Sejarah Pendidikan bagi Tunanetra di Inggris bag-2

Diterjemahkan dari:

Education, Provision and Contemporary Issues

Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. Part I. London: David Fulton Publishers.

Oleh

Didi Tarsidi

McCall, S. (1999). “Historical Perspectives” dalam Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999, pp.2-13). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.  

Sekolah bagi Anak Kurang Awas (Low Vision)

Sekitar awal abad ke-20, kebutuhan pendidikan anak-anak kurang awas (yang ketika itu disebut partially sighted atau partially blind) mulai diakui sebagai berbeda dari kebutuhan anak-anak yang buta.  Klasifikasi kebutaan hingga saat itu demikian kabur sehingga anak-anak yang masih memiliki sisa penglihatan dengan mudah dapat dimasukkan ke sekolah khusus untuk anak-anak yang buta ataupun ke sekolah biasa.

Pada tahun 1902, seorang dokter mata muda, N. Bishop Harman, diberi tanggung jawab untuk memberikan layanan optalmologis kepada sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra di London (Hathaway, 1964).  Harman menemukan bahwa banyak anak di sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra di London masih memiliki cukup banyak sisa penglihatan untuk memperoleh keuntungan dari metode pengajaran visual.  Atas rekomendasinya, anak-anak yang mengidap myopia berat dan bentuk-bentuk kehilangan sebagian penglihatan lainnya secara tentatif diperkenalkan dengan metode-metode pengajaran visual di sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra di London.             Kelas pertama untuk anak-anak kurang awas didirikan pada tahun 1908 di sebuah sekolah dasar biasa di Camberwell, sebuah tempat di wilayah London.  Pada awalnya, anak-anak kurang awas tersebut dilarang membaca dan menulis, dan kegiatan belajar/mengajar dilaksanakan secara lisan.  Praktek ini berangsur-angsur berubah dengan diizinkannya penggunaan tulisan cetak tangan berukuran besar pada papan tulis (lihat Gambar 1.1).

Gambar 1.1 Meja “Harman” dari salah satu kelas pertama untuk anak-anak kurang awas

Gambar 1.1 Meja “Harman” dari salah satu kelas pertama untuk anak-anak kurang awas

Kelas-kelas lain didirikan di sekolah-sekolah umum di London dan tempat-tempat lain di seluruh Inggris, tetapi sementara beberapa kelas khusus itu bertahan terus, sekitar tahun 1930 kebanyakan penyelenggaraan hpendidikan bagi anak kurang awas ini dilaksanakan di sekolah khusus yang terpisah.         Pada tahun 1931 National Board of Education membentuk sebuah panitia di bawah kepemimpinan Crowther untuk mengumpulkan informasi tentang pendidikan anak kurang awas.  Di antara rekomendasi panitia ini adalah bahwa istilah “partially sighted” lebih tepat daripada “partially blind” untuk anak-anak ini, dan bahwa sebaiknya mereka tidak disekolahkan di sekolah untuk anak-anak yang buta.

Perwakilan medis panitia itu juga merekomendasikan pelonggaran pembatasan dalam hal membaca dan menulis serta latihan fisik yang telah dipraktekkan hingga saat itu demi alasan “penghematan penglihatan”, suatu keyakinan yang salah bahwa sisa penglihatan akan semakin berkurang bila dipergunakan sehingga perlu dihemat dengan membatasi penggunaannya.  Sayangnya laporan Crowther itu kecil sekali dampaknya terhadap pendidikan anak-anak kurang awas, dan jumlah tempat bagi anak-anak ini di kelas-kelas di sekolah umum tetap terbatas hingga diberlakukannya Undang-undang Pendidikan (Education Act) 1945 (Department of Education and Science [DES], 1972).

 

Berbagai Bentuk Penyelenggaraan Lain

Sekitar tahun 1930-an berbagai bentuk penyelengaraan pendidikan tersedia untuk berbagai kelompok usia.  National Institute for the Blind mendirikan “Sunshine Homes for Blind Babies” (rumah sinar mentari bagi bayi tunanetra) di seluruh Inggris pada tahun 1918, 1923, dan 1924 (College of Teachers of the Blind/National Institute for the Blind [CTB/NIB], 1936).  Rumah-rumah ini, yang melayani “anak-anak yang tidak dapat dilayani secara memadai di rumahnya sendiri”, menawarkan pendidikan berasrama bagi anak-anak pra-sekolah sedini mungkin.  Anak-anak pra-sekolah yang tidak tinggal di Sunshine Home sering mendapat kunjungan dari pekerja sosial yang disebut “home teachers for the blind“, satu peranan yang telah berkembang dari “guru membaca kunjung” yang umum pada abad sebelumnya.

Pendidikan dasar bagi anak-anak tunanetra tetap wajib antara usia lima sampai 16 tahun.  Kebanyakan dari anak-anak ini bersekolah di sekolah khusus bagi tunanetra hingga usia 16 tahun dan kemudian disalurkan ke pusat latihan bagi tunanetra di mana mereka mendapat pengajaran kekaryaan dalam keterampilan-keterampilan seperti membuat keranjang dan sikat, menata tempat tidur, memperbaiki sepatu, bertenun atau penyetelan piano (piano tuning).

Pada usia 11 atau 12 tahun, anak-anak tunanetra yang paling  berkemampuan diseleksi untuk pendidikan lanjutan dan menengah yang diselenggarakan di Worcester College for the Blind, Chorleywood College for Girls with Little or No Sight, atau The Royal Normal College for the Blind.  Pusat-pusat pendidikan ini menyiapkan siswa-siswanya untuk ujian negara yang hasilnya dapat membawa mereka ke universitas atau karier dalam profesi-profesi tertentu.

Pada tahun 1930-an pun, diakui bahwa penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia sekolah yang diidentifikasi sebagai menyandang ketunanetraan itu masih memerlukan reorganisasi.  Sebagian besar dari ke-34 sekolah khusus yang ada hanya mempunyai murid dalam jumlah kecil (kadang-kadang hanya 20 orang) dan tidak dapat menawarkan kurikulum yang luas ataupun kelas-kelas yang cukup homogen.

College of Teachers of the Blind dan the National Institute for the Blind (CTB/NIB, 1936) merekomendasikan suatu reorganisasi nasional sehingga pendidikan bagi anak-anak tunanetra hanya diselenggarakan oleh sekolah-sekolah yang lebih besar dalam jumlah yang lebih sedikit, yang kesemuanya berasrama.  Mereka juga mengusulkan diselenggarakannya taman inderia regional berasrama untuk kanak-kanak di bawah usia lima tahun, dan mempertimbangkan untuk mereorganisasi sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra agar sesuai dengan sistem baru yang diberlakukan bagi sekolah-sekolah umum, di mana semua anak akan meninggalkan sekolah dasar pada usia 11 tahun untuk masuk ke sekolah lanjutan dan menengah yang terpisah.

Perang Dunia Kedua mengacaukan rencana pengembangan sistem pendidikan bagi tunanetra itu, dan banyak di antara sekolah khusus di kota-kota untuk sementara waktu dipindahkan ke daerah pedesaan karena alasan keamanan.  Tahun-tahun sesudah Perang Dunia Kedua ditandai oleh konsolidasi penyelenggaraan sekolah-sekolah khusus.

Undang-undang Pendidikan (Education Act) 1944 telah meredefinisikan kategori ketunaan dan mencakup untuk pertama kalinya kategori “partially sighted” (kurang awas) yang didefinisikan sebagai “pupils who by reason of defective vision cannot follow the ordinary curriculum without detriment to their sight or to their educational development, but can be educated by special methods involving the use of sight” (siswa-siswa yang karena alasan ganguan penglihatan tidak dapat mengikuti kurikulum biasa tanpa membahayakan penglihatannya atau perkembangan pendidikannya, tetapi dapat dididik dengan metode-metode khusus yang mencakup penggunaan penglihatan).

Antara tahun 1945 dan 1947 empat sekolah berasrama yang sebelumnya mengakomodasi siswa-siswa yang buta maupun kurang awas direorganisasi menjadi sekolah untuk siswa-siswa kurang awas saja.  Pada akhir tahun 1940-an, beberapa sekolah khusus bagi tunanetra di bagian utara England direorganisasi menjadi sekolah dasar dan sekolah lanjutan, dan siswa-siswa berganti sekolah pada usia 11 tahun.

Pada akhir tahun 1940-an dan awal tahun 1950-an terjadi peningkatan yang tak diduga dalam jumlah anak yang buta menurut pendidikan (educationally blind).  Anak-anak ini, yang pada umumnya lahir prematur, pada awal masa bayinya mengembangkan satu kondisi yang pada saat itu dikenal dengan istilah “retrolental fibroplasia” (RLF) yang mengakibatkan ketunanetraan yang parah dan kadang-kadang disertai ketunaan lain yang terkait.  Pada mulanya penyebab kondisi tersebut hanya sedikit saja dimengerti, tetapi kemudian ditemukan bahwa kondisi tersebut terkait dengan cara-cara pemberian oxygen kepada bayi-bayi prematur.  Berkat perbaikan dalam cara pemberian oxygen kepada bayi-bayi prematur, kondisi tersebut sebagian besar dapat diatasi tetapi telah mewariskan sejumlah besar anak tunanetra di sekolah-sekolah berasrama pada tahun 1950-an dan 1960-an.

About these ads
Categories: Cerita-cerita Luar Biasa | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Oral Motor Disorders and Speech Clinic

Klinik Khusus Gangguan Oral Motor, Gangguan Bahasa dan Bicara Pada Anak. Ketrampilan berbahasa Adalah Investasi Kesuksesan Masa Depan Anak

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

@ernestprakasa

riveting roars of random rants

Dennysakrie63's Blog

Rumah Musik Denny Sakrie

Celotehan Calon Pengantin

ketika calon pengantin perempuan sedang bawel-bawelnya...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,105 other followers

%d bloggers like this: