Karakteristik Anak Berkesulitan Belajar

Pagi ini kami akan coba share lanjutan dari posting sebelumnya yang membahasa pengertian anak berkesulitan belajar, kali ini kami akan melanjutkan dengan bahasan karakteristik anak berkesulitan belajar. Di dalam tulisan ini akan coba kami paparkan 3 kesulitan belajar yang biasanya dialami oleh anak, dan menjadikan dia berkebutuhan khusus. Bahasannya adalah mengenai karakteristik membaca, menulis, dan kemampuan berhitung (matematika). Singkatnya yang coba kami bahasa pagi ini adalah mengenai calistung.

1. karakteristik Menulis

a. Karakteristik Menulis Dengan Tangan atau Menulis Permulaan.

Prasyarat seorang anak dapat masuk sekolah adalah menulis tangan. Prasyarat tersebut diperuntukkan untuk permulaan guru dan murid dalam belajar. Menurut Lerner (Mulyono Abdurrahman, 2003:227) beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan anak dalam menulis :

  •   Motorik
  •   Perilaku
  •   Persepsi
  •   Memori
  •   Kemampuan melaksanakan cross modal
  •   Penggunaan tangan yang dominan
  •   Kemampuan yang memahami instruksi

Pengaruh perkembangan motorik yang belum matang anak akan kesulitan dalam menulis perilaku anak yang perhatian mudah teralihkan dapat menyebabkan pekerjaannya terhambat. Jika, persepsi visual terganggu maka anak akan sulit membedakan bentuk-bentuk huruf yang hampir sama. Apabila persepsi auditorisnya terganggu maka anak akan mengalami kesulitan dalam menulis kata yang diucapkan oleh guru. Selain itu, apabila memori visual dan auditoris terganggu maka anak akan mengalami kesulitan dalam mengingat huruf dan kesulitan menulis.

Ciri-ciri anak yang mengalami belajar menulis ada empat macam, yaitu :

  • Sudut pensil terlalu besar
  • Sudut pensil terlalu kecil
  • Menggenggam pensil seperti mau meninju
  • Menyangkutkan pensil ditangan atau menyeret

b. Mengeja

Menurut Lernen (Mulyono Abdurahman 2003:230), ada dua cara untuk mengajarkan mengeja, yaitu :

  1. Mengeja melalui pendekatan linguistik
  2. mengeja melalui pendekatan kata-kata

Pendekatan linguistikyaitu menekankan pada aturan-aturan sehingga harus memperhatikan fonologi, morfologi dan sintaktis atau pola-pola kata. Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai anak yang mampu mengeja huruf-huruf dari suatu kata tetapi tidak mampu membaca rangkaian huruf yang membentuk kata. Jadi anak itu tergolong kesulitan mengeja dan kesulitan belajar.

c. Menulis Ekspresif

Menulis ekspresif disebut juga mengarang atau komposisi (Mulyono Abdurahman, 2003:231) untuk dapat menulis ekspresif anak harus memiliki kemampuan berbahasa ujaran, membaca, mengeja,menulis, dengan jelas dan memahami aturan jenis tulisan. Menurut Roit dan McKeinze yang dikutip Lovitt (Mulyono Abdurahman, 2003:231), ada tiga alasan yang menyebabkan kesulitan menulis ekspresif, yaitu :

  1. Pendekatan analisis
  2. Tidak mendapat kesempatan menulis secara ekspresif
  3. Kurang memiliki keterampilan metakognitif

 

2. Karakteristik berhitung

Menurut Lerner (Mulyono Abdurahman 2003:259) ada beberapa karakteristik  anak berkesulitan belajar berhitung yaitu :

  1. Adanya gangguan dalam hubungan keruangan

Adanya kondisi intrinsik diduga karena disfungsi otak dan kondisi ekstrinsik lingkungan sosial yang tidak menunjang terjadinya komunikasi. Ada empat konsep yang harus dikuasai oleh ketika anak masuk SD :

  • 1. Konsep keruangan
  • 2. Konsep waktu
  • 3. Konsep kuantitas
  • 4. Konsep serbaneka (miscallaneous)

2.   Abnormalitas persepsi visual

Anak berkesulitan dalam melihat berbagai objek dalam hubungannya dengan kelompok atau set. Selain itu, anak sering juga tidak mampu membedakan bentuk-bentuk.

  • Asosiasi visual motor

Anak yang hanya bisa menghafal tanpa bisa memahaminya.

  • Perseverasi

Anak yang perhatiannya hanya dapat melekat pada satu objek saja dalam jangka waktu yang lama.

  • Kesulitan mengenal dan memahami simbol

Anak sering mengalami kesulitan dalam mengenal dan menggunakan simbol-simbol matematika seperti + , – , <,  >, dan sebagainya. Kesulitan semacam ini disebabkan oleh terganggunya perspsi visual.

  • Gangguan penghayatan tubuh

Anak merasa sulit memahami untuk memahami hubungan bagian-bagian dari tubuhnya sendiri. Ketika anak dimnta untuk menggambar tubuh orang misalnya, mereka akan menggambar tubuh yang tidak lengkap atau menempatkan bagian tubuh pada posisi yang salah. Contohnya : tangan diletakan di kepala.

  • Kesulitan dalam bahasa dan membaca

Matematika itu sendiri hakikatnya adalah bahasa simbolis (Johnson& Myklebust, 1967:224) dalam pendidikan Mulyono Abdurrahman. Oleh karena itu, kesulitan belajar bahasa dapat berpengaruh terhadap kemampuan anak di bidang matematika. Matematika dalam bentuk soal cerita menuntut kemampuan membaca untuk memecahkan masalahnya. Oleh karena itu, anak yang mengalami kesulitan membaca akan mengalami kesulitan pula dalam memecahkan soal matematika yang berbentuk cerita tertulis.

  • Skor IQ jauh lebih rendah dari VIQ

Hasil tes intelegensi dengan menggunakan WISC (Weschler Intelligence Scale for Children) menunjukan bahwa anak berkesulitan belajar memiliki skor PIQ (Performance Intelligence Quotient) yang jauh lebih rendah dibandingka VIQ (Verbal Intelligence Quotient). Tes intelegensi ini memiliki dua subtes, yaitu : tes verbal dan performance. Tes  verbal mencakup (1) Informasi, (2) Persamaan, (3) Aritmatika, (4) Pembendaharaan Kata, (5) Pemahaman. Subtes Performance mencakup (1) Melengkapi Gambar, (2) Menyusun Balok, (3) Menyusun Balok, (4) Menyusun Objek, (5) Coding (Anastasi, 1982:252). Rendahnya skor PIQ pada anak berkesulitan belajar tampaknya terkait dengan kesulitan memahami konsep keruangan, gangguan persepsi visual, dan adanya gangguan asosiasi visual-motor.

 

3. Karakteristik Membaca

Menurut Mercer (Mulyono Abdurrahman, 2003:204) ada empat karakteristik kesulitan belajar membaca yaitu berkenaan dengan (1) Kebiasaan membaca, (2) Kekeliruan mengenal kata, (3) Kekeliruan pemahaman, dan (4) Gejala-gejala serbaaneka.

Anak berkesulitan belajar membaca sering memperlihatkan, kebiasaan membaca yang tidak wajar seperti, mengernyitkan kening, gelisah, irama, suara meninggi, dan menggigit bibir. Mereka juga sering memperlihatkan adanya perasaan tidak aman yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau melawan guru. Ketika membaca mereka sering kehilangan jejak, sehingga sering terjadi pengulangan atau ada baris yang terlompat sehingga tidak dibaca. Mereka juga sering memperlihatkan adanya gerakan kepala ke arah lateral, ke kiri atau ke kanan. Anak berkesulitan belajar membaca juga sering memegang buku bacaan yang terlalu menyimpang dari kebiasaan, anak normal, yaitu jarak antara mata dan buku bacaan kurang dari 15 inci (kurang-lebih 37,5 cm).

Anak berkesulitan belajar membaca sering mengalami kekeliruan dalam mengenal kata. Kekeliruan jenis ini mencakup penghilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak.

Kekeliruan mengenai pemahaman bacaan, lebih banyak tampak pada banyaknya ia menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan, mengemukakan urutan isi bacaan, dan pemahaman akan tema bacaan. Sedangkan, gejala serbaaneka adalah membaca kata demi kata, membaca dengan nada tinggi.

Menurut Myklebust dan Jhonson seperti dikutip Poteet (Mulyono Abdurrahman 2003:205) mengemukakan ciri anak berkesulitan belajar, adalah :

  1. Mengalami kekurangan dalam memori visual dan auditoris, kekurangan dalam memori jangka pendek dan jangka panjang.
  2. Memiliki masalah dalam mengingat data seperti, mengingat hari-hari dalam seminggu.
  3. Memiliki maalah dalam mengenal arah kiri dan kanan.
  4. Memiliki keruangan dalam memahami waktu.
  5. Memiliki masalah dalam mengenal arah kiri dan kanan.
  6. Miskin dalam mengeja.
  7. Sulit dalam menginterpretasikan globe, peta, atau grafik.
  8. Kekurangan dalam koordinasi dan kesimbangan.
  9. Kesulitan dalam belajar berhitung
  10. Kesulitan dalam belajar bahasa asing.

Menurut Vennon yang dikutip oleh Hangrove dan Poteet (Mulyono Abdurrahman 2003:206) mengemukakan perilaku anak berkesulitan belajar, yaitu:

  1. Memiliki kekurangan dalam diskriminasi penglihatan.
  2. Tidak mampu menganalisis kata-kata menjadi huruf.
  3. Memiliki kekurangan dalam memori visual.
  4. Memiliki kekurangan dalam melakukan diskriminasi auditoris.
  5. Tidak mampu memahami simbol bunyi.
  6. Kurang mampu mengintegrasikan penglihatan dan pendengaran.
  7. Kesulitan dalam mempelajari asosiasi simbol-simbol ireguler (khusus yang berbahasa Inggris).
  8. Kesulitan dalam mengurutkan kata-kata dan huruf.
  9. Membaca kata demi kata.
  10. Kurang memiliki kemampuan dalam berpikir konseptual.
Categories: Anak dengan kesulitan belajar | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Klinik Gangguan Bicara dan Oral motor

Informasi, Edukasi dan Konsultasi Online Gangguan Bicara dan Gangguan Oral Motor

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

@ernestprakasa

riveting roars of random rants

Dennysakrie63's Blog

Rumah Musik Denny Sakrie

Celotehan Calon Pengantin

ketika calon pengantin perempuan sedang bawel-bawelnya...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,112 other followers

%d bloggers like this: