Pengertian ADHD / Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Inatensi, impulsivitas, dan hiperaktif,  merupakan ciri utama anak ADHD. Dalam kenyataannya mereka lebih nampak sebagai anak yang hiperaktif, meskipun banyak pula yang ditemukan hanya mengalami kemunduran dalam pemusatan perhatian (Attention Deficit Disorders/ADD).  Hambatan yang dialami mengakibatkan anak sulit untuk mengendalikan diri, dan sulit menyesuaikan terhadap lingkungan sosialnya.

Lingkungan sampai saat ini diyakini sebagai sumber yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang.. Jika seseorang mengalami hambatan dalam penyesuaian sosial dan lingkungan,  orang tersebut akan mengalami hambatan dalam kegiatan belajarnya. Anak ADHD sebagai salah satu bagian dari anak berkebutuhan khusus mengalami hambatan dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya baik di sekolah maupun di lingkungan luar sekolah seperti di rumah.. Keadaan ini dipengaruhi oleh adanya hiperaktif dan tindakan-tindakan anak yang tanpa kontrol., bahkan hambatan inilah yang paling mengganggu pada anak ADHD dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan lingkungannya.

Kompleksnya masalah yang dialami anak ADHD tidak hanya mengakibatkan hambatan  dalam belajar tetapi juga dalam kehidupan lainnya  yang lebih luas.  Meskipun demikian, tidak berati anak ADHD tidak mempunyai potensi yang bisa dikembangkan. Mengingat bahwa hampir semua anak ADHD tergolong memiliki kemampuan rata-rata, bahakan ada yang di atas rata-rata. Kegagalan dalam belajar yang dialami anak lebih disebabkan karena terlamabatnya penangan dan tidak akuratnya pengelolaan  penanganan yang dilakukan..

Karena kemampuan dasar yang hampir sama dengan anak umumnya, tidak jarang anak ADHD ini sulit dibedakan dengan anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik yang disertai gangguan tingkah laku. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis yang cermat melalui asesmen yang holistik secara berkesinambungan dengan melibatkan orang tua dan guru. Pengeloalan yang terencana dengan desain penanganan yang komprehensif melibatkan ahli lain,  mereka  bisa berhasil mencapai prestasi akademik tertinggi seperti anak umumnya yang tidak ADHD.

Disinilah pentingnya dibangun kerja sama dan koordinasi  berbagai pihak yang terkait dalam upaya penangan anak. Oleh karena itu dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan tentang peran dan fungsi tim penanganan yang komprehensif. Selain itu dengan pemahaman tersebut para pendidik dan orang tua dapat melakukan intervensi sedini mungkin agar masalah yang dialami anak tidak semakin  kompleks.. Bab ini akan membahas hal-hal yang berhubungan dengan anak ADHD.

ADHD merupkan kependekan dari attention deficit hyperactivity disorder, (Attention = perhatian, Deficit = berkurang, Hyperactivity = hiperaktif, dan Disorder = gangguan). Atau dalam bahasa Indonesia, ADHD berarti gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif.

Sebelumnya, pernah ada istilah ADD, kependekan dari attention deficit disorder yang berarti gangguan pemusatan perhatian. Pada saat ditambahkan ‘hiper-activity/hiper-aktif’ penulisan istilahnya menjadi beragam. Ada yang ditulis ADHD, AD-HD, ada pula yang menulis ADD/H. Tetapi, sebenarnya dari tiga jenis penulisan istilah itu, maksudnya  sama.

Istilah  ini merupakan istilah yang sering muncul pada dunia medis yang belakangan ini gencar pula diperbincangkan dalam dunia pendidikan dan psikologi. lstilah ini memberikan gambaran tentang suatu kondisi medis yang disahkan secara internasional mencakup disfungsi otak, di mana individu mengalami kesulitan dalam mengendalikan impuls, menghambat perilaku, dan tidak mendukung rentang perhatian atau rentang perhatian mudah teralihkan. Jika hal ini terjadi pada seorang anak dapat menyebabkan berbagai kesulitan belajar, kesulitan berperilaku, kesulitan sosial, dan kesulitan-kesulitan lain yang kait-mengait.

Jadi, jika didefinisikan, secara umum ADHD menjelaskan kondisi anak-anak yang memperlihatkan simtom-simtom (ciri atau gejala) kurang konsentrasi, hiperaktif,dan impulsif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas hidup mereka.

Kenyataannya, ADHD ini tidak selalu disertai dengan gangguan hiperaktif. Oleh karena itu, makna istilah ADHD di Indonesia, lazimnya diterjemahkan menjadi Gangguan Pemusatan Perhatian dengan/tanpa Hiperaktif (GPP/H). Anak yang mengalami ADHD atau GPP/H kerap kali tumpang tindih dengan kondisi-kondisi lainnya, seperti disleksia (dyslexia), dispraksia (dyspraxsia), gangguan menentang dan melawan (oppositional defiant disorderlODD). Selanjutnya pada tulisan ini akan digunakan istilah ADHD.

Istilah ADHD  merupakan suatu kelainan perkembangan yang terjadi pada masa anak dan dapat berlangsung sampai masa remaja. Gangguan perkembangan tersebut berbentuk suatu spectrum, sehingga tingkat kesulitannya akan  berbeda dari satu anak dengan anak yang lainnya. Dalam kaitannya dengan pengertian ADHD ini, sekilas dapat dilihat dari perjalanan ditemukannya gangguan ini.

Istilah ADHD cenderung belum dikenal secara luas dan mungkin merupakan istilah baru, tetapi anak yang memperlihatkan perilaku over aktif dan tidak terkendali telah terjadi sejak lama. Pada 1845, Heinrich Hoffman, seorang neurolog,untuk pertama kalinya menulis mengenai perilaku yang kemudian dikenal dengan hiperaktif dalam buku ‘cerita anak’ karangannya.150 tahun berikutnya, kejadian perilaku serupa diperlihatkan oleh seorang anak di Chicago, namanya Dusty. Meskipun terpisah waktu selama 150 tahun, simtom atau ciri yang mereka perlihatkan adalah serupa, yaitu simtom primer ADHD. Ada tiga jenis simtom, yaitu anak tidak konsentrasi dengan ciri tidak fokus terhadap ajakan; hiperaktif dengan ciri tidak pernah mau diam alias terus bergerak; dan impulsif dengan ciri bertindak tanpa berpikir.

Dalam literatur lain dijelaskan, ADHD pertama kali ditemukan pada 1902 oleh seorang dokter Inggris, Profesor George F. Still, di dalam penelitiannya terhadap sekelompok anak yang menunjukkan suatu “ketidakmampuan abnormal untuk memusatkan perhatian, gelisah, dan resah’.” la menemukan, bahwa anak-anak tersebut memiliki kekurangan yang serius ‘dalam hal kemauan’ yang berasal dari bawaan biologis. Anggapannya, bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh sesuatu ‘di dalam’  diri anak dan bukan karena faktor-faktor lingkungan.

Pendapat lain menyatakan, bahwa ADHD disebabkan oleh epidemi encephalitis (peradangan otak) yang menyebar ke seluruh dunia yang terjadi sejak 1917-1926. Bagi banyak anak yang bertahan hidup, hal itu dapat menimbulkan berbagai masalah perilaku, termasuk mudah marah, perhatian yang lemah,dan hiperaktif. Anak-anak yang mengalami trauma kelahiran, luka di bagian otak, atau mengalami keracunan memperlihatkan masalah tingkah lakua yang diberi nama ‘brain injured child syndrome’ yang terkadang dikaitkan dengan terbelakang mental.

Tahun 40 dan 50-an, label ini diterapkan untuk anak-anak yang memperlihatkan perilaku serupa, tetapi pada diri mereka tidak ditemukan kerusakan otak,dan memunculkan istilah ‘minimal brain damage’ disingkat MBD atau ‘kerusakan otak minimal’ dan‘minimal brain dysfunction’ atau ‘disfungsi minimal otak’ disingkat DMO (Strauss dan Lehtinen, 1986). Istilah-istilah ini membuka jalan bagi orang-orang untuk menandai masalah tingkah laku yang disebabkan oleh kerusakan fisik (Schachar, 1986).Meskipun luka otak tertentu dapat menjelaskan beberapa kasus ADHD, teori kerusakan otak ternyata tidak banyak diterima karena hanya dapat menjelaskan sedikit kasus (Rie, 1980).

Anggapan ini mendapat dukungan lebih jauh dari penemuan yang

dilakukan oleh Bradley pada 1937,bahwa psycho stimulan amphetamine dapat mengurangi tingkat hiperaktivitas dan masalah perilaku. Akibatnya, istilah ‘kerusakan otak minimal’ atau ‘disfungsi otak minimal’ (minimal brain dysfunction) hanya digunakan sampai akhir tahun 50-an. Dalam hal ini, tekanan bergeser dari etiologi menuju ungkapan perilaku, dan hiperaktivitas menjadi ciri yang menentukan. Proses menganalisis gejala-gejalanya sebagai cara menjelaskan sindrom tersebut diperkuat oleh sejumlah peneliti yang berpengaruh. Mereka menganggap bahwa ‘perhatian’ menjadi ciri kunci kondisi ADHD tersebut, bukan hiperaktivitas. Akibatnya, ‘perhatian’ menjadi kata kuncinya.

Di akhir tahun 50-an itulah, ADHD disebut hiperkinesis yang biasanya ditujukan terhadap lemahnya penyaringan stimuli (rangsang) yang masuk ke dalam otak (Laufer,Denhoff,dan Solomons,1957). Pandangan ini membawa pada definisi sindrom anak hiperaktif, dimana gerak yang berlebih digambarkan sebagai ciri utama ADHD (Chess, 1960). Namun, tidak lama berselang, bahwa hiperaktif bukanlah satu-satunya masalah, yaitu kegagalan anak mengatur aktivitas gerak yang selaras dengan situasi.

Tahun 70-an, ada pendapat bahwa selain hiperaktif, rendahnya perhatian dan kontrol gerak juga merupakan simtom utama ADHD (Douglas, 1972).Teori ini banyak diterima dan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap Diagnostic and Statistical Manual (DSM) dalam menggunakan definisi ADHD. Belakangan, simtom-simtom pengaturan diri yang lemah dan mengalami kesulitan karena perilaku yang terhambat menjadi fokus kajian sebagai penyebab utama yang memperparah kerusakan otak (Barkley, 1997a; Douglas,1999; dan Nigg, 2001).

Meskipun ada kesepakatan yang semakin kuat mengenai sifat ADHD, namun beberapa pandangan terus berusaha mendapatkan penemuan-­penemuan dan melakukan penelitian terbaru (Barkley, dkk., 2002 dan Nigg, 2003). Dalam perkembangannya, setelah dilakukan usaha untuk merumuskan kembali ADHD yang berulang-ulang sampai menghasilkan klasifikasi ragam gangguan, sekarang dapat dibaca pada edisi keempat (edisi terakhir) dari American PsychiatricAssociation (DSM IV) yang terbit pada 1994 dan revisi terakhir pada tahun 2005.

 

Sumber:

Taylor, E.  (1988).  Anak yang Hiperaktif.  Jakarta: Gramedia

MIF Baihaqi & M.Sugiarmin (2006). Memahami dan Membantu Anak ADHD. Bandung: Refika Aditama

M. Sugiarmin (2005). Terapi Psikoedukatif bagi anak GPPH dan Kesulitan Belajar.Makalah Seminar,Bandung

American Psychiatric Assosiations (2005). Diagnostic and  Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV). Washington, DC. American Psychiatric Associations.

Alberto, P. A,.  & Anne, C.  A,.  (1986).  Applied Behavior Analysis for Teachers.  Ohio:  Merrill Publishing Company.

Grad, L.  Flick.  (1998).  ADD/ADHD Behavior-change Resource Kit.  New York: The Center for Applied Research in Education.

Indira, L.  G.  (1997).  Pengalaman Upaya Penanganan Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian di PPPTKA.  Yogyakarta.

Ingersoll, B.  D., & Sam, G.  (1993).  Attentian Deficit Disorder and Learning Disabilities.  New York:  Doubleday.

Categories: ADD / ADHD | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Pengertian ADHD / Attention Deficit Hyperactivity Disorder

  1. andri

    tengkyu min.
    trus klo buat asessment ny mulai dari apa dlu y?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Proudly powered by WordPress Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Oral Motor Disorders and Speech Clinic

Klinik Khusus Gangguan Oral Motor, Gangguan Bahasa dan Bicara Pada Anak. Ketrampilan berbahasa Adalah Investasi Kesuksesan Masa Depan Anak

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

@ernestprakasa

riveting roars of random rants

Dennysakrie63's Blog

Rumah Musik Denny Sakrie

Celotehan Calon Pengantin

ketika calon pengantin perempuan sedang bawel-bawelnya...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,108 other followers

%d bloggers like this: