Tunanetra

Postingan kali ini kami akan coba paparkan mengenai anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan penglihatan atau lebih mudah dikenal dengan sebutan tunanetra. Semoga bermanfaat.

Mata merupakan salah satu organ yang penting bagi kehidupan manusia. Organ mata memiliki cara kerja yang sangat kompleks dan fungsi utamanya adalah  untuk mengubah sinar yang masuk menjadi impuls listrik yang membawa informasi kepada otak. Berdasarkan fungsi utama itu, secara khusus mata memilki lima fungsi khusus, yaitu:

  1. Penglihatan sentral (central vision) yang berfungsi untuk melihat atau mempersepsi (perception) dan membedakan (dicrimination) bentuk-bentuk suatu obyek. Kemampuan seseorang dalam menggunakan penglihatan sentral ini dikenal dengan istilah ketajaman penglihatan atau visus.
  2. Akomodasi (accommodation) yang berfungsi untuk menyesuaikan fokus ketika mata melihat suatu obyek pada jarak tertentu (jauh atau dekat).
  3. Penglihatan binokuler (binocular vision) yang berfungsi untuk mengkoordinasi kedua mata pada waktu melihat suatu obyek sehingga mata melihat obyek yang tunggal.
  4. Penglihatan warna (color vision) yang berfungsi ketika seseorang melihat atau mmpersepsi warna suatu obyek.
  5. Penglihatan periperal (peripheral vision) yang berfungsi untuk melihat obyek yang ada di sekitar lantang pandangan (visual field). Kemampuan penglihatan periperal ini diyatakan dalam bentut sudut (derajat).

 

Jika seseorang mengalami kerusakan atau gangguan pada salah satu atau lebih dari empat fungsi tersebut keadaan ini secara umum disebut tunanetra. Terminlogi yang digunakan untuk menggambarkan  seseorang yang mengalami gangguan penglihatan telah berubah dari waktu ke waktu. Dahulu semua orang yang mengalami gangguan penglihatan disebut buta (blind), tetapi kemudia, dalam bahasa Indonesia  ada istilah tunanetra, dan kurang lihat. Dalam bahasa Inggris istilah yang terkait dengan kerusakan penglihatan yang laian adalah, visually handicapped, visual impairment, partially sigted, dan  low vision.

Di Indonesia, sebelum istilah tunanetra digunakan secara meluas, untuk menggambarkan keadaan seseorang yang mengalamai kerusakan penglihatan digunakan istilah ”buta”. Istilah buta ini kemudian dianggap terlalu kasar dan menimbulkan efek psikologis yang negatif bagi penyandangnya. Oleh karena itu, kemudian diperkenalkan istilah baru yang dianggap lebih halus, yaitu ”tunanetra”. Istilah tunanetra berasal dari dua kata bahasa Jawa, yaitu tuna  berarti rugi dan netra berarti mata. Berdasarkan konteks tersebut, maka istilah buta dapat digantikan dengan tunanetra. Di luar konteks tersebut ada  istilah lain yang juga sering digunakan, yaitu ”cacat netra”. Di samping itu, istilah buta masih dipergunakan  secara terbatas untuk kepentingan klasifikasi berdasarkan tingkat kerusakan penglihatan. Hal ini digunakan untuk menunjukkan keadaan seseorang yang mengalami ketunanetraan tanpa memiliki sisa penglhatan sama sekali yang didebut dengan ”tunanetra total” atau ”buta”. Penggunaan istilah yang satu secara umum sering dianggap sama dengan penggunaan istilah yang lain. Meskipun demikian, untuk keperluan yang berbeda penggunaan istilah tertentu memiliki pengertian atau magna yang berbeda pula.

Untuk memberikan pengertian atau batasan tunanetra dapat menggunakan sudut pandang yang berbeda. Pada tulisan ini hanya akan dibahas batasan tunenetra dilihat dari sudut pandang medis dan pendidikan. Batasan tunetra dalam bidang medis didasarkan pada tingkat ketajaman penglihatan (visus) dan lantang pandangan (visual field). Secara sederhana ketajaman penglihatan atau visus adalah kemampuan sesorang untuk melihat detail suatu obyek. Secara teknis visus merupakan kemampuan sesorang  untuk melihat dua titik yang terdekat sehingga dua titik tersebut masih tetap dilihat sebagai dua titik. Pada seseorang yang visusnya tidak normal, dua titik yang dapat dilihat oleh orang normal pada jarak tertentu dianggapnya sebagai satu titik. Untuk mengukur ketajaman penglihatan atau visus biasanya digunakan Snellen Chart (kartu Snellen).

Snellen Chart terdiri huruf-huruf atau gambar yang disusun menjadi beberapa baris yang masing-masing meiliki ukuran berbeda. Setiap baris huruf atau gambar dengan ukuran tertentu dapat dilihat dengan jelas oleh orang normal pada jarak tertentu, misalnya 60, 30, 21, 15, 12, 9 atau 6 meter. Ukuran huruf atau gambar yamg paling besar pada Snellen Chart terdapat di baris paling atas dengan nomor 60, artinya huruf atau gambar tersebut dapat dilihat oleh orang normal pada jarak 60 meter. Jika seseorang tidak dapat melihat huruf atau gambar tersebut pada jarak 60 meter maka orang tersebut dikatakan memiliki visus 6/60.

Lantang pandangan (visual field) merupakan area yang dapat dilihat oleh seseorang ke arah atas – bawah dan samping kanan-kiri tanpa harus melirik kekanan atau kekiri dengan tetap pandangannya ke arah depan secara lurus. Pada orang normal, lantang  pandangan ke arah atas kira-kira 50 derajad, ke arah  bawah 70 derajad, ke arah samping dalam 60 derajad, dan ke arah samping luar 90 derajad. Berdasarkan ketajaman penglihatan dan lantang pandangan inilah batasan ketunanetraan pada segi medis diberikan.

Seseorang yang memiliki ketajaman penglihatan (visus) 6/60  atau kurang tergolong buta.  Sedangkan yang memiliki visus antara 6/12 tergolong low vision. Meskipun seseorang memiliki ketajaman penglihatan normal tetapi lantang pandangannya kurang dari 20 derajat juga tergolong buta.

Karena difinisi medis ini semata-mata didasarkan pada ketajaman penglihatan, sering ditemukan seseorang yang memiliki ketajaman penglihatan sama tetapi kemampuan penggunaan penglihatannya berbeda. Di samping itu, berdasarkan data statistik bahwa seseorang yang digolongkan buta  keadaan penglihatannya sangat beragam .

Dalam dunia  pendidikan batasan tunanetra diberikan atas dasar seberapa banyak penglihatan masih dapat digunakan secara riil, karena seseorang yang memilki ketajaman penglihatan  yang sama fungsi penglihatan dapat berbeda-beda. Misalnya, sama-sama memiliki ketajaman penglihatan 6/12 tetapi yang satu dapat membaca huruf  cetak dengan ukuran lebih kecil dan yang lain perlu dicetak lebih besar atau memerlukan kekontrasan yang berbeda.

Mendefinisikan ketunanetraan dari sudat pandang pendidikan, yang paling populer adalah definisi yang diberikan oleh Barraga. Tunanetra (visually handicapped) adalah sekelompok anak yang memerlukan layanan pendidikan khusus karena ada masalah pada penglihatannya. Dalam kelompok anak  tunanetra ini dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu buta (blind), kurang lihat (low vision), dan penglihatan terbatas (visually limited) (Haring, 1982).

Buta (blind), istilah ini digunakan untuk menunjuk seseorang yang tanpa penglihatan sama sekali atau tidak memiliki penglihatan sama sekali tetapi mungkin saja masih masih memiliki persepsi cahaya, yaitu masih dapat membedakan ada dan tidaknya cahaya. Dari sudut pandang pendidikan, seseorang yang buta belajar dengan menggunakan huruf Braille atau media yang tidak menggunakan penglihatan, meskipun ia masih merasakan adanta sinar dan menggunakannya untuk kepentingan orientasi dan mobilitas.

Kurang lihat (low vision), mereka yang memiliki keterbatasan dalam melihat pada jarak yang jauh tetapi mampu melihat obyek pada jarak tertentu. Seseorang yang low vision harus menggantungkan pada indera selain mata untuk memperoleh informasi karena penglihatannya berfungsi hanya untuk melihat benda dengan jarak yang dekat dengan tangannya.

Penglihatan terbatas (visually limited), seseorang yang memiliki maslah penglihatan ketika melihat benda dalam kondisi pada umumnya. Mereka mengalami kesulitan untuk melihat materi pelajaran tanpa pencahayaan yang khusus atau tidak dapat melihat benda kecuali benda tersebut bergerak atau mereka memerlukan lensa atau alat bantu optik dan alat khusus untuk memfungsikan penglihatannya.

Penjelasan di atas dapat dirangkum secara singkat sebagai berikut. Seseorang yang belajar dengan menggunakan indera perabaan dan pendengaran digolongkan sebagai buta. Sedangkan seseorang yang masih mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca meskipun dengan tulisan yang diperbesar (diadaptasi) mereka digolongkan sebagai low vision. Seseorang yang masih mampu menggunakan penglihatannya tetapi mengalami gangguan pada situasi tertentu tergolong sebagai limited vision.

 

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Salam Luar Biasa.

Categories: Tunanetra | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

@ernestprakasa

riveting roars of random rants

Dennysakrie63's Blog

Rumah Musik Denny Sakrie

Celotehan Calon Pengantin

ketika calon pengantin perempuan sedang bawel-bawelnya...

Sahabat Kota

belajar, bermain, dan bertualang

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,103 other followers

%d bloggers like this: