak. Dan inilah yang dimaksud dengan proses memori atau daya ingat.

Pada dasarnya memori atau daya ingat dikelompokkan menjadi dua yaitu ingatan jangka pendek (short term memory) dan ingatan jangka panjang (long term memory). Ingatan jangka pendek adalah proses merekontruksi informasi setelah melihat atau mendengar yang ditangkap melalui sensoris lainnya, rekontruksi itu terjadi dalam waktu yang relatif pendek (satuan detik). Misalnya, anak melihat beberapa obyek (segi tiga, segi empat dan lingkaran) setelah beberapa detik obyek itu diambil, kemudian anak ditanya, apa yang tadi kamu lihat ? Jika anak dapat menyebutkan kembali obyek yang dilihat dalam beberapa detik yang lalu itu, maka proses mengingat melalui memori jangka pendek telah terjadi. Dan ini menunjukkan bahwa anak tersebut telah memiliki kemampuan mengingat dalam waktu yang relatif singkat (memori jangka pendek). Proses seperti itulah yang dimaksud dengan memori jangka pendek.
Ingatan jangka panjang (long term memory) adalah proses merekontruksi informasi setelah melihat atau mendengar atau menangkapnya melalui sensoris lain dalam rentang waktu yang cukup lama (beberapa hari, minggu, bulan atau tahun ), dan tetap masih diingatnya. Sebagai contoh: seorang anak belajar dengan seorang guru selama periode tertentu. Dalam rentang waktu yang cukup lama ia tidak lagi bertemu dengan guru tersebut. Pada satu ketika anak bertemu kembali dengan gurunya, dan ternyata ia masih mengenal gurunya itu dengan baik. Proses ini yang disebut dengan ingatan jangka panjang. Contoh lain. Misalnya; saat ini kita masih tetap dapat mengenal teman-teman sekelas ketika duduk di SD 30 tahun yang lalu.

Kembali kemasalah proses persepsi dan pengindraan hubungannya dengan terbentuknya konsep dan pengetahuan dapat diuraikan dengan menjelaskan bagaimana proses pengindraan dan persepsi terjadi. Pengindraan sebetulnya merupakan proses fisiologis. Apa yang diindra selanjutnya ditrasfer ke otak dan membentuk sebuah gambaran. Namun hasil pembentukkan di otak tidak selamanya memberi gambaran seperti yang diindranya. Misalnya, seorang anak diminta untuk mengamati huruf /d/, disamping huruf tersebut berderet huruf-huruf seperti. /p/, /b/, /d/, /a/. Apabila anak dapat menunjukkan huruf (d) pada deretan huruf–huruf tadi, maka proses persepsi telah terjadi karena ada penafsiran yang sama. Tetapi jika yang ditunjuk adalah huruf /a/, maka yang terjadi hanya proses pengindraan. Sebetulnya anak melihat huruf /d/, tetapi apa yang dilihatnya tidak membentuk gambaran yang benar. Secara fisiologis ia tidak mengalami gangguan penglihatan, akan tetapi ia tidak dapat menafsirkan obyek yang dilihat dan inilah yang dimaksud mengalami gangguan persepsi

Categories: Identifikasi & Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus, Tips-tips menangani anak berkebutuhan khusus | 1 Comment

Jenis-jenis Persepsi

Pada bagian ini akan dibahas berbagai jenis persepsi, yaitu persepsi auditori dan persepsi visual berbagai jenis persepsi tersebut memiliki kaitan yang sangat erat dengan belajar akademik. Terjadinya gangguan pada salah satu jenis persepsi tersebut dapat menimbulkan masalah dalam belajar akademik.

A. Persepsi auditori

Salah satu modalitas pengamatan dalam berpersepsi yaitu pendengaran. Mendengar adalah menangkap bunyi-bunyi suara dengan indra pendengaran. Mendengarkan bukan hanya melibatkan unsur jasmaniyah, namun juga melibatkan unsur psikologis seperti perhatian, interpretasi, dan penyimpanan.

Sebagaimana yang dikemukakan Lerner (1988:285) berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak anak yang berkesulitan belajar membaca memiliki kesulitan auditoris, linguistik, dan fonologis. Anak-anak tersebut tidak memiliki masalah dalam ketajaman pendengaran, tetapi memiliki ketidak mampuan dalam persepsi auditoris, yaitu kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikan segala sesuatu yang didengar. Persepsi auditoris dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu :

  1. Kesadaran fonologis, adalah kesadaran bahwa bahasa dapat dipecah ke dalam kata, suku kata, dan fonem (bunyi huruf). Mereka tidak bisa mengingat atau membedakan bunyi berbagai kata dan juga tidak dapat mengingat jumlah bunyi dalam satu kata. Konsekuansi dari tidak adanya kesadaran fonoogis tersebut adalah anak menjadi tidak dapat memahami dan tidak dapat menggunakan prinsip alfabetik yang diperlukan untuk belajar fonik dan membaca kata-kata.
  2. Diskriminasi auditoris, adalah kemampuan mengingat perbedaan antara bunyi-bunyi fonem dan mengidentifikasi kata-kata yang sama dengan kata-kata yang berbeda. Anak yang memiliki kesulitan dalam diskriminasi auditoris mungkin akan sulit membedakan antara kata kakak dengan bapak atau antara ibu dengan abu.
  3. Ingatan auditoris merupakan kemampuan untuk menyimpan dan mengingat sesuatu yang didengar. Sebagai contoh, anak dapat diminta untuk melakukan tiga aktifitas, seperti menutup jendela, membuka pintu, dan meletakkan kotak di atas meja. Perintah-perintah semacam ini dapat digunakan untuk mengetahui ingatan auditoris seorang anak.
  4. Urutan auditoris merupakan kemampuan memngingaturutan hal-hal yang disampaikan secara lisan. Urutan alfabet, nama-nama hari, dan nama-nama bulan adalah contoh urutan penting yang perlu dikuasai oleh anak.
  5. Perpaduan auditoris, adalah kemampuan memaduka elemen-elemen fonik tunggal atau berbagai fonem menjadi suatu kata yang utuh. Anak dengan ketidakmampuan dalam perpaduan auditoris akan mengalami kesulitan untuk memadukan fonem-fonem “m-a-i-n” untuk membentuk kata “main”.

 

B. Persepsi visual  

Modalitas pengamatan kedua dalam berpersepsi yaitu penglihatan. Melihat adalah menangkap informasi dengan indra penglihatan. Melihat bukan hanya melibatkan unsur jasmaniyah, namun juga melibatkan unsur psikologis seperti perhatian, interpretasi, dan penyimpanan.

Persepsi visual memainkan peranan yang sangat penting dalam belajar di sekolah, terutama membaca. Anak dengan gangguan persepsi visual akan mengalami kesulitan untuk membedakan bentuk-bventuk geometri, huruf-huruf atau kata-kata. Ada lima jenis persepsi visual, yaitu :

  1. hubungan keruangan (spatial relation), menunjuk pada persepsi tentang posisi berbagai objek dalam ruang. Dimensi fungsi visual ini mengimplikasikan persepsi tentang tempat suatu objek atau simbol (gambar, huruf, angka) dan hubungan keruangan yang menyatu dengan sekitarnya. Dalam membaca, kata-kata harus dilihat sebagai keseluruhan yang terpisah yang dikelilingi oleh ruang. Kemampuan hubungan keruangan merupakan bagian yang sangat penting dalam belajar matematika.
  2. diskriminasi visual (visual discrimination), menunjuk pada kemampuan membedakan suatu objek dari objek yang lain. Dalam tes kesiapan belajar misalnya, anak mungkin diminta menemukan gambar kelinci yang bertelinga satu dari sederetan kelinci yang bertelinga dua. Jika anak diminta membedakan huruf n dengan m, ia harus mengetahui jumlah bongkol pada tiap huruf tersebut. Keterampilan memasangkan gambar, bentuk, atau kata-kata yang sama adalah bentuk tugas diskriminasi visual yang lain. Berbagai objek mungkin dibedakan oleh warna, bentuk, pola, ukuran, posisi atau kecemerlangan mereka. Kemampuan membedakan berbagai huruf dan kata secara visual merupakan bagian yang esensial dalam belajar.
  3. diskriminasi bentuk dan latar belakang (figure-ground discrimination), menunjuk pada kemampuan membedakan suatu objek dari latar belakang yang mengelilingi. Anak yang memiliki kekurangan dalam bidang ini tidak dapat memusatkan perhatian pada suatu objek karena sekeliling objek tersebut ikut mempengaruhi perhatiannya. Akibat dari keadaan semacam ini anak menjadi terkecoh perhatiannya oleh berbagai rangsangan yang berada di sekitar objek yang harus diperhatikan.
  4. visual colsure, menunjuk pada kemampuan mengingat dan mengidentifikasi suatu objek meskipun objek tersebut tidak diperlihaykan secara keseluruhan. Seotrang pembaca yang baik misalnya, ia dapat membaca kalimat secara utuh meskpun ada sebagian yang ditutup.bagi dia, ada cukup kata atau huruf sebagai petunjuk untuk memecahkan masalah pada bagian kalimat yang tersisa.
  5. mengenal objek (object recognition), menunjuk pada kemampuan mengenal sifat berbagai objek pada saat mereka memandang. Pengenalan tersebut mencakup berbagai bentuk geometri, hewan, huruf, angka, kata, dan sebagainya.

Suatu analisis tentang persepsi visual telah dibuat oleh Money pada tahun 11966 (Lerner, 1981:216) berkenaan dengan hubungan dunia perseptual berbagai objek dengan dunia perseptual huruf dan kata. Suatu generalisasi perseptual yang dibuat oleh anak pada taha perkembangan sebelum belajar membaca adalah melalui hukum ketetapan objek. Berdasarkan hukum ini anak menyimpulkan bahwa suatu objek tetap masih sama nama maupun artinya tanpa memperhatikan posisi keberadaannya, arah mukanya, atau adanya sedikit perubahan melalui penambahan atau pengurangan. Sebuah meja, misalnya, tetap sebuah meja tanpa menghiraukan apakah meja itu berkaki satu atau berkaki empat, berada di ruang makan atau di ruang tamu, atau apakah dilapisi kaca atau tudak.

Pada saat menghadapi berbagai huruf dan kata, anak menguji kebenaran generalisasi perseptual yang telah dipercaya kebenarannya. Pada saat ini anak mulai belajar bahwa penempatan sebuah lingkaran pada satu tongkat, di kiri atau di kanan tongkat, di atas atau di bawah, telah mengubah nama huruf  b menjadi d kemudian menjadi p dan selanjutnya menjadi q. Begitu pula dengan letak huruf, yang dapat mengubah kata ibu menjadi ubi, kata palu menjadi lupa, merupakan suatu peristiwa membingungkan anak. Implikasi dari peristiwa semacam itu adalah, anak harus diajak memformulasikan generalisasi perseptual mereka.

Apa yang kalian lihat ???

Apa yang kalian lihat ???

Categories: Identifikasi & Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus, Tips-tips menangani anak berkebutuhan khusus | 1 Comment

Konsep Persepsi

Persepsi merupakan proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Melalui persepsi ini manusia akan terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Manusia mengenal dunia nyata, baik dirinya sendiri maupun dunia sekitarnya di mana ia berada, dengan cara melihat,mendengar, membau, meraba dan mengecap itu disebut modalitas persepsi.

Menurut Lerner, persepsi adalah batasan yang digunakan pada proses memahami dan menginterpretasikan informasi sensoris, atau kemampuan intelek untuk menyarikan makna dari data yang diterima oleh berbagai indra (Lerner, 1988: 282).

Individu akan menangkap berbagai gejala di luar dirinya melalui indera yang dimilikinya. Proses penerimaan rangsang ini disebut pengindraan. Akan tetapi pengertian terhadap lingkungan atau dunia sekitarbukan sekedar hasil pengindraan, sebab dalam persepsi ada unsur interpretasi terhadap rangsangan-rangsangan yang diterima tersebut. Interpretasi inilah yang menyebabkan individu menjadi subjek dari pengalamannya. Rangsangan-rangsangan yang diterima ini menyebabkan individu mempunyai suatu pengertian terhadap objek, kualitas, hubungan antar gejala maupun peristiwa. Karena persepsi bukan sekedar pengindraan dan didalamnya ada unsur interpretasi maka ada kalangan yang menyatakan persepsi sebagai the interpretation of experience (penafsiran pengalaman).

Persepsi juga merupakan proses yang menjembatani perangsang dan berpikir. Pada peserta didik yang menyandang gangguan otak, proses persepsi itulah yang mengalami gangguan dan hambatan. Strauss (1980) misalnya memanfaatkan psikologi gestalt untuk menjelaskan hal tersebut dan menguji kemampuan persepsi visual individu. Menurutnya suatu lapangan visual dialami sebagai serangkaian proses yang tunduk pada hukum-hkum gestalt. Artinya semakin besar kesamaan atau semakin berdampingan proses-proses itu dalam ruang dan waktu, semakin besar pula daya tarik menariknya.

Persepsi adalah proses yang memanfaatkan pengetahuan sebelumnya untuk mengumpulakn dan memaknai stimuli yang telah didaftar oleh organ pengindraan. Dua aspek persepsi yang yang sangat relevan dengan kognisi adalah rekognisi pola (pattern of recognation) dan perhatian (attention). Rekognisi pola mencakup pengidentifikasian serangkaian stimulasi pengindraan yang kompleks, seperti tulisan alphabetis, wajah seseorang atau pemandangan. Sedangkan perhatian merujuk pada konsentrasi pada tugas mental dimana individu mencoba meniadakan stimuli lain yang mengganggu.

Persepsi biasanya juga dilukiskan menurut aspek pengaturannya, supaya memungkinkan subjek melakukan orientasi. Adapun pengaturan tersebut adalah pengaturan sudut pandang ruang, waktu, gestalt dan arti. Menurut sudut pandang ruang, persepsi dilukiskan dalam pengertian-pengertian atas-bawah, kiri-kanan, jauh-dekat, tinggi-rendah, dan sebagainya. Sedangkan menurut sudut pandang waktu dunia persepsi dilukiskan dengan pengertian-pengertian seperti masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang dalam berbagai variasi.

Adapun menurut sudut pandang gestalt adalah sesuatu yang merupakan kebulatan dan dapat berdiri sendiri lepas dari yang lain, misalnya rumah, orang, meja, kursi, gambar dan sebagainya. Sementara itu menurut sudut pandang arti, objek-objek yang diamati akan diberi arti atau dipersepsi menurut artinya, seperti sebuah pabrik, sebuah sekolah, sebuah rumah kediaman, sebuah mesjid, dan sebagainya.

Menurut Lerner (1988:289) pada anak yang memiliki persepsi yang menyeluruh (whole percievers) dan ada pula anak yang mempersepsikan berbagai objek secara bagian demi bagian (part percievers). Anak yang whole percievers melihat suatu objek secara keseluruhan atau secara gestalt, sedangkan anak yang part percievers melihat suatu objek dari sudut detail dan menghilangkan gestalt.

Apa yang kalian lihat ?Barisan kapal ? atau sebuah benteng ?(Tergantung persepsi kalian)

Apa yang kalian lihat ?
Barisan kapal ? atau sebuah benteng ?
(Tergantung persepsi kalian)

Categories: Identifikasi & Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus, Tips-tips menangani anak berkebutuhan khusus | Leave a comment

Tahapan Komunikasi Anak Autis

Walaupun anak autis mengalami gangguan dalam berkomunikasi, bukan berarti anak autis tidak bisa berkomunikasi. Anak autis tetap melakukan komunikasi tetapi dengan gaya komunikasi yang berbeda.

Ada empat tingkatan komunikasi pada anak autis, yang tergantung dari kemampuan berinteraksi, cara berkomunikasi, dan pengertian anak itu sendiri. Keempat tahap tersebut adalah “The Own Agenda Stage”, “The Requester Stage”, “The Early Communicator Stage” dan “The Partner Stage”.

Pada tahap pertama (The Own Agenda Stage) anak biasanya merasa tidak bergantung pada orang lain, ingin melakukan sesuatu sendiri. Anak kurang berinteraksi dengan orang tua dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan anak lain. Anak juga melihat atau meraih benda yang dia mau. Anak tidak berkomunikasi dengan orang lain dan bermain dengan cara yang tidak lazim. Anak juga membuat suara untuk menenangkan diri, menangis atau menjerit untuk menyatakan protes. Anak suka tersenyum dan tertawa sendiri. Anak pada tahap ini hampir tidak mengerti kata-kata yang kita ucapkan.

Pada tahap kedua (The Requester Stage), anak mulai dapat berinteraksi walaupun dengan singkat. Anak menggunakan suara atau mengulang bebeapa kata untuk menenangkan diri atau memfokuskan diri. Anak meraih yang dia mau atau menarik tangan orang lain bila menginginkan sesuatu. Anak meraih yang dia mau atau menarik tangan orang lain bila menginginkan sesuatu. Apabila anak diajak bermain yang melibatkan kontak fisik, anak bisa meminta anda untuk meneruskan permainan fisik dengan melakukan kontak mata, senyum, gerak tubuh atau suara.Anak kadang-kadang mengerti perintah keluarga dan tahap-tahap kegiatan rutin di keluarga.

Pada tahap ketiga (The Early Communicator Stage) anak dapat berinteraksi dengan orang tua dan orang yang dikenal. Anak ingin mengulang permainan dan bisa bermain dalam jangka waktu lama. Anak meminta anda meneruskan permainan fisik yang disukai dengan menggunakan gerakan yang sama, suara, dan kata setiap anda main. Kadang-kadang anak meminta atau merespon dengan mengulang apa yang anda katakan (echolali).

Anak juga dapat meminta sesuatu dengan menggunakan gambar, gerak tubuh, atau kata. Anak mulai dapat memprotes atau menolak sesuatu dengan menggunakan gerak, suara, kata yang sama. Anak pada tahap ini dapat mengerti kalimat sederhana atau kalimat yang sering digunakan, mengerti nama benda atau nama orang yang sehari-hari ditemui, dapat mengatakan “hai” dan “dadah”, dapat menjawab pertanyaan dengan mengatakan ya/tidak, dan dapat menjawab pertanyaan ‘apa itu?”

Pada tahap yang paling tinggi yaitu “The Partner Stage”, anak dapat berinteraksi lebih lama dengan orang lain dan dapat bermain dengan anak lain. Anak juga sudah dapat menggunakan kata-kata atau metode lain dalam berkomunikasi untuk meminta protes, setuju, menarik perhatian sesuatu, bertanya dan menjawab sesuatu. Anak juga dapat mulai menggunakan kata-kata atau metode lain untuk berbicara mengenai waktu lampau dan yang akan datang, menyatakan keinginannya dan meminta sesuatu.

Anak pada tahap ini sudah dapat membuat kalimat sendiri dan melakukan percakapan pendek. Kadang-kadang anak mengulanginya membetulkan apa yang dikatakannya ketika orang lain tidak mengerti. Anak pada tahap ini sudah lebih banyak mengerti perbendaharaan kata-kata.

Tetapi pada tahap Partner Stage ini, anak masih punya kesulitan dalam berkomunikasi. Umpamanya anak berhenti bermain dengan anak lain bila tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, seperti dalam pemainan imajiner yang mengandung banyak pembicaraan atau bermain pura-pura. Anak juga akan menggunakan echolali (menirukan perkataan orang lain) bila dia tidak mengerti perkataan orang lain atau bila dia tidak dapat membuat kalimat.

Anak pada tahap akhir ini masih mengalami kesulitan dalam mengikuti percakapan. Cara mengatasi kesulitan ini adalah dengan merespon orang dengan berinisiatif bercakap-cakap sendiri, berusaha bercakap-cakap dengan topik yang disukai. Anak mungkin melakukan kesalahan tata bahasa terutama kata ganti, sepeti kamu, saya, dia. Anak akan bingung bila percakapan terlalu rumit atau orang tidak berkata langsung padanya.

Anak juga dapat mengalami kesulitan dengan aturan percakapan. Anak tidak tahu bagaimana memulai dan mengakhiri percakapan, tidak mendengar perkataan orang lain, tidak bisa fokus pada satu topik, tidak berusaha mengklarifikasi perkataan yang tidak dimengerti orang dan memberi terlalu sedikit detail atau terlalu banyak detail. Anak mungkin tidak paham isyarat sosial yang diberikan orang lain melalui ekspresi wajah atau bahasa tubuh dan tidak mengerti humor atau permainan kata-kata.

Categories: Autis, Identifikasi & Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus, Tips-tips menangani anak berkebutuhan khusus | Leave a comment

Pelaksanaan Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

Posting tulisan kali ini akan memcoba memaparkan beberapa langkah teknis pelaksanaan identifikasi bagi anak berkebutuhan khusus terutama dalam setting sekolah. Tulisan ini merupakan lanjutan dari hasil tulisan sebelumnya, bisa dilihat disini. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat secara praktis.

A. Sasaran Identifikasi

Sebelum mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus secara langsung, biasanya akan dilakukan identifikasi secara umum terhadap seluruh anak usia pra-sekolah dan usia sekolah dasar di suatu kelas / sekolah kemudian dikerucutkan. Sedangkan secara khusus (operasional), sasaran identifikasinya adalah anak dengan kebutuhan khusus adalah:

  1. Anak yang sudah bersekolah di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/ setingkat;
  2. Anak yang akan masuk ke Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/setingkat;
  3. Anak yang belum/tidak bersekolah karena orangtuanya merasa anaknya tergolong anak dengan kebutuhan khusus sedangkan lokasi SLB jauh dari tempat tinggalnya; sementara itu, semula SD terdekat belum/tidak mau menerimanya;
  4. Anak yang drop-out Sekolah Dasar/Madrasah.Setingkat Ibtidaiyah karena faktor akademik.

Continue reading

Categories: Identifikasi & Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus | Leave a comment

Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

Istilah identifikasi secara harfiah dapat diartikan menemukan atau menemukenali.

Istilah identifkasi anak dengan kebutuhan khusus dimaksudkan merupakan suatu usaha seseorang (orang tua, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya) untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, social, emosional/tingkah laku) dalam pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal).

Setelah dilakukan identifikasi, kondisi seseorang dapat diketahui, apakah pertumbuhan/perkembangannya termasuk normal atau mengalami kelainan/penyimpangan. Kegiatan identifikasi sifatnya masih sederhana dan tujuannya lebih ditekankan pada menemukan (secara kasar) apakah seorang anak tergolong anak dengan kebutuhan khusus atau bukan. Maka biasanya identifikasi dapat dilakukan oleh orang-orang yang dekat (sering berhubungan/bergaul) dengan anak, seperti orang tuanya, pengasuhnya, gurunya, dan pihak-pihak yang terkait dengannya. Sedangkan langkah berikutnya, yang sering disebut asesmen, bila diperlukan dapat dilakukan oleh tenaga profesional, seperti dokter, psikolog, neurolog, orthopedagog, therapis, dan lain-lain.

Dalam istilah sehari-hari, identifikasi sering disebut dengan istilah penjaringan, sedangkan asesmen disebut dengan istilah penyaringan.

Tujuan Identifikasi

Secara umum tujuan identifikasi adalah untuk menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (fisik, intelektual, sosial, emosional, dan/atau sensoris neurologis) dalam pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal), yang hasilnya akan dijadikan dasar untuk penyusunan program pembelajaran sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.

Dalam rangka pendidikan inklusi, kegiatan identifikasi anak dengan kebutuhan khusus dilakukan untuk lima keperluan, yaitu: (1) penjaringan (screening), (2) pengalihtanganan (referal), (3) klasifikasi, (4) perencanaan pembelajaran, dan (5) pemantauan kemajuan belajar.
1. Penjaringan (screening)

Penjaringan dilakukan terhadap semua anak di kelas. Pada tahap ini identifiksi berfungsi menandai anak-anak mana yang menunjukkan gejala-gejala tertentu, kemudian menyimpulkan anak-anak mana yang mengalami kelainan/penyimpangan tertentu, sehingga tergolong anak dengan kebutuhan khusus.

2. Pengalihtanganan (referral)

Berdasarkan gejala-gejala yang ditemukan pada tahap penjaringan, selanjutnya anak-anak dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pertama, ada anak yang tidak perlu dirujuk ke ahli lain (tenaga profesional) dan dapat langsung ditangani sendiri oleh guru dalam bentuk layanan pembelajaran yang sesuai.

Kedua, ada anak yang perlu dirujuk ke ahli lain terlebih dulu (referal) seperti psikolog, dokter, orthopedagog (ahli PLB), dan/atau therapis, baru kemudian ditangani oleh guru.

Proses perujukan anak oleh guru ke tenaga professional lain untuk membantu mengatasi masalah anak yang bersangkutan disebut proses pengalihtanganan (referral). Jika tenaga professional tersebut tidak tersedia dapat dimintakan bantuan ke tenaga lain yang ada seperti Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) atau Konselor.

3. Klasifikasi

Pada tahap klasifikasi, kegiatan identifikasi bertujuan untuk menentukan apakah anak yang telah dirujuk ke tenaga professional benar-benar memerlukan penanganan lebih lanjut atau langsung dapat diberi pelayanan pendidikan khusus.Apabila berdasar pemeriksaan tenaga professional ditemukan masalah yang perlu penanganan lebih lanjut (misalnya pengobatan, therapy, latihan-latihan khusus, dan sebagainya) maka guru tinggal mengkomunikasikan kepada orang tua siswa yang bersangkutan. Jadi guru tidak mengobati dan/atau memberi therapy, melainkan sekedar meneruskan kepada orang tua tentang kondisi anak yang bersangkutan. Guru hanya akan membantu siswa dalam hal pemberian pelayanan pendidikan sesuai dengan kondisi anak. Apabila tidak ditemukan tanda-tanda yang cukup kuat bahwa anak yang bersangkutan memerlukan penanganan lebih lanjut, maka anak dapat dikembalikan ke kelas semula untuk mendapatkan pelayanan pendidikan khusus.

Kegiatan klasifikasi ini memilah-milah mana anak dengan kebutuhan khusus yang memerlukan penanganan lebih lanjut dan mana yang langsung dapat mengikuti pelayanan pendidikan khusus di kelas reguler.

4. Perencanaan pembelajaran

Pada tahap ini, kegiatan identifikasi bertujuan untuk keperluan penyusunan program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI). Dasarnya adalah hasil dari klasifikasi. Setiap jenis dan gradasi (tingkat kelainan) anak dengan kebutuhan khusus memerlukan program pembelajaran yang berbeda satu sama lain.

5. Pemantauan kemajuan belajar

Kemajuan belajar perlu dipantau untuk mengetahui apakah program pembelajaran khusus yang diberikan berhasil atau tidak. Apabila dalam kurun waktu tertentu anak tidak mengalami kemajuan yang signifikan (berarti), maka perlu ditinjau lagi beberapa aspek yang berkaitan. Misalnya apakah diagnosis yang kita buat tepat atau tidak, Program Pembelajaran Individual (PPI) yang kita susun sesuai atau tidak, bimbingan belajar khusus yang kita berikan sesuai atau tidak, dan seterusnya.

Sebaliknya, apabila dengan program khusus yang diberikan, anak mengalami kemajuan yang cukup signifikan maka program tersebut perlu diteruskan sambil memperbaiki/menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada.

Dengan lima tujuan khusus di atas, identifikasi perlu dilakukan secara terus menerus oleh guru, dan jika perlu dapat meminta bantuan dan/atau bekerja sama dengan tenaga professional terkait.

Sekian untuk tulisan kali ini, tunggu kelanjutan tulisan mengenai identifikasi anak berkebutuhan khusus ini. Semoga bermanfaat.

Bila ada yang ditanyakan, silakan melalui comment box.

Categories: Identifikasi & Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus | Leave a comment

Proudly powered by WordPress Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Klinik Gangguan Bicara dan Oral motor

Informasi, Edukasi dan Konsultasi Online Gangguan Bicara dan Gangguan Oral Motor

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

@ernestprakasa

riveting roars of random rants

Dennysakrie63's Blog

Rumah Musik Denny Sakrie

Celotehan Calon Pengantin

ketika calon pengantin perempuan sedang bawel-bawelnya...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,109 other followers